“Mereka Memimpin Orang Seperti Aku; Aku Memimpin Orang Seperti Kalian”
Angin malam bergerak melewati Kufah.
Di sudut-sudut kota, bekas peperangan belum sepenuhnya hilang. Beberapa lelaki pulang dengan tubuh terluka. Sebagian rumah masih menunggu seseorang yang tidak akan kembali.
Pedang-pedang telah disarungkan, tetapi pertanyaan, kecurigaan, dan tuduhan masih berputar di antara manusia.
Jamal telah berlalu.
Shiffin meninggalkan luka.
Nahrawan membelah barisan yang sebelumnya mengangkat pedang bersama Ali.
Di Masjid Kufah, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. berdiri di hadapan umat yang tidak selalu memahami beratnya beban di pundaknya.
Beliau telah menghadapi musuh di depan, pengkhianat di belakang, pembangkang di dalam pemerintahan, dan orang-orang ragu yang berdiri di sekelilingnya. Namun, malam itu, sebuah pertanyaan datang dari tengah majelis.
Seorang lelaki bangkit.
Entah sungguh ingin mengetahui atau sekadar ingin menggugat, pertanyaannya menghantam keheningan:
“Wahai Amirul Mukminin, mengapa pada masa Abu Bakar dan Umar keadaan tampak tenang, sedangkan pada masa pemerintahanmu manusia berselisih dan peperangan terjadi di mana-mana?”
Beberapa kepala terangkat.
Ada yang menahan napas.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan tuduhan yang tajam: jika pemerintahan Ali benar, mengapa ia dipenuhi perang? Jika Ali adalah pintu ilmu dan pemimpin paling adil, mengapa umat justru terpecah ketika ia memerintah?
Seakan-akan banyaknya musuh menjadi bukti kesalahan seorang pemimpin.
Seakan-akan ketenangan selalu berarti keadilan.
Seakan-akan sebuah zaman dapat disebut damai hanya karena kezaliman belum dilawan.
Imam Ali memandang lelaki itu.
Beliau tidak marah.
Tidak menjelaskan panjang lebar.
Dalam ungkapan yang sangat masyhur, Ali dikisahkan menjawab:
“Karena mereka memimpin orang seperti aku, sedangkan aku memimpin orang-orang seperti kalian.”
Hening.
Kalimat itu jatuh seperti pedang yang membelah kesombongan.
Tidak ada nama yang dilaknat.
Tidak ada makian.
Namun, semua orang yang mendengarnya tiba-tiba dipaksa melihat dirinya sendiri.
Mereka Mempunyai Ali
Apa arti jawaban itu?
Ketika hak Ali dirampas, beliau tidak membakar Madinah.
Ketika wasiat Rasulullah saw. disingkirkan, Ali tidak menyeret umat yang masih rapuh menuju perang saudara.
Bukan karena beliau mengakui bahwa hak itu bukan miliknya.
Bukan karena Ghadir telah dilupakan oleh Ali.
Bukan pula karena beliau menganggap semua yang terjadi telah benar.
Ali menahan pedangnya karena Islam baru saja kehilangan Rasulullah. Musuh-musuh berada di luar. Kemunafikan masih hidup di dalam. Banyak kabilah belum memiliki akar keimanan yang kuat.
Jika Ali menghunus pedang untuk menuntut haknya sementara pendukung setianya sangat sedikit, agama yang baru dibangun Rasulullah dapat runtuh sebelum sempat tumbuh.
Ali berkorban.
Namun, yang dikorbankannya bukan kebenaran.
Yang dikorbankannya adalah kepentingan dirinya demi menyelamatkan Islam.
Mereka mempunyai seorang rakyat seperti Ali—seorang lelaki yang haknya dirampas, tetapi masih memikirkan keselamatan umat.
Seorang lelaki yang tidak menggunakan luka pribadinya sebagai alasan untuk membakar agama.
Tetapi ketika Ali menjadi pemimpin, apakah ia memperoleh orang-orang yang memiliki kesabaran seperti dirinya?
Tidak.
Ia memperoleh orang-orang yang telah bersumpah setia, lalu membatalkannya ketika keinginan mereka tidak dipenuhi.
Ia memperoleh para pejabat yang tidak ingin kehilangan wilayah dan kekayaan.
Ia memperoleh elite yang terbiasa menerima bagian lebih besar dari rakyat biasa.
Ia memperoleh manusia yang mencintai Ali selama cinta itu tidak mengganggu harta, jabatan, dan kehormatan sosial mereka.
Mereka menginginkan Ali sebagai simbol.
Mereka tidak siap menerima Ali sebagai pemimpin.
