Ketahuilah Siapa Dirimu, Mau Kemana | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Hidup yang Benar, Bukan Sekadar Hidup
Persoalan utama manusia bukanlah sekadar tentang hidup, melainkan bagaimana menjalani hidup yang benar.
Jika hanya sekadar hidup, makhluk lain seperti nyamuk atau ayam pun bisa melakukannya.
Manusia diturunkan ke bumi, sebagaimana kisah Nabi Adam, tidak hanya untuk menghabiskan umur, tetapi untuk menjadi khalifah atau pemimpin yang menghuni bumi.
Oleh karena itu, tugas kita bukan hanya menjalani hidup, tetapi juga berpikir dan memilih jalan hidup yang paling benar.
Metode Sokrates dan Potensi Kebenaran
Untuk menemukan hidup yang benar, kita dapat belajar dari metode Sokrates (Socratic Method).
Socrates tidak berdakwah dengan cara menggurui atau menghakimi pikiran orang lain, melainkan melalui dialog atau mujadalah yang santun.
Ia sering memposisikan diri seolah tidak tahu (inferior) dan terus bertanya kepada lawan bicaranya hingga orang tersebut menyadari kekeliruannya atau menemukan sendiri kebenarannya.
Socrates memiliki asumsi dasar bahwa setiap orang memiliki potensi dan kapasitas untuk mencapai serta mengalami kebenaran.
Tidak ada perbedaan antara orang yang dianggap pintar maupun orang biasa; secara kualitas potensial, setiap orang mampu menemukan kebenaran dalam hidupnya.
Jika ada yang belum menemukannya, itu mungkin karena mereka malas, salah jalan, atau memiliki alur berpikir yang tidak tepat.
Jadi, “kebodohan” sebenarnya lebih berkaitan dengan strategi dan kemauan dalam menyikapi hidup, bukan karena ketiadaan potensi.
Dialog: Antara Etika dan Edukasi
Secara etimologi, dialog berasal dari kata dia (melintas/menuju) dan logos (akal/kata). Maka, dialog berarti proses saling melintas dan berkomunikasi menuju pemahaman bersama.
Bagi Socrates, dialog bukanlah sekadar debat teori yang berhenti di dalam ruangan, melainkan harus menghasilkan edukasi dan etika.
Setiap dialog harus memberikan pelajaran tentang apa yang bisa diambil untuk hidup dan apa yang seharusnya dilakukan.
Ilmu yang didapatkan dari proses tersebut harus mampu menyingkap hakikat diri, menaikkan level hidup, serta mewujudkan potensi yang ada.
Jangan sampai ilmu tersebut menjadi mubazir atau sekadar menjadi koleksi hafalan tanpa guna.
Ilmu yang Berbuah dan Masalah Manusia Modern
Ilmu pengetahuan yang sejati seharusnya membuat seseorang semakin memahami siapa dirinya, ke mana tujuannya, dan untuk apa ia hidup.
Jika ilmu tidak memiliki implikasi nyata, maka pencariannya hanya membuang-buang waktu dan uang. Kebenaran sejati, layaknya iman, harus diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam tindakan.
Fenomena yang terjadi saat ini adalah banyak orang memiliki ilmu tetapi tidak nyambung dengan perilakunya.
Dr. Fahrudin Faiz mencontohkan bagaimana seorang dokter yang tahu kesehatan tetapi tetap merokok, atau para politisi yang pintar berdebat tetapi tidak memberikan dampak nyata bagi perbaikan negara.
Masalah kita hari ini bukanlah ketidaktahuan akan kebenaran, melainkan kebenaran yang tidak dihidupkan dalam diri.
Tujuan dari dialog dan pencarian ilmu adalah untuk menghidupkan nilai-nilai tersebut agar manusia tidak “mati” secara batiniah di tengah kehidupannya.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







