Sebuah peperangan dapat kalah bahkan sebelum pedang pertama dihunus.
Cukup dengan selembar surat.
Surat yang keluar diam-diam dari pusat pertahanan. Surat yang memberitahukan rencana pergerakan pasukan kepada musuh.
Surat yang sedang dibawa menuju Makkah—disembunyikan di tempat yang hampir tidak mungkin ditemukan: di dalam kepangan rambut seorang perempuan.
Saat itu Rasulullah SAW sedang mempersiapkan sebuah gerakan besar menuju Makkah. Kerahasiaan menjadi bagian penting dari strategi. Quraisy tidak boleh mengetahui rencana itu sebelum pasukan Islam mendekat.
Namun sebuah informasi telah bocor.
Seseorang mengirimkan surat kepada beberapa tokoh musyrik Makkah, memberitahukan sebagian rencana Rasulullah SAW.
Rasulullah kemudian memanggil tiga orang:
Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan Miqdad bin Aswad.
Perintah beliau sangat jelas:
“Berangkatlah kalian menuju Raudhah Khakh. Di sana kalian akan menemukan seorang perempuan yang membawa surat. Ambillah surat itu darinya.”
Tidak ada peta yang rumit.
Tidak ada penjelasan panjang.
Hanya nama sebuah tempat, ciri pembawa pesan, dan satu perintah: ambil surat itu.
Riwayat tidak mencatat Ali bertanya,
“Bagaimana jika perempuan itu tidak ada?”
“Bagaimana jika informasi itu keliru?”
“Bagaimana jika suratnya telah diberikan kepada orang lain?”
Tidak.
Jika Rasulullah SAW mengatakan perempuan itu ada di Raudhah Khakh, maka ia pasti ada di sana.
Jika Rasulullah mengatakan ia membawa surat, maka surat itu pasti berada bersamanya.
Bagi Ali, ucapan Rasulullah bukan perkiraan. Bukan informasi mentah yang masih harus diperdebatkan. Itu adalah kebenaran yang harus segera dilaksanakan.
Mereka pun menaiki kuda.
Ketiganya berpacu meninggalkan Madinah. Derap kaki kuda membelah jalan. Debu beterbangan di belakang mereka. Waktu sangat sempit. Semakin jauh perempuan itu bergerak, semakin dekat surat tersebut kepada tangan kaum Quraisy.
Mereka tidak sedang mengejar pasukan besar.
Mereka mengejar seorang perempuan.
Namun di dalam kepangan rambut perempuan itu tersimpan sesuatu yang dapat mengubah jalannya sejarah.
Kuda-kuda mereka terus berpacu hingga akhirnya tiba di Raudhah Khakh, sebuah tempat di antara Madinah dan Makkah.
Dan benar.
Di sana mereka menemukan seorang perempuan musafir, persis sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW.
Mereka menghentikannya.
“Keluarkan surat itu.”
Perempuan tersebut menjawab dengan tenang,
“Aku tidak membawa surat apa pun.”
Penyangkalan itu tidak menggoyahkan Ali.
Ali tidak sedang bertindak berdasarkan kecurigaan. Ia datang berdasarkan keterangan Rasulullah SAW. Perempuan itu boleh menyangkal, tetapi Ali mengetahui bahwa Rasulullah tidak mungkin keliru—apalagi berdusta.
“Keluarkan surat itu,” mereka kembali berkata, “atau kami akan memeriksa pakaianmu sampai menemukannya.”
Perempuan itu menyadari bahwa penyangkalannya tidak akan berhasil. Orang-orang yang berdiri di hadapannya tidak sedang menebak. Mereka mengetahui dengan pasti bahwa surat itu ada.
Akhirnya tangannya bergerak menuju kepangan rambutnya.
Dari sela-sela rambut yang terikat rapat, ia mengeluarkan sebuah surat.
Ali mengambilnya.
Tidak ada penyiksaan. Tidak ada hukuman yang dijatuhkan di tempat. Tidak ada keputusan berdasarkan kemarahan.
