Dalam Berdo’a, Mengapa Tidak Meminta Langsung Kepada Allah SWT?

Dalam berdo’a, mengapa kita tidak langsung meminta kepada Allah swt? Mengapa kita memerlukan wasilah (tawassul)? Apakah tawassul boleh?

Jawabannya adalah: tawassul memang adalah merupakan perintah dari Allah SWT, salah satunya termaktub dalam surat al Maidah ayat 35:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya (wasilah) dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kalian mendapat keberuntungan”.

Juga dalam QS.  An-Nisa ayat 64 diterangkan salah satu contoh tawassul melalui Rasulullah saw.

”Dan Kami tidak mengirim seorang rasul kecuali untuk ditaati dengan ijin Allah. Kalaulah mereka -umat- menzhalimi diri mereka sendiri -dengan dosa- lalu datang kepadamu -Muhammad- dan meminta ampun kepada Allah dan RasulNyapun memintakan ampun untuk mereka, maka sudah pasti mereka akan mendapati Allah itu Maha Penerima Taubat dan Maha Kasih.” 

Dalam video diatas diceritakan suatu contoh tawassul :

Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khathab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muthalib, lalu Umar berkata: “Ya Allah, kami telah bertawasul dengan Nabi kami Saw. dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawasul dengan Paman Nabi kami Saw., maka turunkanlah hujan.” Maka hujan pun turun.”
(HR. Bukhari dalam Shahih al-Bukhari juz 1 halaman 137).

Istilah tawassul dalam Qur an, dipakai dalam dua versi yang berbeda:

I.  Yang menolak tawassul pada obyek tertentu, yaitu di QS. 17: 56-57:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا (56) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Katakanlah (Muhammad): ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selainNya (Allah), maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari padamu dan tidak pula memindahkannya.’
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari wasilah (tawassulan) kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah untuk dijadikan tawassulan) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzabNya, sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.”

Di ayat ini tawassulnya orang-orang kafir ditolak mentah-mentah oleh Allah.

Sebenarnya, yang ditolak bukan tawassulnya, melainkan obyek tawassulnya, yakni orang-orang yang celaka yang dianggap oleh para penawassul kafirin itu sebagai dewa-dewa atau orang hebat dan tinggi.

Sementara Tuhan yang Maha Tahu mengatakan kepada mereka para kafirin bahwa yang dijadikan tawassulan oleh kafirin itu juga mencari tawassulan agar selamat dari siksa.

Dalam larangan tawassul di ayat ini, yakni pada obyek tertentu ini, terdapat pembolehan tawassul juga. Karena Tuhan mengatakan bahwa yang dijadikan tawassulan oleh kafirin itu, juga mencari tawassulan. Ini jelas bahwa tawassul itu boleh, asal benar adanya. Siapa itu? Yaitu orang-orang yang lebih dekat kepada Allah sebagaimana jelas digambarkan di ayat ini.

II.   Yang memerintahkan tawassul, yaitu di QS. 5:35:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan berpegang teguhlah pada wasilah-wasilah menujuNya dan berjuanglah di jalanNya agar kalian menjadi menang/berjaya.”

Dalam ayat ini jelas dengan muhkam/muhkamat, Tuhan memerintahkan kita untuk bertawassul dengan suatu obyek untuk mendekatiNya.

PEMBAHASAN

Kalau kedua ayat di atas digabung, maka dengan mudah menarik kesimpulan akan maksud Tuhan terhadap tawassul atau berperantara ini, yaitu:

1.  Bahwa yang dilarang Tuhan itu bukan tawassulnya, melainkan obyek tertentu dari tawassulnya. Yaitu orang kafir, pendosa dan siapa saja yang jauh dari Allah dan tergolong orang-orang yang celaka.

2.  Tawassul itu mesti dengan orang yang lebih dekat kepada Allah sebagaimana dijelaskanNya pada ayat pertama di atas.

3.  Tuhan tidak jauh dari siapapun, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita atau lebih dekat dari kehidupan kita sendiri kepada kita. Tapi mengapa ada tawassul? Jawabannya adalah karena Tuhan yang dekat kepada manusia itu bisa juga murkaNya.

Apapun itu, Kuasa Tuhan pasti dekat dengan siapa saja. Nah, yang dimaksud jauh dari Allah adalah yang jauh dari rahmat dan ridhaNya serta ada dalam dekapan murkaNya. Sedang yang dimaksud dekat denganNya adalah yang dekat dengan rahmat dan ridhaNya yang disebabkan oleh ketaqwaannya.

