Kufah sedang riuh.
Orang-orang berdebat tentang Ali bin Abi Thalib.
Sebagian mencintainya dengan kesadaran. Sebagian berlebihan hingga melewati batas. Sebagian mengaku mengikutinya, tetapi masih ragu ketika kebenaran menuntut keberanian.
Dan sebagian lagi sibuk membandingkan Ali dengan tiga orang yang mendahuluinya dalam kekhalifahan.
Di tengah kegaduhan itu, seorang lelaki tua berjalan menuju rumah Amirul Mukminin.
Namanya al-Harits al-Hamdani.
Tubuhnya sedang sakit. Punggungnya membungkuk. Kakinya gemetar. Setiap beberapa langkah, tongkatnya menghantam tanah untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Tak… tak… tak…
Orang-orang yang melihatnya memberi jalan.
Al-Harits bukan sedang mencari tabib.
Ia ingin menemui Ali.
Ketika sampai, ia melihat Amirul Mukminin dikelilingi beberapa pengikutnya. Ali segera memperhatikan langkah sahabat tuanya yang tertatih-tatih.
Beliau bangkit dan mendekatinya.
“Bagaimana keadaanmu, wahai Harits?”
Al-Harits menarik napas panjang.
“Usia telah mengalahkanku, wahai Amirul Mukminin. Penyakit melemahkan tubuhku. Namun ada sesuatu yang lebih menyakitkan daripada semua itu.”
Ali memandangnya.
“Apa itu?”
“Perdebatan orang-orang tentang dirimu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Al-Harits melanjutkan,
“Ada yang berlebihan dalam mencintaimu. Ada yang tertinggal dan menjauh darimu. Ada pula yang ragu—tidak mengetahui apakah harus maju bersamamu atau mundur meninggalkanmu.”
Imam Ali mendengarkannya tanpa memotong.
Beliau telah menghadapi ribuan pedang di medan perang. Namun luka terbesar sering kali bukan datang dari besi musuh.
Luka itu datang dari kebingungan orang-orang yang mengaku mencintainya.
Ali berkata,
“Cukuplah, wahai saudara dari Hamdan.”
Beliau kemudian mengajarkan agar kecintaan tidak berubah menjadi sikap melampaui batas, dan agar keraguan tidak menjauhkan seseorang dari kebenaran.
“Sesungguhnya sebaik-baik pengikutku adalah mereka yang berada di jalan pertengahan. Kepada merekalah orang yang berlebihan harus kembali, dan bersama merekalah orang yang tertinggal harus menyusul.”
Al-Harits menunduk.
Kemudian ia mengangkat wajahnya dan berkata,
“Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, aku mencintaimu.”
Ali menatap jauh ke dalam matanya.
“Apakah engkau benar-benar mencintaiku, wahai Harits?”
“Demi Allah, aku mencintaimu.”
Imam Ali mengulurkan tangannya.
Beliau menggenggam tangan tua yang gemetar itu.
“Wahai Harits, aku menggenggam tanganmu sebagaimana dahulu Rasulullah menggenggam tanganku.”
Tubuh al-Harits seakan berhenti bergetar.
Ali melanjutkan,
“Rasulullah pernah mengadukan kepadaku kedengkian Quraisy dan kaum munafik. Lalu beliau memberitahuku bahwa pada Hari Kiamat, beliau akan berpegang kepada tali Allah. Aku akan berpegang kepada Rasulullah. Keturunanku akan berpegang kepadaku. Dan para pengikut kami akan berpegang kepada kami.”
Genggaman Ali semakin erat.
“Wahai Harits, engkau akan bersama orang yang engkau cintai. Dan engkau akan memperoleh apa yang telah engkau usahakan.”
Air mata mengalir di wajah al-Harits.
Seluruh hidupnya seperti diringkas dalam satu kalimat:
Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.
Tetapi Ali belum selesai.
Suara beliau menjadi lebih dalam.
“Wahai Harits, apabila rohmu telah sampai di tenggorokan, engkau akan melihatku dalam keadaan yang engkau sukai.”
Al-Harits terpaku.
Ruangan seakan menghilang.
Kufah menjadi sunyi.
Yang terdengar hanyalah suara Ali menjelaskan sebuah pertemuan yang berada di balik batas kehidupan.
“Engkau akan melihatku di telaga Rasulullah, ketika aku menghalau orang-orang darinya seperti unta asing dihalau dari sumber air.”
“Engkau akan melihatku ketika aku melintas di atas Shirath dengan membawa Panji Pujian di hadapan Rasulullah.”
“Orang mukmin akan melihatku dan mengenaliku.”
“Orang munafik pun akan melihatku dan aku mengenalinya.”
Lalu lahirlah kalimat yang kelak hidup dalam dada para pecinta Ali sepanjang zaman:
“Wahai Harits dari Hamdan, siapa pun yang mati akan melihatku—baik mukmin maupun munafik.”
Orang mukmin melihatnya sebagai kabar gembira.
Orang munafik melihatnya sebagai penyingkap segala sesuatu yang disembunyikannya.
Sebab kematian merobek semua topeng.
Di hadapan Ali, gelar tidak berguna.
Pakaian kesalehan tidak berguna.
Pengakuan cinta tidak berguna.
Yang tersisa hanyalah apa yang benar-benar disimpan di dalam hati dan dibuktikan melalui kehidupan.
Al-Harits yang tadi datang dengan tubuh membungkuk perlahan berdiri.
Tangannya masih memegang tongkat.
Penyakitnya belum sembuh.
Usianya tidak kembali muda.
Kakinya masih gemetar.
Namun ketakutannya telah hilang.
Ia menarik jubahnya, lalu berjalan meninggalkan tempat itu sambil berkata,
“Setelah mendengar ini, aku tidak peduli lagi apakah aku yang akan menemui kematian—atau kematian yang akan menemuiku.”
Tak… tak… tak…
Tongkatnya kembali menghantam tanah Kufah.
Tetapi kini bunyinya berbeda.
Ia tidak lagi terdengar seperti langkah seorang lelaki sakit.
Ia terdengar seperti langkah seorang pecinta yang telah mengetahui siapa yang akan menunggunya di pintu kematian.
Al-Harits datang kepada Ali dengan tubuh yang hampir roboh.
Ia pulang dengan jiwa yang tidak lagi takut kepada maut.
Sebab baginya, kematian bukanlah masuk ke dalam kesendirian.
Kematian hanyalah perjalanan menuju sebuah pertemuan.
Pertemuan dengan Rasulullah.
Pertemuan dengan orang-orang yang dicintainya.
Dan di ambang perjalanan itu— Ali telah berjanji akan berada di sana.

Catatan:
Kisah al-Harits al-Hamdani ini diriwayatkan melalui al-Ashbagh bin Nubatah dalam tradisi Ahlul Bait, antara lain dalam al-Amali.
Teks riwayat dan nasihat Imam Ali, redaksi lengkap kisah al-Harits
—
Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19g2SWEvgB/

