Doa yang Tak Dijawab
Suatu sore yang teduh, langit di punggung gunung seperti kain biru tua yang baru saja disetrika awan. Kakek Gunung duduk di balai bambunya, ditemani secangkir teh dan burung kecil yang tak pernah absen menemaninya.
Datanglah seorang pemuda dari lembah, wajahnya murung, matanya redup oleh kecewa.
“Kenapa engkau kelihatan sedih, Nak?” tanya Kakek Gunung sambil menepuk bangku di sebelahnya.
Pemuda itu duduk dan menunduk.
“Aku sudah berdoa lama, Kek. Minta agar kehidupanku berubah. Minta agar penderitaanku berhenti. Tapi tak ada yang terjadi. Aku rasa doa-doaku tak pernah dikabulkan.”
Kakek Gunung tersenyum, matanya teduh seperti hutan selepas hujan.
“Jadi menurutmu, Nak, doa itu hanya sah disebut dikabulkan bila apa yang kamu minta segera datang?”
Pemuda itu mengangguk pelan.
“Bukankah Allah berjanji, Kek, bahwa setiap doa akan dikabulkan?”
Kakek Gunung tertawa kecil, suaranya seperti desir angin yang menyentuh bambu.
“Betul, Nak. Tapi Allah tidak pernah berjanji kapan dan bagaimana Dia mengabulkannya. Sebab doa yang kau kira tidak dijawab, bisa jadi sedang menunggu saat yang paling penting dalam hidupmu.”
Pemuda itu menatap Kakek Gunung dengan bingung.
“Bagaimana maksudnya, Kek?”
Kakek Gunung memandang ke arah matahari yang mulai condong ke barat.
“Nak, sebagian doa memang segera dikabulkan karena Allah tahu engkau siap menerimanya.
Sebagian lagi disimpan, karena Allah tahu waktunya belum datang.
Dan sebagian doa, justru disembunyikan — agar kelak menjadi cahaya yang menjemputmu ketika amalmu terhenti.”
Pemuda itu mengernyit, “Ketika amal terhenti?”
Kakek Gunung mengangguk.
“Iya, Nak. Ketika tubuhmu tak lagi bergerak, lidahmu tak lagi bisa berzikir, tanganmu tak lagi memberi, dan kakimu tak lagi melangkah. Saat itu, doa-doa yang dulu kau kira tak didengar—akan datang membawa pertolongan. Mereka menjadi cahaya yang menyala di dalam kuburmu. Mereka menyapamu dengan lembut, ‘Kami adalah doa-doamu yang dahulu engkau kira sia-sia.’”
Angin sore mengusap rambut pemuda itu. Dadanya hangat, seperti ada sesuatu yang cair dan mengalir ke dalam hatinya.
“Jadi, Kek,” katanya pelan, “tidak ada doa yang sia-sia?”
“Tidak ada, Nak,” jawab Kakek Gunung.
“Doa adalah percakapanmu dengan Tuhan. Kadang Ia menjawab dengan memberi, kadang dengan menunda, kadang dengan menyimpan untuk hari terakhirmu. Tapi Ia selalu menjawab. Hanya saja manusia terlalu sibuk menunggu hasil, bukan makna.”
Pemuda itu menitikkan air mata.
“Berarti aku hanya perlu terus berdoa, ya Kek?”
Kakek Gunung tersenyum, menatap lembah di bawah sana yang mulai ditutup kabut.
“Teruslah berdoa, Nak. Karena doa bukan permintaan, melainkan ziarah jiwa menuju keabadian. Ia akan menemukanmu di waktu paling sunyi, bahkan setelah dunia melupakan namamu.”

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel sumber: https://www.facebook.com/share/p/1RSA1QuNhX/

