Kufah mengenal suaranya.
Namanya al-Najasyi al-Haritsi—seorang penyair bernama Qais bin Amr. Bukan raja Habasyah yang dahulu melindungi kaum Muslimin, melainkan seorang penyair terkemuka yang berdiri di pihak Imam Ali.
Pada masa ketika belum ada surat kabar, radio, atau panggung-panggung politik, penyair adalah kekuatan besar. Sebait syair dapat mengangkat keberanian sebuah pasukan, mengguncang kehormatan sebuah kabilah, dan menyebar lebih cepat daripada derap pasukan berkuda.
Di medan Shiffin, al-Najasyi menggunakan kekuatan itu untuk membela Imam Ali. Syair-syairnya menyerang kubu Muawiyah dan mengobarkan semangat pasukan Irak.
Ia bukan orang asing.
Ia bukan lawan politik.
Ia adalah penyair Ali sendiri.
Namun kemudian datanglah suatu hari di bulan Ramadan.
Kufah sedang berpuasa. Pasar berjalan lebih tenang. Bibir-bibir mengering menahan dahaga. Bahkan anak-anak mulai belajar menghormati bulan yang dimuliakan Allah.
Di tengah suasana itu, tersebar kabar yang mengejutkan:
Al-Najasyi meminum khamar.
Bukan pada malam hari setelah berbuka.
Ia meminumnya pada siang bulan Ramadan.
Kabar itu akhirnya sampai kepada Imam Ali.
Orang-orang menunggu sikap beliau. Yang melakukan pelanggaran bukanlah rakyat biasa yang tidak dikenal. Ia seorang penyair besar yang suaranya dibutuhkan dalam pertarungan politik melawan Syam.
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa perkara itu sebaiknya diselesaikan diam-diam. Bukankah al-Najasyi telah berjasa? Bukankah syairnya telah membela Imam? Bukankah menghukumnya dapat membuat kabilahnya tersinggung dan memberi keuntungan kepada Muawiyah?
Namun mereka sedang berhadapan dengan Ali bin Abi Thalib.
Di hadapan Ali, hukum tidak bertanya:
“Apakah ia orang kita?”
Hukum bertanya:
“Apa yang telah dilakukannya?”
Al-Najasyi dibawa menghadap.
Dalam salah satu jalur riwayat disebutkan bahwa ia dibawa dalam keadaan mabuk. Imam Ali tidak menghukumnya ketika kesadarannya masih hilang. Beliau menunggu sampai pengaruh khamar itu lenyap, agar orang yang dihukum memahami perbuatannya dan mengetahui alasan hukuman dijatuhkan.
Setelah pelanggarannya terbukti, Imam Ali memerintahkan hukuman delapan puluh cambukan.
Tidak ada pengurangan karena jasanya.
Tidak ada penundaan karena kedudukannya.
Tidak ada pintu belakang bagi orang yang pernah menulis pujian untuk penguasa.
Delapan puluh cambukan dilaksanakan.
Setelah itu, al-Najasyi ditahan selama satu malam.
Ia mungkin mengira semuanya telah selesai. Hukuman meminum khamar telah diterimanya. Utang pelanggarannya telah dibayar.
Namun keesokan harinya, Imam Ali memerintahkannya dibawa kembali.
Suasana mendadak sunyi.
Imam kemudian memerintahkan dua puluh cambukan tambahan.
Al-Najasyi terkejut. Setelah hukuman itu dilaksanakan, ia memberanikan diri bertanya:
“Wahai Amirul Mukminin, delapan puluh cambukan telah engkau jatuhkan kepadaku karena meminum khamar. Lalu untuk apakah dua puluh cambukan ini?”
Imam Ali menjawab:
“Dua puluh ini karena keberanianmu melanggar kehormatan Allah dan berbuka pada bulan Ramadan.”
Selesai.
Tidak ada kemarahan pribadi dalam keputusan itu. Tidak ada dendam. Delapan puluh cambukan dijatuhkan karena khamar, sedangkan dua puluh tambahan merupakan hukuman atas keberaniannya merusak kehormatan bulan Ramadan.
Al-Najasyi mungkin mengira syair-syairnya akan berbicara untuknya.
Namun di hadapan Ali, keadilan tidak dapat disuap dengan pujian.
Ia mungkin merasa telah berjasa kepada pemerintahan Ali.
Namun jasa masa lalu tidak dapat dibayarkan untuk membeli kekebalan pada masa kini.
Inilah ujian terbesar seorang penguasa.
Menjatuhkan hukuman kepada musuh sangat mudah. Seorang penguasa bahkan dapat menyebut dendamnya sebagai keadilan. Namun menjatuhkan hukum kepada pendukung sendiri—kepada orang yang suaranya dibutuhkan, kepada orang yang kepergiannya dapat merugikan kekuasaan—di situlah keadilan benar-benar diuji.
Imam Ali mengetahui akibat politik keputusan tersebut.
Beliau tahu bahwa al-Najasyi memiliki pengaruh. Beliau tahu bahwa kabilahnya mungkin tersinggung. Beliau juga tahu bahwa Muawiyah selalu menunggu setiap orang yang kecewa kepada pemerintahan Kufah.
