Sabtu, 31 Oktober 2026
Channel Lingkar Filsafat

Sadarilah Bahwa Dirimu Itu Biasa-biasa Saja | Ngaji Filsafat

Sadarilah Bahwa Dirimu Itu Biasa-biasa Saja | Ngaji Filsafat
Ilustrasi Sadarilah Bahwa Dirimu Itu Biasa-biasa Saja | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Moralitas, Amoral, dan Immoral

Dalam menjalani hidup, kita tentu membutuhkan akhlak dan moralitas agar kehidupan bersama dapat berjalan dengan tertib.
Namun, perlu dipahami bahwa orang yang menghadapi situasi absurd bukanlah orang yang anti-moral atau immoral, melainkan lebih tepatnya bersikap amoral.

Perbedaan antara amoral dan immoral sering kali membingungkan:

  • Amoral
    adalah tindakan yang bersifat netral dan tidak memiliki hubungan dengan nilai moral.
    Contohnya adalah aktivitas sehari-hari seperti minum saat haus atau sekadar duduk biasa.
  • Immoral
    adalah tindakan yang bertentangan dengan moral dan merugikan orang lain.
    Misalnya, jika air teh yang hendak diminum justru disiramkan ke wajah orang lain, atau jika Anda duduk sambil menendang teman di depan Anda.

Nilai-nilai amoral yang netral ini dapat kita isi dengan nilai-nilai moral versi kita sendiri, dengan cara memperhatikan kesesuaian ruang dan waktu, serta menciptakan makna hidup tersebut.

 

Integritas Moral dan Kesadaran Ruang-Waktu

Integritas moral seseorang baru terlihat ketika ia melakukan suatu tindakan berdasarkan keputusan dan kesadarannya sendiri.
Jika seseorang melakukan perbuatan baik hanya karena terpaksa, sekadar ikut-ikutan, atau karena terikat oleh komitmen luar tertentu, tindakan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan integritas diri yang sesungguhnya.
Integritas sejati berarti jiwa seseorang memang telah tercetak dan memilih untuk bersikap bermoral.

Salah satu ciri utama dari integritas adalah kepekaan dalam membaca situasi.
Kita harus cerdas dalam memutuskan kapan harus berbicara jujur apa adanya, dan kapan harus menggunakan retorika atau penyampaian yang lebih halus.
Kejujuran yang disampaikan tanpa melihat situasi justru bisa berbahaya atau bahkan tidak sopan.

Sebagai contoh:

  • Saat menjenguk teman yang sedang sakit keras, sangat tidak bijaksana jika kita jujur mengatakan bahwa penyakitnya sangat parah dan usianya tidak akan lama lagi.
  • Begitu pula ketika menghadapi murid yang kurang pintar, tidak tepat jika kita langsung mencelanya bodoh atau meramalkan masa depannya akan suram.

Meskipun ucapan tersebut diniatkan sebagai kejujuran, ruang dan waktunya tidak cocok.
Oleh karena itu, integritas bukan sekadar kaku mengikuti aturan tertulis, melainkan kemampuan cerdas untuk memahami ketepatan ruang dan waktu.

 

Sadar Bahwa “Aku Mungkin Salah”

Menyadur sindiran Albert Camus dalam novelnya, manusia pada umumnya memiliki kecenderungan alami untuk selalu merasa dirinya benar.
Padahal, setiap manusia sebenarnya memiliki andil atau “saham” dalam kesalahan-kesalahan yang terjadi di dunia ini.
Meskipun demikian, kita tidak berhak untuk menghakimi kesalahan orang lain.

Jika selama ini kita terlalu percaya diri bahwa kita adalah pihak yang paling benar, paradigma tersebut perlu digeser.
Mulailah membangun kesadaran di dalam diri sendiri bahwa “aku mungkin salah atau keliru”.
Di tengah situasi sosial hari ini, kita sering merasa lelah melihat orang-orang yang saling mengeklaim bahwa kelompok atau dirinya sajalah yang paling benar dan paling baik.
Kesadaran bahwa diri kita sendiri sangat mungkin melakukan kesalahan akan membuat interaksi sosial menjadi jauh lebih kondusif.
Penting untuk ditekankan bahwa sikap reflektif ini ditujukan untuk mengevaluasi diri sendiri, bukan untuk menuding orang lain agar mengakui kesalahannya.

 

Jebakan Merasa Istimewa dan Suka Mengeluh

Setiap manusia pada dasarnya adalah kasus yang unik (exceptional case) atau edisi terbatas.
Hal ini memicu kecenderungan psikologis di mana hampir setiap orang secara rahasia merasa dirinya istimewa, luar biasa, dan bersih dari kesalahan (feel innocent).
Bahkan, ucapan merendah seperti “saya ini orang biasa-biasa saja” sering kali hanyalah basa-basi agar orang lain tetap memandangnya sebagai sosok yang istimewa atau unik.

Selain merasa istimewa, manusia juga memiliki kecenderungan untuk selalu memprotes atau komplain terhadap hal-hal yang tidak sejalan dengan kebenaran yang diyakininya.
Sifat dasar ini sejalan dengan ayat Al-Qur’an, “Innal insana khuliqa halu’a”, yang menggambarkan bahwa manusia memang diciptakan suka mengeluh atau komplain.

Sikap merasa paling benar dan paling bersih ini sering menjadi akar konflik dalam pergaulan.
Demi mempertahankan citra bahwa dirinya istimewa, bersih, dan harus dibela, manusia bahkan bisa menyalahkan orang lain, lingkungan, hingga dalam bentuk ekstremnya menyalahkan takdir dan Tuhan atas kemalangan yang menimpanya.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menyadari keterbatasan diri dan menerima bahwa kita sebenarnya biasa-biasa saja serta tidak luput dari kesalahan.

Seni Menjadi Biasa Biasa Saja

 

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz

 

Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us