Tugas mereka hanya menemukan surat dan membawanya kembali kepada Rasulullah SAW.
Ali memahami batas kewenangannya.
Ia memiliki kekuatan untuk mengejar dan menghentikan, tetapi keputusan hukum tetap berada di tangan Rasulullah. Ketaatan Ali bukan hanya dalam keberanian menjalankan perintah, melainkan juga dalam menahan diri agar tidak melampaui perintah.
Mereka kembali ke Madinah membawa surat itu.
Ketika surat dibuka, diketahui bahwa pengirimnya adalah Hatib bin Abi Balta’ah, seorang Muslim yang pernah ikut bertempur dalam Perang Badar.
Surat itu ditujukan kepada beberapa orang musyrik di Makkah. Isinya memberitahukan sebagian rencana Rasulullah SAW.
Bukti berada di depan mata.
Nama pengirimnya jelas.
Pembawa suratnya telah tertangkap.
Tidak ada lagi yang dapat disangkal.
Namun perhatikan bagaimana Rasulullah SAW menegakkan keadilan.
Beliau tidak langsung menjatuhkan hukuman. Tidak membiarkan kemarahan orang banyak mengambil alih. Rasulullah terlebih dahulu memanggil Hatib dan bertanya,
“Wahai Hatib, apa ini?”
Pertanyaan itu sangat penting.
Rasulullah mengetahui apa yang terjadi, tetapi Hatib tetap diberi kesempatan untuk menjelaskan. Sebab keadilan bukan hanya menemukan perbuatan, melainkan juga memahami alasan, niat, dan keadaan yang melatarbelakanginya.
Hatib berkata,
“Wahai Rasulullah, janganlah tergesa-gesa menghukumku.”
Ia menjelaskan bahwa dirinya bukan berasal dari darah Quraisy. Ia hanyalah sekutu mereka. Kaum Muhajirin yang lain masih mempunyai keluarga dan hubungan kesukuan di Makkah. Hubungan tersebut dapat melindungi keluarga serta harta mereka.
Hatib tidak memiliki perlindungan seperti itu.
Keluarganya masih berada di Makkah. Ia takut keselamatan mereka terancam. Karena itu ia berharap, dengan memberikan informasi kepada beberapa orang Quraisy, mereka akan merasa berutang budi dan bersedia melindungi keluarganya.
Hatib kemudian menegaskan,
“Aku tidak melakukannya karena kekufuran, bukan karena murtad, dan bukan karena rela kepada kekufuran setelah memeluk Islam.”
Rasulullah SAW mendengarkan penjelasannya.
Kemudian beliau berkata kepada orang-orang yang hadir,
“Ia telah berkata benar kepada kalian.”
Perbuatannya tetap salah.
Membocorkan rahasia Rasulullah adalah pelanggaran berat. Ketakutan terhadap keselamatan keluarga tidak mengubah tindakan yang salah menjadi benar. Al-Qur’an bahkan menurunkan teguran keras:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman setia, dengan menyampaikan kepada mereka rahasia karena rasa kasih sayang.”
Namun Rasulullah membedakan antara kesalahan dan kekufuran.
Hatib telah melakukan kesalahan besar, tetapi ia tidak otomatis menjadi kafir atau munafik. Rasulullah menerima kejujuran penjelasannya dan mengetahui apa yang terdapat di dalam hatinya.
Umar bin Khattab kemudian berkata,
“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang munafik ini.”
Rasulullah tidak memberikan izin.
Beliau menjawab,
“Sesungguhnya ia telah mengikuti Perang Badar. Tahukah engkau, boleh jadi Allah telah melihat para pejuang Badar lalu berfirman: ‘Berbuatlah apa yang kalian kehendaki, sungguh Aku telah mengampuni kalian.’”