Pertanyaan yang Salah Sejak Awal
Namun, ada kekeliruan lain di dalam pertanyaan itu.
Benarkah masa sebelumnya tidak dipenuhi peperangan?
Pemerintahan Abu Bakar dibuka dengan Perang Riddah—serangkaian pertempuran besar terhadap kelompok-kelompok yang dianggap membangkang.
Masa Umar dipenuhi perluasan militer ke Persia, Syam, Mesir, dan wilayah-wilayah lain. Pasukan bergerak hampir tanpa henti.
Pemerintahan Utsman berakhir dengan pemberontakan, pengepungan rumah, dan pembunuhan seorang khalifah di tengah Madinah.
Lalu bagaimana mungkin hanya zaman Ali yang disebut sebagai zaman perang?
Perbedaannya bukan ada atau tidak adanya pedang.
Perbedaannya adalah ke arah mana pedang itu diarahkan.
Ketika perang berlangsung jauh di luar pusat kekuasaan, banyak orang menyebutnya kemenangan.
Namun, ketika Ali menghadapi pembangkangan dari kalangan elite Muslim sendiri, mereka menyebutnya fitnah.
Perang pada masa Ali terasa lebih menyakitkan karena musuh tidak datang dengan bahasa asing. Mereka mengucapkan syahadat yang sama. Sebagian pernah melihat Rasulullah. Sebagian mempunyai kedudukan dalam sejarah Islam.
Tetapi kedekatan dengan Rasulullah tidak membuat seseorang kebal dari hawa nafsu.
Masa lalu yang mulia tidak menjamin akhir yang mulia.
Al-Qur’an tidak pernah mengatakan bahwa seseorang yang pernah berjuang tidak mungkin tergelincir. Al-Qur’an justru memperingatkan:
“Muhammad hanyalah seorang rasul. Apakah jika ia wafat atau terbunuh kamu akan berbalik ke belakang?”
Ali Telah Memperingatkan Mereka
Setelah terbunuhnya Utsman, manusia berdesakan mendatangi Ali.
Mereka menginginkannya menerima pemerintahan.
Namun, Ali mengetahui apa yang tidak mereka pahami. Beliau melihat tumpukan masalah yang diwariskan kepadanya: ketimpangan ekonomi, pejabat-pejabat yang berkuasa karena hubungan keluarga, kekayaan negara yang telah berpindah ke tangan kelompok tertentu, dan ambisi politik yang bersembunyi di balik tuntutan agama.
Karena itu, sebelum menerima pemerintahan, Ali telah memperingatkan:
“Biarkanlah aku dan carilah orang lain.”
Bukan karena Ali tidak berhak.
Bukan karena beliau mengakui kepemimpinan orang lain lebih utama.
Ali sedang mengatakan: jika kalian memilihku, jangan berharap aku akan menjadi boneka keinginan kalian.
Beliau melanjutkan bahwa persoalan yang akan dihadapi mempunyai banyak wajah dan warna. Hati manusia tidak akan sanggup bertahan dan akal tidak akan tetap teguh menghadapinya.
Kemudian Ali menyampaikan peringatannya:
Jika aku menerima permintaan kalian, aku akan memimpin berdasarkan apa yang aku ketahui. Aku tidak akan mendengarkan tuntutan orang yang ingin mengaturku dan tidak akan takut kepada celaan.
Itulah perjanjiannya.
Ali tidak menjanjikan pemerintahan yang nyaman bagi para pemilik kepentingan.
Ali menjanjikan kebenaran.
Dan kebenaran sering kali terasa seperti ancaman bagi orang yang hidup dari ketidakadilan.
Keadilan Mengusik Orang-Orang yang Nyaman
Begitu menerima pemerintahan, Ali mulai mengembalikan harta negara yang telah dibagikan secara tidak adil.
Beliau berkata bahwa seandainya harta itu telah digunakan sebagai mahar perempuan atau untuk membeli budak, beliau tetap akan mengembalikannya kepada negara.
Mengapa?
“Karena dalam keadilan terdapat keluasan. Barang siapa merasa sempit oleh keadilan, kezaliman akan terasa lebih sempit baginya.”
Orang-orang yang telah menikmati kemewahan tentu tidak menyukai kebijakan itu.
Mereka mungkin bersedia memuji keberanian Ali di Khaibar, selama Ali tidak menyentuh kekayaan mereka.
Mereka bersedia meriwayatkan keutamaan Ali, selama keutamaan itu hanya menjadi cerita masa lalu.
Namun, ketika Ali datang sebagai pemerintah dan berkata, “Kembalikan apa yang bukan hakmu,” kecintaan itu segera berubah menjadi perlawanan.
