Jernihkan Batinmu, Maka Dirimu Akan Tahu Segalanya | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Cahaya dan Ilmu Pengetahuan Menurut Suhrawardi
Menurut filsuf Suhrawardi, cahaya memiliki implikasi yang sangat besar bagi ilmu pengetahuan.
Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga tingkatan ilmu pengetahuan.
Namun, pengetahuan yang sejati bukanlah pengetahuan yang mengarah ke luar diri, melainkan pengetahuan yang mengarah ke dalam diri, yaitu pengetahuan yang dialami secara langsung oleh jiwa yang disebut sebagai ilmu huduri.
Melihat ke dalam batin dinilai jauh lebih sejati karena kita mengalami sendiri kebenaran tersebut.
Kisah penemuan konsep ini bermula saat Suhrawardiโyang awalnya mempelajari filsafat peripatetikโmerasa sangat jenuh dan buntu karena tidak kunjung menemukan kebenaran sejati dari para filsuf.
Di tengah keputusasaannya, ia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Aristoteles, sang ahli logika sepanjang masa.
Dalam mimpi tersebut, Suhrawardi bertanya, “Aristoteles, aku bingung, sebenarnya di mana letak pengetahuan yang benar?”
Aristoteles kemudian menjawab, “Tanyakan pada dirimu sendiri.”
Tingkatan Pengetahuan: Konfirmasi ke Dalam dan Ilmu Huduri (Knowledge by Presence)
Ketika Suhrawardi terbangun dan merenungkan mimpi tersebut, ia menyadari bahwa pengetahuan yang paling meyakinkan adalah pengetahuan yang konfirmasinya mengarah ke dalam diri, bukan ke luar.
Sebagai contoh perbedaan tingkat kebenaran ini: jika seseorang mengatakan Lionel Messi itu pendek karena membaca di internet, derajat kebenarannya tentu berbeda jika ia mengatakannya karena kemarin bertemu langsung, bersalaman, dan berdiri berdampingan dengannya.
Pernyataan pertama menggunakan media luar (referensi eksternal), sedangkan pernyataan kedua berasal dari pengetahuan langsung yang ia alami sendiri.
Inilah petunjuk dari pertemuan mimpi dengan Aristoteles: pengetahuan yang paling meyakinkan adalah knowledge by presence (ilmu huduri), yaitu ilmu pengetahuan yang hadir langsung di dalam diri kita.
Pengetahuan ini berada pada tingkat haqqul yaqin karena dialami secara langsung oleh subjek, bukan sekadar dilihat dari jauh atau dipikirkan lewat logika.
Jika kita sekadar melihat sesuatu (misalnya di internet) atau memikirkannya dengan akal, kebenaran tersebut masih berada di wilayah asumsi pikiran.
Contohnya, jika seseorang melihat pasangannya berjalan dengan laki-laki lain lalu menyimpulkan dengan logikanya bahwa besok pasangannya pasti hamil, itu adalah konsumsi pikiran semata.
Tingkat keyakinan akan jauh berbeda dan lebih mantap jika ia mengalami sendiri peristiwa yang sesungguhnya.
Konsep Sua-Obyek dan Pengetahuan Instingtif
Pengetahuan yang dialami langsung ini bersifat sua-obyek, artinya tidak ada pemisahan objek di luar diri karena antara pihak yang mengetahui (subjek) dan yang diketahui (objek) telah menyatu menjadi satu kesatuan.
Jika ilmu pengetahuan biasa umumnya sibuk memeriksa ke luar (seperti mengukur skor atau data eksternal), ilmu huduri justru berfokus ke dalam diri.
Bentuk terdalam dari sua-obyek ini adalah self-awareness atau kesadaran penuh tentang diri sendiri.
Dalam dunia Sufi, kesadaran atau pengetahuan di dalam diri ini tidak selalu harus berupa hal-hal yang kita alami secara fisik terlebih dahulu, melainkan bisa berupa ilham yang ditiupkan oleh Allah ke dalam batin.
Ini mencakup intuisi serta insting.
Sebagai contoh pengetahuan instingtif: manusia secara otomatis menyayangi orang tua mereka tanpa perlu belajar atau mengambil kursus terlebih dahulu.
Begitu pula orang tua yang langsung menyayangi bayinya yang baru lahir; semuanya berjalan secara otomatis karena pengetahuan instingtif tersebut sudah ditanamkan di dalam diri mereka.
Contoh instingtif lainnya adalah kesadaran gender dan ketertarikan seksual.
