18 October 2026

BAGIAN II

PASUKAN USAMAH

Perintah Terakhir yang Hampir Dilupakan

“Tidaklah pantas bagi seorang mukmin, laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian mereka masih mempunyai pilihan yang lain.”

(QS. al-Ahzab: 36)

Menjelang akhir kehidupannya, Rasulullah SAW tidak sedang memikirkan dirinya.

Beliau sedang memikirkan masa depan umat.

Tubuh beliau semakin lemah. Demam semakin tinggi. Tetapi pikirannya tetap jernih. Yang keluar dari lisannya bukan keluhan, melainkan perintah.

Siapkan pasukan Usamah. Berangkatlah ke Jurf. Jangan ditunda.

Usamah bin Zaid bukanlah seorang sahabat senior. Ia masih sangat muda. Dalam sebagian riwayat usianya sekitar delapan belas atau dua puluh tahun. Namun Rasulullah SAW memilihnya menjadi panglima.

Pilihan itu sendiri merupakan pelajaran.

Islam tidak dibangun di atas usia.

Tidak pula di atas senioritas.

Apalagi di atas popularitas.

Islam dibangun di atas ketaatan kepada keputusan Rasulullah SAW.

Tetapi justru di sinilah ujian itu dimulai.

Sebagian orang mempertanyakan usia Usamah.

Sebagian lagi memperlambat keberangkatan pasukan.

Padahal Rasulullah SAW telah menetapkan panglimanya.

Keputusan itu seharusnya mengakhiri perdebatan.

Bukan justru melahirkannya.

Al-Qur’an telah mengingatkan:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Tidaklah pantas bagi seorang mukmin maupun mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, kemudian mereka masih mempunyai pilihan yang lain.”

(QS. al-Ahzab: 36)

Ayat ini sesungguhnya sudah cukup.

Ketika Rasulullah SAW telah menetapkan panglima, tugas umat hanyalah melaksanakan.

Bukan menilai.

Bukan menimbang.

Apalagi menunda.

Mengapa Jurf Begitu Penting?

Jurf hanyalah sebuah daerah di pinggiran Madinah.

Secara geografis ia tampak biasa.

Namun dalam sejarah Islam, Jurf berubah menjadi simbol.

Di sanalah garis pemisah mulai tampak.

Antara mereka yang segera melaksanakan perintah Rasulullah.

Dan mereka yang merasa keadaan memungkinkan untuk menundanya.

Di sinilah letak persoalan yang sering luput.

Banyak orang sibuk memperdebatkan siapa yang berdiri di mihrab.

Tetapi hampir tidak pernah bertanya:

Mengapa pasukan yang telah diperintahkan Rasulullah SAW tidak segera bergerak?

Padahal ukuran ketaatan bukanlah banyaknya diskusi.

Ukuran ketaatan adalah cepatnya melaksanakan perintah.

Ketika Perintah Mulai Dikalahkan oleh Pertimbangan

Setiap penyimpangan besar dalam sejarah selalu diawali oleh satu kalimat yang tampak sederhana.

“Belum waktunya.”

“Tunggu dulu.”

“Kita pertimbangkan lagi.”

Kalimat-kalimat seperti inilah yang perlahan menggantikan budaya سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا — “Kami dengar dan kami taat.” (QS. al-Baqarah: 285)

Padahal Islam tidak dibangun di atas budaya menunda perintah Nabi.

Islam dibangun di atas kepatuhan kepada beliau.

Inilah sebabnya Rasulullah SAW tetap mengulang perintah itu meskipun tubuh beliau semakin lemah.

Karena beliau mengetahui sesuatu yang belum diketahui umat.

Beliau mengetahui bahwa setelah beliau wafat, umat akan memasuki masa yang sangat menentukan.

Dan pada saat seperti itu, ketaatan kepada perintah beliau menjadi lebih penting daripada kecerdasan menafsirkan keadaan.

Sebuah Pertanyaan yang Hampir Tidak Pernah Diajukan

Mari kita bertanya dengan sederhana.

Apabila Rasulullah SAW benar-benar bermaksud menjadikan peristiwa imam shalat sebagai pengumuman khalifah, mengapa beliau masih begitu keras menuntut keberangkatan pasukan Usamah?

Bukankah jauh lebih mudah apabila beliau mengumpulkan seluruh kaum Muslimin lalu menyatakan secara terbuka:

“Inilah khalifah kalian.”

Mengapa justru energi beliau tercurah pada sebuah ekspedisi militer?

Pertanyaan ini sangat penting.

Karena ia menunjukkan bahwa narasi tentang imam shalat tidak boleh dipisahkan dari konteks hari-hari terakhir Rasulullah SAW.

Peristiwa-peristiwa itu saling berkaitan.

Sejarah tidak boleh dipotong-potong sesuai kebutuhan sebuah kesimpulan.

Dari Jurf Menuju Saqifah

Ironisnya, pasukan yang diperintahkan berangkat itu tidak segera bergerak sebagaimana yang dikehendaki Rasulullah SAW.

Lalu Rasulullah SAW wafat.

Dan sebelum banyak sahabat selesai mengurus jenazah beliau, perhatian umat telah berpindah dari Jurf menuju Saqifah.

Dari melaksanakan perintah Nabi menjadi memperdebatkan siapa yang akan memimpin setelah Nabi.

Di sinilah sejarah memasuki babak yang paling menentukan.

Sebab ketika sebuah perintah yang sangat tegas mulai dikalahkan oleh pertimbangan-pertimbangan politik, maka sejak saat itu sejarah tidak lagi hanya berbicara tentang apa yang dilakukan Rasulullah SAW.

Ia mulai berbicara tentang apa yang dipilih manusia setelah Rasulullah SAW.

Dan sering kali, perbedaan antara keduanya itulah yang mengubah arah sejarah.

Mungkin karena itulah Al-Qur’an mengingatkan:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah.”

(QS. an-Nur: 63)

Fitnah dalam ayat ini bukan sekadar cobaan pribadi.

Ia juga dapat berupa kekacauan yang lahir ketika perintah Rasulullah SAW tidak lagi menjadi pusat orientasi umat.

Barangkali, fitnah terbesar dalam sejarah Islam bukanlah perbedaan pendapat.

Melainkan ketika umat mulai lebih sibuk menafsirkan kehendak Rasulullah daripada melaksanakan perintah beliau yang sudah jelas.

(Bersambung)

Hari hari2

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1NiTxVqzGg/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us