Ini bukan berarti para pejuang Badar memperoleh izin untuk berbuat dosa sesuka hati. Buktinya, tindakan Hatib tetap ditegur oleh Al-Qur’an. Namun jasa, keimanan, perjuangan, niat, dan keadaan seseorang harus diperhitungkan sebelum menjatuhkan vonis.
Keadilan tidak mengecilkan kesalahan.
Tetapi keadilan juga tidak membesar-besarkan kesalahan sampai menghapus seluruh kebaikan seseorang.
Di sinilah terlihat perbedaan antara keputusan yang lahir dari ilmu dan hukuman yang lahir dari kemarahan.
Kemarahan ingin segera memenggal.
Rasulullah ingin mengetahui kebenaran secara utuh.
Dan perhatikan pula kedudukan Ali dalam peristiwa ini.
Ketika sebuah rahasia negara bocor, Rasulullah mengutus Ali.
Ketika surat itu harus ditemukan sebelum sampai ke tangan musuh, Rasulullah mengutus Ali.
Ketika misi membutuhkan kecepatan, ketepatan, keberanian, dan keyakinan mutlak terhadap sabda Nabi, Rasulullah mengutus Ali.
Ali tidak pulang dengan alasan perempuan itu menyangkal.
Ia tidak berkata, “Kami telah menggeledah barang bawaannya dan tidak menemukan apa-apa.”
Ia tidak terkecoh oleh penampilan.
Ia tidak meragukan informasi Rasulullah.
Ali mengetahui surat itu ada karena Rasulullah mengatakan surat itu ada. Maka sekalipun seluruh dunia menyangkalnya, Ali akan tetap mencarinya sampai ditemukan.
Inilah operasi intelijen dalam bentuknya yang paling sempurna: informasi yang tepat, sasaran yang jelas, personel yang dapat dipercaya, gerakan yang cepat, dan barang bukti yang dikembalikan kepada pemegang otoritas.
Ali berhasil mendapatkan surat itu, tetapi ia tidak mengambil alih kursi pengadilan.
Ia menangkap pembawa pesan, tetapi tidak menghukumnya menurut kemarahannya sendiri.
Ia membawa barang bukti, tetapi menyerahkan penilaian kepada Rasulullah SAW.
Kekuatan Ali selalu berada di bawah ketaatan.
Pedangnya tidak pernah mendahului perintah Rasulullah. Keberaniannya tidak membuatnya melampaui kewenangan. Ia keras ketika harus bertindak, tetapi berhenti tepat pada batas yang ditentukan.
Inilah Ali.
Bukan hanya orang yang mampu mendobrak benteng Khaibar, tetapi juga orang yang dapat dipercaya menyelesaikan sebuah operasi rahasia tanpa kegaduhan.
Bukan hanya kesatria di medan terbuka, tetapi juga penjaga rahasia pada jalan-jalan sunyi.
Dan sekali lagi sejarah memperlihatkan pola yang sama:
Ketika tugas itu tidak boleh gagal, Rasulullah memilih Ali.
Ketika ucapan Nabi harus dipercayai sebelum bukti terlihat, Ali tidak bertanya—ia berangkat.
Ketika surat yang tersembunyi di dalam kepangan rambut harus ditemukan, Ali tidak kembali sebelum membawanya pulang.
Karena bagi Ali, satu kalimat dari Rasulullah telah cukup menjadi kepastian.
Lantas, jika Rasulullah sendiri mempercayakan rahasia, keselamatan umat, dan tugas-tugas paling menentukan kepada Ali—
kenapa tidak mengikuti Ali?

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—–
Sumber:
Shahih al-Bukhari no. 3007, diriwayatkan langsung dari Imam Ali; riwayat paralelnya terdapat dalam Shahih Muslim no. 2494.
Hubungan peristiwa ini dengan QS al-Mumtahanah ayat 1 juga disebutkan dalam jalur riwayat lain dalam Shahih al-Bukhari. “Teks lengkap Shahih al-Bukhari 3007” dan “teks Arab beserta takhrij riwayat.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CJtpgeJ3w/