Seorang laki-laki tidak perlu belajar formal bagaimana cara menyukai perempuan; ketertarikan itu muncul secara spontan.
Demikian juga dalam hal kemampuan memiliki keturunan, manusia tidak perlu mengikuti pelatihan khusus atau terus-menerus menonton video panduan, karena kapasitas dan insting alamiah itu sudah ada di dalam dirinya sejak awal.
Bahkan hewan pun, seperti ayam, tidak pernah mengikuti kursus atau mengunduh panduan apa pun, tetapi secara otomatis bisa berkembang biak karena memiliki pengetahuan sua-obyek tersebut.
Pengetahuan jenis ini tidak mungkin salah karena melekat langsung dalam diri kita.
Intuisi dan Penyingkapan Batin (Kasyf)
Dalam tradisi Sufi, pengetahuan langsung ini memiliki banyak istilah, mulai dari direct experience, kasyf (penyingkapan batin), hingga sebutan populer di dunia Barat yaitu intuisi.
Intuisi adalah pengetahuan yang muncul secara ilhamiah dan tidak terduga.
Misalnya kisah Sir Isaac Newton: mengapa ia baru menemukan teori gravitasi saat melihat apel jatuh ketika ia sudah menjadi mahasiswa?
Padahal sejak SD, SMP, dan SMA ia pasti sudah sering melihat benda-benda jatuh.
Hal itu terjadi karena ide gravitasi tersebut muncul secara intuitif pada momen yang tepat.
Begitu juga dengan Archimedes yang menemukan hukum fisika terkenal saat ia masuk ke bak mandi dan melihat airnya tumpah.
Penemuan tersebut bersifat intuitif dan tidak bisa direncanakan secara sengaja dengan berkata, “Aku ingin mencari hukum Archimedes hari ini, mari kita melompat ke air.”
Menurut para sufi, intuisi atau pengetahuan sua-obyek ini merupakan pancaran cahaya dari atas, yaitu dari Allah Yang Maha Mengetahui segalanya.
Karena seluruh realitas di alam semesta ini adalah pancaran dari cahaya-Nya, maka ketika batin kita bersih dan jernih, cahaya Allah akan memantul sempurna di dalam diri kita.
Di saat batin menjadi cermin yang memantulkan cahaya Ilahi tersebut, kita secara otomatis akan memperoleh banyak informasi dan pengetahuan tentang alam semesta.
Kemampuan Para Wali dan Pentingnya Menjaga Kesucian Hati
Inilah alasan mengapa para wali Allah sering kali memiliki kemampuan spiritual luar biasa dan mengetahui banyak hal di luar nalar (kasyaf).
Terdapat kisah mengenai seorang wali di Jawa Timur yang dikenal mampu mengetahui masa depan.
Wali tersebut dapat menebak masalah, memberikan nasihat yang sangat tepat, atau bahkan memarahi tamu-tamu yang datang tanpa perlu mengenal mereka sebelumnya.
Hal ini terjadi karena batin sang wali sangat jernih, sehingga cahaya Allah memantul di dalamnya dan menghadirkan informasi-informasi tersebut.
Ketika bertemu dengan orang-orang yang memiliki kejernihan batin seperti ini, kita sering kali merasa malu karena mereka bisa menebak masa lalu atau apa saja yang telah kita perbuat. Namun, kita sebenarnya harus jauh lebih malu kepada Allah yang setiap saat mengawasi seluruh gerak-gerik kita. Hanya saja, berbeda dengan manusia atau para wali yang bisa menegur secara langsung, Allah sering kali mengawasi kita dalam diam.
Oleh karena itu, karena ilmu adalah cahaya, menjaga kesucian batin menjadi kunci utama dalam menuntut ilmu.
Hal ini digambarkan dengan indah dalam kisah Imam Syafi’i saat mengalami kebuntuan dalam belajar.
Meskipun dikenal sangat cerdas, ada suatu masa di mana ia merasa sangat jenuh dan kesulitan memahami buku-buku yang ia baca.
Ia lalu berkonsultasi kepada gurunya yang bernama Imam Waki’.
Gurunya memberikan nasihat melalui syairnya yang sangat terkenal: Imam Syafi’i diminta untuk menjauhi maksiat karena maksiat membuat hati menjadi gelap.
Ketika hati gelap, cahaya tidak akan bisa masuk.
Mengapa demikian? Karena gurunya menegaskan: “Al-Ilmu Nuurun” (Ilmu adalah cahaya), dan cahaya Allah tidak akan pernah masuk ke dalam diri orang yang dipenuhi dosa dan maksiat.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







