Pagi itu, Uhud berdiri tenang di bawah langit Madinah. Gunung batu itu seperti tembok raksasa yang sengaja diletakkan Tuhan untuk menyaksikan siapa yang benar-benar setia—dan siapa yang hanya tampak gagah ketika kemenangan masih berada di depan mata.
Pasukan Quraisy mulai terdesak.
Barisan mereka pecah. Bendera-bendera jatuh. Pedang kaum muslimin bergerak cepat. Teriakan kemenangan mulai terdengar. Sebagian pemanah di atas bukit melihat harta rampasan berserakan di bawah. Mereka lupa bahwa Rasulullah ﷺ telah berpesan:
“Jangan tinggalkan tempat kalian, apa pun yang terjadi.”
Tetapi kilau dunia kadang lebih cepat memasuki mata daripada perintah Nabi memasuki hati.
Mereka turun.
Di kejauhan, Khalid bin Walid melihat bukit pemanah telah kosong. Ia tidak membuang waktu. Pasukan berkudanya berputar cepat, menghantam barisan kaum muslimin dari belakang.
Debu meledak ke udara.
Ringkikan kuda bercampur dengan jeritan manusia. Pedang menghantam perisai. Tubuh-tubuh berjatuhan. Orang tidak lagi mengetahui dari arah mana musuh datang. Pasukan yang beberapa saat sebelumnya merasa menang, kini saling bertabrakan mencari jalan keluar.
Kemudian terdengar sebuah teriakan yang merobek keberanian:
“Muhammad telah terbunuh!”
Saat itulah perang berubah menjadi perlombaan lari.
Tidak ada garis start. Tidak ada aba-aba. Tidak ada hadiah. Tetapi kaki-kaki para tokoh itu mendadak menemukan kecepatannya.
Umar berlari menuju gunung. Tubuhnya yang dikenal keras dan suaranya yang dikenal lantang, kini bergerak menjauhi pusat pertempuran. Ia memanjat untuk menyelamatkan diri. Di belakangnya Rasulullah ﷺ masih hidup, terluka, dan memanggil pasukannya agar kembali.
Namun, pada saat seperti itu, suara ketakutan terdengar lebih keras daripada suara Nabi.
Utsman berlari lebih jauh lagi. Ia tidak sekadar mundur beberapa langkah untuk menyusun barisan. Ia menjauh dari medan. Kalau perang hari itu memiliki cabang atletik, Utsman tampaknya tidak memilih lari jarak pendek. Ia mengambil jalur lintas alam—jauh dari pedang, jauh dari debu, dan jauh dari Rasulullah ﷺ yang sedang dikepung.
Tentang Abu Bakar, riwayat berbeda: apakah ia ikut berlari atau bersembunyi di tempat aman sebelum akhirnya kembali. Tetapi perbedaan itu tidak banyak menolong. Sebab pada saat Nabi membutuhkan tubuh-tubuh yang berdiri di hadapannya, berlari dan bersembunyi hanyalah dua cara berbeda untuk tidak berada di sana.
Lengkaplah sudah tiga pelari kita: Trio Sprinter Uhud.
Kelak nama mereka akan memenuhi mimbar. Mereka disebut sebagai pemimpin-pemimpin besar. Namun pagi itu, di lereng Uhud, masa depan kekhalifahan sedang berlari menjauhi Rasulullah ﷺ.
Talhah juga sempat terseret gelombang kepanikan. Kakinya sempat bergerak mundur. Tetapi ia berhenti. Ada sesuatu di dalam dirinya yang memaksanya menoleh kembali.
Di tengah debu itu, Rasulullah ﷺ masih berdiri.
Talhah pun berbalik. Ia kembali menerobos kekacauan, mendekati Nabi dan menggunakan tubuhnya untuk melindungi beliau. Tangannya terluka parah. Darah mengalir. Ia sempat mundur, tetapi tidak membiarkan ketakutannya menjadi keputusan terakhir.
Itulah perbedaannya.
Bukan siapa yang tidak pernah takut, melainkan siapa yang akhirnya mengalahkan ketakutannya.
Sementara itu, di pusat badai, Ali bin Abi Thalib tidak bergerak sejengkal pun untuk meninggalkan Rasulullah ﷺ.
Ia tidak mempunyai waktu untuk memikirkan keselamatannya sendiri. Setiap pedang yang menuju Nabi harus lebih dahulu melewati pedangnya. Setiap musuh yang mendekat harus berhadapan dengannya. Ketika yang lain mencari gunung, Ali menjadikan dirinya gunung.
Di dekat Nabi juga berdiri Abu Dujanah. Ia membungkukkan tubuhnya, menjadikan punggungnya perisai. Anak-anak panah menghujani tubuhnya, tetapi ia tidak bergeser. Ada pula Nusaibah binti Ka‘ab—seorang perempuan yang mengangkat pedang ketika banyak lelaki kehilangan keberanian.
Pemandangan itu seperti sedang mengejek sejarah.
Beberapa lelaki yang kelak diagungkan sebagai manusia paling utama berlari mencari keselamatan. Sementara seorang perempuan berlari menuju Rasulullah ﷺ untuk mempertaruhkan nyawanya.
Rasulullah ﷺ terluka. Wajah beliau berdarah. Gigi beliau patah. Lingkaran musuh semakin rapat. Namun Ali terus berputar di hadapannya—menebas, menangkis, maju, lalu kembali menutup celah. Tubuhnya penuh luka, tetapi matanya tidak pernah mencari jalan melarikan diri.
Sebab bagi Ali, di mana Rasulullah ﷺ berdiri, di sanalah tempat paling aman bagi imannya—meskipun menjadi tempat paling berbahaya bagi tubuhnya.
Gunung Uhud menyaksikan semuanya.
Ia menyaksikan siapa yang berlari mendakinya untuk berlindung. Ia menyaksikan siapa yang sempat mundur lalu kembali. Dan ia menyaksikan siapa yang sejak awal tidak pernah meninggalkan Nabi.
Itulah sebabnya Uhud tidak boleh hanya dikenang sebagai perang yang kalah akibat para pemanah meninggalkan bukit. Uhud adalah layar besar tempat watak manusia dipertontonkan tanpa riasan.
Ketika keadaan tenang, semua orang dapat berbicara tentang kesetiaan.
Ketika kemenangan terlihat dekat, semua orang dapat tampak pemberani.
Tetapi saat pedang mengepung Rasulullah ﷺ, kesetiaan berhenti menjadi pidato. Ia berubah menjadi pilihan sederhana:
Mendekati Nabi—atau berlari meninggalkannya.
Pagi itu, Trio itu memilih menjadi Sprinter Uhud.
Talhah sempat berlari, tetapi kesadarannya menariknya kembali.
Sedangkan Ali?
Ali tidak perlu kembali.
Sebab ia tidak pernah pergi.

(Diramu ulang dari tulisan Almarhum Habib Mustofa Syeifi, Cepi)
Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19Cn1pUW34/

