Sabtu, 31 Oktober 2026
Channel Lingkar Filsafat

Merasalah Tidak Tahu Apa-apa Di Depan Orang Yang Tahu Segalanya | Ngaji Filsafat

Merasalah Tidak Tahu Apa-apa Di Depan Orang Yang Tahu Segalanya | Ngaji Filsafat
Ilustrasi Merasalah Tidak Tahu Apa-apa Di Depan Orang Yang Tahu Segalanya | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Langkah 1: Merasa Tidak Tahu (Kesadaran akan Ketidaktahuan)

Langkah pertama yang wajib diambil dalam sebuah dialog adalah merasa tidak tahu.
Jika sebelum berdialog seseorang sudah merasa tahu segalanya, maka hasilnya bukanlah diskusi melainkan perselisihan atau “tawuran”.
Titik berangkat yang benar adalah dengan mengakui bahwa diri kita tidak mengerti dan meminta penjelasan dari lawan bicara.

Pada zaman Socrates, sikap ini menabrak tiga kelompok sekaligus:

  • Para Ilmuwan/Saintis:
    Mereka cenderung merasa mengerti segalanya dan terjebak dalam pandangan materialistis, merasa semua realitas bisa dijelaskan secara logis dan ilmiah sehingga sering kali muncul kesombongan intelektual.
  • Kaum Sofis:
    Kelompok yang merasa mengerti segala hal, termasuk hal supranatural, tergantung siapa yang membayar mereka.
    Bagi Socrates, mereka sebenarnya membenci kebijaksanaan (mesosovia) karena menganggap tidak ada kebenaran umum; kebenaran hanya bergantung pada konteks atau pesanan.
  • Para Ahli (Seniman, Politisi, Agamawan):
    Mereka sering merasa bidang ilmunya adalah yang paling penting dan memandang rendah bidang lainnya.

Socrates dianggap sebagai orang paling bijaksana di Athena oleh peramal di Delphi karena dialah satu-satunya orang yang sadar bahwa sebenarnya dia tidak tahu apa-apa.

Langkah 2: Ironi (Memberikan Apresiasi Semu)

Setelah memposisikan diri tidak tahu, langkah kedua adalah Ironi.
Teknik ini dilakukan dengan memuji atau membesarkan pikiran lawan bicara, meskipun kita tahu pikiran tersebut keliru.
Tujuannya adalah agar lawan bicara merasa percaya diri dan semangat untuk terus berpikir, bukan justru merasa diserang dan akhirnya menutup diri.

Jika kita langsung menyalahkan, orang tersebut akan merasa down dan dialog akan berhenti.
Ibarat menghadapi anak kecil yang baru belajar bicara, kita harus memujinya agar dia terus berkembang, bukan malah meruntuhkan semangatnya.
Jangan terburu-buru menjatuhkan lawan bicara agar dialog tetap berlangsung dan tidak dianggap sebagai pelecehan.

Langkah 3: Elenchus (Pengujian atau Konsultasi)

Langkah ketiga adalah Elenchus, yaitu teknik mempertanyakan konsistensi argumen lawan bicara.
Setelah lawan bicara merasa percaya diri, mulailah mencari variabel-variabel pemikiran yang tidak pas atau keliru.

Contohnya dalam mendefinisikan keberanian:
Jika seseorang menyebut berani adalah pantang mundur, Socrates akan memberikan contoh kasus militer di mana mundur untuk mengatur strategi justru membawa kemenangan.
Dengan cara ini, lawan bicara diajak untuk berpikir sendiri dan menemukan kelemahan argumennya tanpa harus didikte.
Kita tidak perlu memberikan jawaban benar secara langsung, melainkan membiarkan akal lawan bicara bekerja menemukan ketidakkonsistenannya sendiri.

Langkah 4: Mayutika (Teknik Kebidanan)

Langkah terakhir yang paling terkenal adalah Mayutika atau seni kebidanan.
Socrates mengibaratkan dirinya seperti seorang bidan; tugasnya bukan “melahirkan” kebenaran untuk orang lain, melainkan membantu orang tersebut melahirkan kebenarannya sendiri dari dalam pikirannya.

Seorang guru atau teman dialog hanya berfungsi sebagai pemandu yang membantu persalinan gagasan.
Proses ini dilakukan terus-menerus melalui tanya jawab hingga seseorang mencapai keyakinan akan kebenaran final.
Bahkan jika kebenaran itu belum “lahir”, setidaknya orang tersebut sampai pada sikap sadar bahwa selama ini dia sebenarnya belum tahu apa-apa.

Relevansi di Era Modern

Teknik Socrates ini sangat penting diterapkan di tengah banjir informasi saat ini.
Banyak orang saat ini bertengkar dan bermusuhan karena merasa tahu segalanya tentang isu-isu besar (seperti Khilafah, pelecehan seksual, atau berita hoaks), padahal mereka mungkin hanya mendengar sepintas tanpa memahami esensinya.
Jika memang belum mengerti secara mendalam, lebih baik diakui saja daripada terjebak menjadi seperti kaum Sofis yang merasa serba tahu namun justru menjauh dari kebenaran.

Seni Berdialog ala Socrates

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz

 

Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us