Teks Doa Kumail
> وَكَمْ مِنْ ثَنَاءٍ جَمِيلٍ لَسْتُ أَهْلًا لَهُ نَشَرْتَهُ
Wa kam min thanā’in jamīlin lastu ahlan lahu nasyartahu.
“Dan betapa banyak pujian indah yang sebenarnya tidak layak kuterima telah Engkau sebarkan.”
Penggalan ini terdapat dalam redaksi Doa Kumail yang dimuat Syekh ath-Thusi dalam Mishbāḥ al-Mutahajjid.
Tema utama
Nama baik tidak selalu merupakan gambaran lengkap tentang diri kita. Terkadang ia adalah karunia Allah yang menutupi kekurangan sekaligus amanah untuk memperbaiki diri.
Manusia menilai berdasarkan apa yang terlihat. Allah mengetahui niat yang tersembunyi, perjuangan yang belum selesai, amal yang tercampur riya, dan kesalahan yang tidak diketahui siapa pun.
Karena itu, pujian seharusnya tidak membuat manusia merasa telah mencapai kedudukan yang disebutkan orang lain. Ia justru mengingatkan bahwa Allah telah menyebarkan kebaikan tentang dirinya sambil menutupi banyak hal yang dapat menjatuhkannya.
Ayat Al-Qur’an
- QS Ali ‘Imran 3:188
> وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا
“Mereka senang dipuji atas sesuatu yang tidak mereka kerjakan.”
Al-Qur’an tidak mencela seluruh pujian. Yang dicela adalah kegembiraan menerima penghormatan atas kebaikan yang tidak dilakukan atau kualitas yang sebenarnya tidak dimiliki.
- QS An-Najm 53:32
> فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”
Penilaian terakhir tentang kesucian hati bukan berada di tangan manusia—bahkan bukan di tangan diri kita sendiri. Allah mengetahui apa yang tersembunyi di balik amal dan penampilan.
- QS Asy-Syu‘ara 26:84
> وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ
“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian.”
Nabi Ibrahim as memohon nama baik yang benar—lisāna ṣidq. Jadi, reputasi baik bukan sesuatu yang harus ditolak. Yang harus ditolak ialah reputasi yang dinikmati tanpa tanggung jawab untuk menjadi lebih baik.
Doa Ahlul Bait
Dalam Doa Makārim al-Akhlāq, yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as, disebutkan:
> اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، وَلَا تَرْفَعْنِي فِي النَّاسِ دَرَجَةً إِلَّا حَطَطْتَنِي عِنْدَ نَفْسِي مِثْلَهَا، وَلَا تُحْدِثْ لِي عِزًّا ظَاهِرًا إِلَّا أَحْدَثْتَ لِي ذِلَّةً بَاطِنَةً عِنْدَ نَفْسِي بِقَدَرِهَا
“Ya Allah, janganlah Engkau meninggikan kedudukanku di tengah manusia kecuali Engkau merendahkanku dalam pandanganku terhadap diriku sendiri sebesar itu pula. Janganlah Engkau menghadirkan kemuliaan lahiriah bagiku kecuali Engkau menghadirkan kerendahan batin dalam diriku dengan kadar yang sama.”
Semakin tinggi seseorang ditempatkan manusia, semakin besar kebutuhan untuk memeriksa dirinya di hadapan Allah.
Catatan: Teks ini berasal dari Doa ke-20 Ash-Shahifah as-Sajjadiyyah, yang secara masyhur dinisbatkan kepada Imam Zainal Abidin as.
Kerangka pembahasan
- Jarak antara citra di hadapan manusia dan kenyataan di hadapan Allah.
- Nama baik dapat menjadi bentuk satr—ditutupinya kekurangan.
- Pujian tidak selalu tercela, tetapi dapat berubah menjadi ujian.
- Bahaya menikmati pujian atas kebaikan yang tidak dilakukan.
- Pujian harus diterima sebagai amanah untuk memperbaiki diri.
- Semakin tinggi penghormatan manusia, semakin dalam kerendahan hati kepada Allah.
Pembuka syarah
Reputasi adalah cerita tentang diri kita yang hidup di dalam pikiran orang lain.
Mereka melihat beberapa kebaikan, mendengar beberapa perkataan, lalu menyusun gambaran tentang siapa kita. Namun mereka tidak mengetahui seluruh perjalanan batin kita. Mereka tidak melihat kelalaian yang disembunyikan, niat yang belum sepenuhnya bersih, dan perjuangan melawan diri yang berkali-kali kalah.
Kemudian mereka memuji.
Pada saat itulah Doa Kumail mengajarkan pengakuan yang sangat jujur:
> “Betapa banyak pujian indah yang sebenarnya tidak layak kuterima telah Engkau sebarkan.”
Seorang hamba tidak berkata bahwa seluruh pujian manusia adalah dusta. Ia menyadari bahwa pujian itu belum menceritakan dirinya secara lengkap.
Mungkin manusia mengenalnya karena satu kebaikan, sedangkan Allah mengetahui seratus kesempatan ketika ia gagal berbuat baik. Manusia mengagumi kata-katanya, sedangkan Allah mengetahui betapa sulitnya ia mengamalkan kata-kata tersebut.
Karena itu, pujian bukan bukti bahwa perjalanan telah selesai.
Ia dapat menjadi kesempatan yang Allah berikan agar manusia tumbuh menuju kebaikan yang telah lebih dahulu dilekatkan pada namanya.
Nama baik adalah pakaian yang Allah pinjamkan. Jangan sampai kita sibuk memperindah pakaian itu sementara jiwa yang berada di dalamnya dibiarkan membusuk.
Ketika dipuji, seorang hamba tidak perlu mempertontonkan kerendahan hati palsu. Ia cukup mengetahui bahwa pujian tersebut adalah amanah. Jika pujian itu benar, ia bersyukur. Jika berlebihan, ia memohon ampun. Jika menyebut kualitas yang belum dimilikinya, ia berusaha menjadi pantas.
Sebab yang paling berbahaya bukan pujian manusia.
Yang paling berbahaya adalah ketika kita mulai mempercayai bahwa pujian itu telah menceritakan seluruh diri kita.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19c9ewbbZr/

