Lihatlah Cahaya Meskipun Tidak Ada Cahaya Sama Sekali | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Bahaya Berpura-pura Menjadi Bodoh
Ini adalah sebuah nasihat penting untuk kita semua hari ini: komunitas mana pun yang mencari tawa dengan berpura-pura menjadi idiot, pada akhirnya akan benar-benar dikepung oleh orang idiot yang sesungguhnya.
Sering kali kita hanya iseng mengisi waktu dengan berpura-pura bodoh atau pura-pura tidak tahu bahwa sesuatu itu salah demi lucu-lucuan atau kepentingan kelompok tertentu.
Namun, ingatlah bahwa jika kita terlalu sering berakting menjadi orang bodoh, pada saatnya kita akan kebanjiran orang bodoh yang sebenarnya.
Fenomena ini lahir dari “produksi kebodohan” melalui kepura-puraan tersebut.
Ketika seseorang menyebarkan berita bohong, akan banyak orang yang memercayainya dan kemudian bertindak atas dasar kebohongan tersebut seolah-olah itu adalah sebuah kebenaran.
Kita harus lebih hati-hati, jangan sampai demi mencari perhatian seperti like atau jempol di media sosial, kita melakukan hal-hal sepele yang merusak. Jika itu terus dilakukan, dunia kita akan dipenuhi oleh hal-hal sepele dan merusak yang justru dianggap benar dan penting.
Realitas dan Konstruksi Pikiran
Terdapat sebuah pemikiran dari abad ke-16 yang menyatakan bahwa kita tidak sekadar mendeskripsikan dunia yang kita lihat, melainkan kita melihat dunia yang mampu kita deskripsikan.
Artinya, dunia itu dikonstruksi oleh isi kepala kita sendiri.
Sebagai contoh, gunung meletus atau pemilihan presiden adalah sebuah fakta nyata, namun makna di balik fakta tersebut ditentukan oleh pikiran kita.
Dalam pemilu, faktanya sederhana: ada calon dan ada yang terpilih. Namun, “bunyi” atau interpretasi dari fakta tersebut bergantung pada kacamata yang kita pakai.
Jika calon kita kalah, kita mungkin membacanya sebagai pemilu yang curang; sebaliknya, jika calon kita menang, kita menganggapnya sebagai pemilu yang adil.
Realitas tersebut dibaca secara berbeda-beda tergantung isi kepala masing-masing.
Menjadi Pribadi yang Optimis
Sangat disarankan bagi kita untuk menjadi orang yang optimis dan bukan pesimis.
Seorang optimis mampu melihat cahaya meskipun mungkin sama sekali tidak ada cahaya, sementara orang pesimis justru selalu berusaha memadamkan cahaya yang sudah ada.
Hidup dengan cara pandang optimis jauh lebih nyaman daripada menjadi orang yang mudah kaget, merasa sesak (sumpek), atau mudah marah.
Orang pesimis cenderung mematikan harapan padahal harapan itu masih ada.
Sebaliknya, orang optimis selalu melihat celah harapan dalam situasi sesulit apa pun; misalnya, selama “janur kuning belum melengkung,” ia tetap melihat adanya peluang.
Cinta, Kebencian, dan Perjuangan dalam Kebaikan
Dalam hidup, membenci itu sangat mudah, sedangkan mencintai itu sulit.
Segala sesuatu yang baik biasanya sulit diraih, sementara hal-hal yang buruk cenderung sangat mudah didapatkan.
Sebagai contoh, membuat berita bohong itu sangat gampang, tetapi melakukan klarifikasi atas berita tersebut biasanya jauh lebih sulit.
Jika kita ingin menghancurkan peradaban, caranya sangat cepat yaitu dengan saling membenci, karena membenci itu mudah dilakukan.
Namun, membangun cinta membutuhkan proses dan waktu yang tidak sebentar.
Oleh karena itu, kita harus sangat berhati-hati dengan skema kebencian, karena segala yang buruk biasanya terasa mudah, sementara yang baik menuntut perjuangan yang lebih besar.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