Inilah sebabnya keadilan selalu mempunyai musuh.
Bukan karena keadilan buruk.
Tetapi karena ketidakadilan telah memberikan kenyamanan kepada orang-orang tertentu.
Bagi orang miskin, kesetaraan adalah pembebasan.
Bagi pemilik hak istimewa, kesetaraan terasa seperti perampasan.
Mereka tidak kehilangan hak.
Mereka hanya kehilangan kelebihan yang sejak awal bukan miliknya.
Belilah Kesetiaan Mereka, Wahai Ali!
Sebagian penasihat kemudian menyarankan agar Imam Ali menggunakan harta negara untuk menarik hati para pemuka. Berikan bagian lebih besar kepada orang-orang kuat. Dahulukan para bangsawan. Beli kesetiaan mereka agar pemerintahan menjadi stabil.
Secara politik, saran itu terdengar masuk akal.
Dengan uang, Ali dapat membeli pasukan.
Dengan jabatan, Ali dapat meredam pemberontakan.
Dengan keistimewaan, Ali dapat membuat para elite tetap berada di sisinya.
Tetapi Ali menjawab:
“Apakah kalian memerintahkanku mencari kemenangan melalui kezaliman terhadap orang-orang yang aku pimpin?”
Kemudian beliau bersumpah tidak akan melakukannya.
Jika harta itu milik Ali sekalipun, beliau akan membagikannya secara adil. Terlebih lagi, harta tersebut adalah milik Allah dan hak rakyat.
Inilah titik yang menjelaskan seluruh peperangan pada masa Ali.
Ali sebenarnya dapat membeli ketenangan.
Namun, harganya adalah keadilan.
Ali dapat menghindari sebagian perang dengan membiarkan Muawiyah tetap berkuasa dan menunda pemeriksaannya.
Ali dapat memuaskan Thalhah dan Zubair dengan jabatan yang mereka inginkan.
Ali dapat mempertahankan dukungan para bangsawan dengan memberikan harta lebih banyak daripada yang diterima rakyat biasa.
Ali dapat menjadi penguasa yang “damai” jika bersedia membiarkan ketidakadilan tetap hidup.
Tetapi pemerintahan seperti itu mungkin tenang di permukaan, sementara kebenaran telah dikuburkan di bawahnya.
Ali memilih kehilangan pendukung daripada kehilangan keadilan.
Mereka Datang Membawa Perang
Ali tidak menciptakan Perang Jamal.
Thalhah dan Zubair telah memberikan baiat, kemudian membatalkannya. Mereka bergerak bersama Aisyah menuju Basrah dan membangun kekuatan bersenjata.
Ali berusaha mencegah perang.
Beliau mengirim utusan.
Beliau mengajak mereka kembali kepada ketaatan.
Beliau berbicara kepada Zubair dan mengingatkannya kepada perkataan Rasulullah.
Namun, ketika pasukan telah berhadapan dan semua jalan damai dihancurkan, Ali tidak boleh membiarkan negara diseret oleh pemberontakan.
Ali tidak menciptakan Perang Shiffin.
Muawiyah menolak menaati pemerintahan pusat. Ia menggunakan darah Utsman sebagai bendera politik, meskipun tidak pernah memberikan baiat kepada Ali dan tidak mempunyai wewenang menentukan siapa yang harus diadili.
Ali mengirim surat.
Ali mengajukan hujah.
Ali memberikan kesempatan untuk kembali.
Tetapi Syam datang dengan pasukan.
Ali juga tidak menciptakan Nahrawan.
Kaum Khawarij keluar dari barisannya sendiri. Mereka mengafirkan orang yang tidak menerima pandangannya, meneror masyarakat, dan menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah.
Ali masih mengajak mereka berdialog.
Sebagian kembali.
Namun, mereka yang bertahan dalam kekerasan akhirnya harus dihadapi.
Jamal adalah perang melawan orang-orang yang membatalkan baiat.
Shiffin adalah perang melawan kekuasaan yang membangkang.
Nahrawan adalah perang melawan kelompok yang keluar dari keseimbangan agama dan menghalalkan darah.
Al-Qur’an sendiri memerintahkan:
“Jika salah satu dari dua kelompok orang beriman berbuat melampaui batas terhadap yang lain, perangilah kelompok yang melampaui batas itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah.”
Ali tidak berperang karena membenci perdamaian.
Ali berperang karena perdamaian telah ditolak oleh pihak yang memilih pembangkangan.
Kedamaian atau Keheningan Kuburan?
Manusia sering keliru membedakan kedamaian dengan keheningan.
Sebuah negeri dapat tampak tenang karena orang-orang yang dizalimi tidak berani berbicara.