Orang-orang Wahabi tidak dapat memahami hal yang teramat mudah ini. Karena itu mereka mensyirikkan tawassul yang jelas-jelas ada di dalam Quran di atas. Salah satu alasannya karena Tuhan dekat pada manusia dan bahkan lebih dekat dari urat nadinya. Mereka tidak tahu bahwa dekatnya Tuhan pada pemaksiat seperti Fir’aun, adalah murkaNya, bukan ridhaNya.

4.  Ketika Tuhan memerintahkan tawassul dengan manusia yang lebih dekat kepadaNya sebagaimana dijelaskanNya di ayat pertama di atas, maka jelas memiliki hikmah di dalamnya, seperti:

–  Sikap mengakui dan tawadhu’ pada yang lebih mulia di sisiNya.

–  Mengenal siapa yang lebih mulia di sisiNya.

– Merangsang untuk meniru yang lebih mulia itu setelah mereka mengenali mereka, mengimani mereka dan tawadhu’ terhadap mereka (yang lebih mulia di sisi Allah).

–  Merangsang untuk mendatangi dan belajar kepada yang lebih mulia itu.

–  Tidak ada kelebihmuliaan di sisiNya yang pasti selain yang sudah dikatakanNya sendiri dalam Qur an, seperti Nabi saww dan para nabi as, Ahlulbait yang makshum as (QS: 33:33). Sedang selain mereka seperti orang shalih, syuhada’ dan semacamnya, walau bisa dijadikan tawassulan secara lahiriah, akan tetapi tidak menjamin seratus persen kebenarannya secara hakiki. Akan tetapi hal itu sudah dimaafkan olehNya karena kita memang tidak tahu batin dan tidak tahu yang hakiki sebagaimana yang diketahui di Lauhu al-Mahfuuzh.

–  Tawassulan yang lebih dijamin kemustabahannya atau keterkabulannya adalah tawassul yang memiliki unsur-unsur di atas, yaitu mengenali, mengakui/mengimani, tawadhu’, menyintai, belajar, mencontoh dan menghormati yang dijadikan obyek tawassulannya itu. Karena itulah Tuhan berfirman seperti di:

 1.  QS: 43:86:

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan tidaklah orang-orang yang meminta kepada selainNya itu memiliki syafaa’at kecuali orang yang menyaksikan (berjalan) dengan haq dan mereka mengetahuinya.”

Di ayat ini syarat mendapatkan syafaa’at adalah mengetahui jalan benar dan menjalaninya.

2.  QS: 4:64:

(وَلَو أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاؤُكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّاباً رَحيِماً)

“Dan kalau mereka berbuat zhalim terhadap diri mereka, datang kepadamu (Muhammad) lalu meminta ampun kepada Allah dan Rasulullah juga memintakan ampunan untuk mereka, maka mereka akan mendapatkan Allah itu Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.”

Di sini orang yang mau bertawassul dengan Nabi saww disuruh mendatangi beliau saww. Itu tandanya supaya dapat melihat beliau saww hingga tawadhu’, hormat, belajar dan mencontoh beliau saww.

Di ayat ini juga diterangkan bahwa salah satu dari diterimanya tawassul adalah dengan istighfar, yakni mengakui kesalahan, sedih dan meminta ampunanNya.

3.  QS: 12:97-98:

(قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ، قَالَ: سَوْفَ اسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ)

“Mereka (anak-anak nabi Ya’quub as yang menzhalimi nabi Yusuf as) berkata: ‘Wahai ayah kami, mintakanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami sesungguhnya kami adalah orang-orang yang salah.’ Berkata (Ya’quub as): ‘Aku akan memintakan ampunan untuk kalian dari Tuhanku sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Penyayang.’.”

Mengakui kesalahan dan istighfar di ayat ini jelas sekali dapat dilihat. Yakni sebagai syarat diterimanya tawassul dan syarat kelayakan mendapatkan syafaa’at.

4.  QS: 40:7:

(وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْء رَحْمَةً وَعِلْمَاً فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوُا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ)

“Dan mereka (para malaikat) memintakan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya bermohon): ‘Wahai Tuhan kami, Engkau telah meluaskan atas semuanya sebagai rahmat dan ilmu, maka ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalanMu serta lindungilah mereka dari adzab jahannam.’.”

Di ayat ini dijelaskan bahwa salah satu diterimanya tawassul itu adalah dengan berjalan di jalan Allah. Yakni hidup dengan penuh iman serta mengamalkan fiqihNya dengan baik.

______
sumber: http://catatanustadsinaragama.blogspot.com/2016/10/dalil-dalil-tentang-bolehnya-tawasul.html