Menyepilah, Menjauh Sebentar Dari Kerumunan
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Menyepilah: Menemukan Kekebalan Spiritual dan Intuisi di Tengah Kerumunan
Kekebalan Spiritual dan Penolakan terhadap Ilusi
Beberapa orang terlahir dengan apa yang disebut sebagai sistem kekebalan spiritual.
Seolah-olah mereka telah menerima “imunisasi spiritual” yang membuat mereka, cepat atau lambat, akan menolak pandangan dunia yang ilusif yang dijejalkan sejak lahir melalui pengkondisian sosial.
Mereka mulai merasakan ada sesuatu yang salah dengan realitas yang ada dan mulai mencari jawaban melalui pengetahuan internal serta pengalaman eksternal yang sering kali terlihat kacau.
Pengalaman ini menunjukkan kepada mereka sisi lain dari realitas yang tidak terlihat oleh orang lain.
Perjalanan Menuju Pencerahan
Orang-orang ini memulai perjalanan menuju pencerahan dengan prinsip yang kuat: mengikuti kata hati daripada mengikuti kerumunan.
Mereka mengutamakan jalan pengetahuan di atas kenyamanan dalam ketidaktahuan.
Dalam perspektif filsafat, ada orang-orang tertentu yang jiwanya memang cenderung ke arah spiritual.
Fenomena positivismeโyang hanya mempercayai akal, panca indera, hal-hal materi, dan rasionalitasโjustru membuat mereka merasa gelisah.
Mereka mungkin tidak lagi tertarik pada filsafat modern yang kering, namun akan sangat terpikat ketika mendengar tentang sufisme, tasawuf, atau kedalaman batin.
Hal ini sering ditemukan pada masyarakat Timur yang secara “DNA” memang memiliki kecenderungan kuat terhadap aspek-aspek batiniah.
Ciri-Ciri Pencari Pencerahan
Ada beberapa karakteristik utama dari mereka yang merintis jalan pencerahan ini:
- Mengikuti Suara Hati (Intuisi):
Mereka mengedepankan intuisi, yaitu suara hati yang sering kali sulit dijelaskan secara rasional namun memberikan pengertian yang mendalam. - Tidak Mengikuti Kerumunan:
Mereka memiliki prinsip dan pendirian sendiri hasil dari pencarian pribadi, bukan sekadar ikut-ikutan arus politik atau kelompok mana pun. - Mengutamakan Pengetahuan daripada Kenyamanan:
Jalan pencerahan sering kali tidak nyaman dan menyakitkan karena menyajikan kebenaran yang mengejutkan atau tidak sesuai dengan keinginan pribadi.
Tokoh besar seperti Buddha dan Nabi Muhammad SAW pun harus menempuh jalan kesengsaraan atau menyendiri (seperti di Gua Hira) untuk mencapai pencerahan tersebut.
Pentingnya Jarak dan Objektivitas
Mengapa kita butuh menjauh sebentar dari kerumunan? Alasannya adalah agar kita bisa menjadi objektif.
Orang yang terlalu terlibat di dalam suatu kerumunan atau situasi tertentu biasanya susah untuk melihat dengan jernih.
Sebagai perumpamaan, jika wajahmu menempel langsung pada tembok, kamu tidak akan tahu apakah tembok itu berwarna hijau atau putih. Untuk mengetahuinya, kamu harus menjauh sedikit.
Begitu pula dengan keindahan; kecantikan baru bisa diapresiasi jika ada jarak. Jika terlalu dekat hingga menempel, keindahan itu tidak akan terlihat.
Para sufi dan tokoh spiritual menjauh sebentar agar tidak terjebak dalam keterlibatan yang mengaburkan pandangan mereka.
Penutup: Peran Intuisi
Di era Henri Bergson, peradaban sangat didominasi oleh paham positivisme yang menjebak manusia hanya pada akal dan panca indera.
Bergson menawarkan gagasan alternatif: meskipun akal dan panca indera itu penting, keduanya bukan satu-satunya alat untuk memahami realitas. Ada instrumen lain yang sangat vital, yaitu intuisi.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