Seorang politikus biasa mungkin akan berkata:
“Maafkan dia. Kita masih membutuhkan syairnya.”
Ali tidak berkata demikian.
Baginya, kemenangan yang dibeli dengan penghancuran hukum bukanlah kemenangan. Pemerintahan yang mempertahankan pendukung dengan mengorbankan keadilan sedang menggali kuburnya sendiri.
Riwayat sejarah selanjutnya menyebutkan bahwa al-Najasyi marah. Ia meninggalkan Kufah, bergabung dengan Muawiyah, lalu menggunakan syairnya untuk menyerang Imam Ali.
Ali kehilangan seorang penyair.
Muawiyah memperoleh seorang pembela baru.
Namun Imam Ali tidak mengubah keputusannya.
Ia tidak mengutus seseorang untuk membujuk al-Najasyi pulang. Ia tidak meminta maaf karena telah menjalankan hukum. Ia juga tidak menyesali keadilan hanya karena keadilan itu membuat seorang pendukung berpindah ke pihak lawan.
Muawiyah mendapatkan seorang penyair.
Tetapi Ali tetap menjadi Ali.
Inilah perbedaan antara pemerintahan yang dibangun di atas kepentingan dan pemerintahan yang dibangun di atas kebenaran.
Dalam pemerintahan kepentingan, kesalahan lawan dibesar-besarkan, sedangkan kesalahan kawan disembunyikan.
Dalam pemerintahan Ali, kedekatan dengan kekuasaan tidak memperkecil hukuman. Pujian kepada pemimpin tidak menjadi kartu bebas pelanggaran. Loyalitas politik tidak dapat ditukar dengan kekebalan hukum.
Ali tidak mengajarkan bahwa para pendukung kebenaran tidak mungkin berbuat salah. Mereka tetap manusia. Mereka dapat tergelincir, berbuat dosa, bahkan meninggalkan jalan yang sebelumnya mereka bela.
Kebesaran Ali justru terlihat ketika orang dekatnya melakukan kesalahan.
Beliau tidak mengubah yang haram menjadi halal.
Beliau tidak menyembunyikan kejahatan untuk menjaga nama kelompoknya.
Beliau tidak mengorbankan prinsip demi mempertahankan seorang pendukung.
Pada hari itu, Kufah tidak sekadar menyaksikan seorang penyair menerima hukuman. Kufah menyaksikan seorang pemimpin meletakkan keadilan lebih tinggi daripada keuntungan politiknya sendiri.
Al-Najasyi pernah membela Ali dengan syairnya.
Namun syair itu tidak dapat berdiri di antara dirinya dan hukum Allah.
Sebab di hadapan Ali, pujian tidak pernah menjadi uang muka untuk membeli kekebalan.
Engkau boleh menjadi penyairku.
Engkau boleh membelaku di medan perang.
Engkau boleh mengangkat namaku dengan ribuan bait pujian.
Namun ketika engkau melanggar hukum, syairmu tidak akan membebaskanmu dari keadilan.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—–
Catatan riwayat:
Pokok peristiwa ini diriwayatkan dalam al-Kāfī, jilid 7, hlm. 216, hadis 15: al-Najasyi sang penyair meminum khamar pada bulan Ramadan; Imam Ali menjatuhkan delapan puluh cambukan, menahannya semalam, kemudian menjatuhkan dua puluh cambukan tambahan karena keberaniannya meminum khamar pada bulan Ramadan.
Riwayat tersebut juga dicantumkan dalam Tahdzīb al-Aḥkām 10:94 dan Wasā’il al-Syī‘ah, jilid 28, hlm. 232.
Peristiwa yang sama terdapat dalam literatur Sunni, antara lain Muṣannaf ‘Abd al-Razzāq no. 13556—nomornya berbeda dalam sebagian edisi—Muṣannaf Ibn Abī Syaibah no. 29218, Syarḥ Ma‘ānī al-Ātsār no. 4895, dan al-Muḥallā 6:184.
Ahmad Syakir menyatakan kisah tersebut datang melalui dua sanad sahih, sedangkan al-Albani menilai salah satu jalurnya hasan atau mendekati hasan. “Kumpulan jalur dan penilaian sanad”.
Jalur dalam al-Kāfī sendiri bersifat marfū‘ dan memuat perawi yang diperselisihkan, sehingga tidak tepat mengklaimnya sahih tanpa keterangan. Namun inti peristiwanya memperoleh dukungan lintas jalur dari sumber Sunni dan Syiah.
Keterangan bahwa al-Najasyi merupakan penyair Imam Ali di Shiffin, kemudian marah dan bergabung dengan Muawiyah setelah dihukum, disebutkan dalam al-Ghārāt karya Ibrahim al-Tsaqafi.
Jalur sejarah ini tidak setingkat dengan jalur pokok peristiwa hukum di atas, sehingga diperlakukan sebagai kelanjutan historis, bukan bagian paling pasti dari riwayat.
Dialog selain percakapan yang tercantum dalam sumber merupakan pengembangan dramatik.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19bVDLW4u9/

