Miliki Komponen Ini Dalam Hidupmu, Dirimu Akan Awet Muda | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Keseimbangan Antara Keseriusan dan Bermain
Kisah ini bermula dari keresahan seorang sahabat Nabi bernama Hanzalah.
Suatu ketika, setelah mendengar nasihat Rasulullah SAW tentang neraka di masjid, Hanzalah merasa sangat bertaubat dan takut.
Namun, setibanya di rumah, ia kembali tertawa dan bermain bersama istri dan anak-anaknya.
Hal ini membuatnya merasa menjadi orang munafik karena sikapnya berubah drastis dari saat berada di masjid. Ketakutan ini ternyata juga dirasakan oleh Abu Bakar.
Ketika mereka mengadu kepada Rasulullah SAW, Nabi menjelaskan bahwa segala sesuatu ada waktunya.
Rasulullah menegaskan bahwa jika hati manusia bisa terus-menerus konsisten (serius) seperti saat berada di masjid, maka malaikat akan mendatangi mereka.
Namun, manusia membutuhkan waktu untuk serius dan waktu untuk bermain. Hati yang dipaksa terlalu serius tanpa istirahat akan menjadi jenuh, dan hati yang jenuh akan menjadi “buta”.
Oleh karena itu, dimensi “bermain” dalam hidup sangat penting sebagai bentuk katarsis dan istirahat agar batin tidak kaku.
Pentingnya Bermain bagi Pendidikan dan Kecerdasan
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Imam Ghazali, khususnya dalam konteks pendidikan.
Beliau menyarankan agar seorang guru mengizinkan murid-muridnya bermain setelah selesai belajar untuk mengistirahatkan mereka dari kelelahan belajar.
Imam Ghazali memperingatkan bahwa memaksa anak untuk terus-menerus belajarโseperti fenomena saat ini di mana anak dibebani tas berat, les tambahan, hingga target hafalan tanpa waktu bermainโjustru akan membawa dampak buruk:
- Mematikan hati anak.
- Membatalkan atau menghambat kecerdasannya.
- Mendorong anak untuk berbuat curang demi memenuhi target beban yang diberikan.
Rahasia Awet Muda: Jangan Berhenti Bermain
Mengutip George Bernard Shaw, Dr. Fahrudin Faiz menjelaskan bahwa kita tidak berhenti bermain karena kita bertambah tua, tetapi kita menjadi tua karena kita berhenti bermain.
Orang yang hidupnya terlalu serius dan tidak lagi bisa menikmati hidup cenderung cepat merasa tua. Untuk tetap awet muda, seseorang harus terus menikmati hidup dan “bermain”.
Kesehatan manusia melibatkan tiga komponen utama:
- Tubuh (Body): Menjadi sehat dengan bermain (play).
- Pikiran (Mind): Menjadi sehat dengan tertawa (laughter).
- Jiwa (Spirit): Menjadi sehat dengan kegembiraan (joy).
6 Komponen Hidup Menyenangkan ala Anak Kecil
Anak kecil sering terlihat bahagia dan awet muda karena mereka memiliki komponen-komponen hidup yang sering hilang saat manusia beranjak dewasa.
Jika Anda ingin hidup kreatif dan menyenangkan, milikilah enam komponen ini:
- Playing (Bermain): Menikmati aktivitas tanpa beban.
- Creating (Menciptakan): Selalu memiliki kreativitas.
- Growing (Tumbuh): Terus berkembang.
- Exploring (Eksplorasi): Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
- Laughing (Tertawa): Tidak kehilangan selera humor.
- Dreaming (Bermimpi): Tetap memiliki cita-cita dan harapan.
Salah satu kelemahan orang tua adalah mereka sering berhenti bermimpi dan melimpahkan mimpinya kepada anak-anak mereka, sehingga mimpi tersebut tidak pernah terwujud secara nyata oleh dirinya sendiri.
Puncak Pencapaian: Menyatukan Kerja dan Permainan
Pencapaian tertinggi dalam hidup (supreme accomplishment) adalah ketika seseorang mampu mengintegrasikan antara pekerjaan (work) dan permainan (play).
Jika pekerjaan, kuliah, atau bahkan saat mengerjakan skripsi dan tesis dirasakan sebagai sebuah “permainan” yang menyenangkan, maka beban kerja tersebut tidak akan terasa berat.
Sebaliknya, jika aktivitas tersebut hanya berisi tekanan dan stres tanpa ada unsur kesenangan (play), maka hal itu akan terasa sangat membebani hidup.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