Sebuah pemerintahan dapat terlihat stabil karena para penguasa membagikan kekayaan kepada kelompok kuat.
Sebuah masyarakat dapat tidak berperang karena semua orang telah sepakat membiarkan ketidakadilan.
Tetapi itu bukan kedamaian.
Itu keheningan kuburan.
Ali tidak datang untuk menjaga ketenangan palsu. Beliau datang untuk menghidupkan kembali keadilan yang telah dilemahkan.
Dan ketika keadilan dibangkitkan, orang-orang yang menikmati ketidakadilan segera menghunus pedangnya.
Maka bukan Ali yang membawa perang.
Ali membawa timbangan.
Orang-orang yang takut ditimbanglah yang membawa perang.
Jawaban yang Menghantam Zaman
“Mereka memimpin orang seperti aku, sedangkan aku memimpin orang-orang seperti kalian.”
Kalimat itu tidak harus dibaca sebagai pengakuan bahwa pemerintahan sebelumnya telah memperoleh legitimasi Ilahi dari Ali. Pesannya adalah perbandingan moral.
Ketika Ali berada dalam posisi sebagai rakyat yang haknya disingkirkan, ia menahan diri agar Islam tidak hancur.
Ketika orang-orang lain berada di bawah pemerintahan Ali, mereka tidak mempunyai kesabaran dan ketulusan yang sama. Mereka memberontak karena jabatan, kekayaan, dendam, serta ambisi.
Mereka mempunyai Ali yang menahan pedang.
Ali mempunyai mereka yang menghunus pedang.
Mereka mempunyai Ali yang mendahulukan Islam daripada luka pribadinya.
Ali menghadapi manusia yang mendahulukan kepentingan pribadi daripada keselamatan Islam.
Jadi, jangan bertanya mengapa pemerintahan Ali dipenuhi peperangan seakan-akan Ali adalah sumbernya.
Bertanyalah:
Mengapa orang-orang tidak sanggup dipimpin oleh manusia paling adil setelah Rasulullah?
Mengapa para sahabat yang mengetahui keutamaannya justru mengangkat senjata?
Mengapa kesetaraan membuat para bangsawan marah?
Mengapa pengembalian harta negara dianggap sebagai ancaman?
Mengapa manusia memuji keadilan ketika menjadi pidato, tetapi melawannya ketika keadilan menyentuh kekayaan dan kekuasaan mereka?
Ali tidak mewarisi kedamaian lalu mengubahnya menjadi perang.
Ali mewarisi bara yang ditutupi abu.
Ketika beliau membuka penutupnya untuk membersihkan kerusakan, api yang selama ini disembunyikan mendadak terlihat.
Lalu orang-orang menyalahkan Ali karena asap memenuhi udara.
Malam semakin dalam.
Lelaki yang mengajukan pertanyaan itu tidak lagi sedang menatap seorang penguasa yang dituduh gagal menjaga kedamaian.
Ia sedang menatap manusia yang sepanjang hidupnya harus membayar harga karena tidak mau berdamai dengan kezaliman.
Ali dapat memperoleh pemerintahan tanpa peperangan.
Syaratnya hanya satu:
Ia harus berhenti menjadi Ali.
Namun, jika keadilan harus dibeli dengan mengkhianati kebenaran, Ali lebih memilih berdiri seorang diri di tengah ribuan pedang.
Sebab bagi Ali, kemenangan bukan ketika semua orang tunduk kepada kekuasaannya.
Kemenangan adalah ketika dirinya tidak pernah tunduk kepada kezaliman.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan:
Ungkapan “Mereka memimpin orang seperti aku, sedangkan aku memimpin orang-orang seperti kalian” sangat populer dan dinisbatkan kepada Imam Ali, tetapi sumber awalnya saya belum berhasil menemukan detail secara meyakinkan.
Karena itu, saya sebut sebagai ungkapan masyhur yang dinisbatkan kepada Imam Ali, bukan hadis sahih yang telah dipastikan sanadnya. Adapun gagasan utama tulisan ini berpijak pada ucapan Imam Ali yang tercatat dalam Nahjul Balaghah: “Khutbah 3” tentang kelompok yang membatalkan baiat, membangkang, dan keluar; “Khutbah 15” tentang pengembalian harta negara; “Khutbah 92” mengenai peringatannya sebelum menerima pemerintahan; serta “Khutbah 126”: tentang penolakan mencari kemenangan melalui kezaliman. Lihat pula QS Ali Imran [3]:144, QS al-Qashash [28]:83, dan QS al-Hujurat [49]:9.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1JE3fGzaT9/

