Mencapai Ilmu Sejati | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Kualitas Diri Menuju Ilmu Sejati
Untuk mencapai ilmu sejati, seseorang perlu memiliki beberapa kualitas diri utama:
- Rilo (Ridho):
Dalam bahasa Arab disebut Ridho atau ikhlas. Kualitas ini berarti menempatkan Allah sebagai awal dan akhir dari segala hasrat, tanpa ada kepentingan lain. - Legowo:
Sikap berlapang dada terhadap apa pun yang terjadi.
Seseorang yang legowo tidak merasa terbebani oleh kehilangan apa pun, asalkan ia tidak kehilangan Allah dalam hatinya. - Nerimo (Qonaah):
Sikap menerima apa pun hasil yang didapat tanpa menyesal atau menuntut berlebihan.
Ini adalah lawan dari ego yang selalu ingin menuntut agar semua keinginan terpenuhi. - Anorogo:
Sikap rendah hati dan tidak sombong. Seseorang tidak boleh merasa besar atau memonjolkan keakuannya.
Kesadaran dan Konsistensi dalam Kebaikan
- Eling:
Untuk menjalankan poin-poin di atas, seseorang harus memiliki kesadaran atau eling.
Eling bukan sekadar terjaga dari tidur, melainkan frekuensi batin yang terus menyambung dengan Allah dalam setiap aktivitas, seperti selalu mengingat Allah dengan mengucap “Bismillah” sebelum bertindak. - Santoso (Sentosa):
Kualitas ini berarti selalu berada di jalan yang benar (sirotol mustaqim). Kunci dari hidup yang santosa adalah konsistensi dalam mengikuti jalan kebenaran tersebut.
Kebahagiaan dan Kesehatan sebagai Amanah
- Gembiro (Gembira):
Pencarian ilmu sejati tidak boleh dilakukan dalam kondisi stres atau depresi. Orang yang merasa sumpek biasanya disebabkan karena keinginannya tidak terpenuhi atau tidak rela dengan masa lalu.
Sebaliknya, jika seseorang sudah memiliki sifat rilo, legowo, dan nerimo, ia akan selalu ceria dan menyenangkan saat diajak berinteraksi. - Rahayu:
Keinginan hati untuk selalu melakukan hal baik dan mengharapkan keselamatan bagi orang lain, seperti makna dalam ucapan salam. - Wilujengan (Kesehatan):
Menjaga kesehatan fisik sangat penting karena tubuh adalah amanah atau titipan dari Allah, bukan milik pribadi yang bisa digunakan sesuka hati.
Seseorang harus sehat agar bisa berpikir jernih dan menjalankan kualitas-kualitas lainnya.
Pengembangan Diri dan Refleksi Batin
- Marsudi Kawruh: Terus menambah wawasan dan pengetahuan tanpa henti. Seseorang tidak boleh merasa sudah pintar meskipun telah mencapai gelar akademik yang tinggi; ia harus selalu merasa lapar akan ilmu.
- Semedi: Fase introspeksi diri atau dalam bahasa agama disebut Tafakur dan Muhasabah. Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi apakah tindakan-tindakan yang telah diambil sudah tepat.
- Ngurang-ngurangi (Moderasi): Mengurangi hal-hal duniawi yang tidak esensial dan tidak berlebihan dalam segala sesuatu, seperti makan atau berbicara. Salah satu contoh konkretnya adalah mengurangi durasi penggunaan gawai (HP) agar pikiran tidak terus-menerus merasa was-was terhadap komentar atau penilaian orang lain di media sosial.
Dengan mengurangi hal-hal yang kurang penting, seseorang dapat lebih fokus untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu ilmu sejati.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
SebelumnyaPertahankan Warnamu, Jangan Sampai Kehormatanmu Lenyap
BerikutnyaMenyepilah, Menjauh Sebentar Dari Kerumunan
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA







