1. Pembukaan dan Pengantar Kajian Mahdawiyah
- Rutinitas Doa Nudbah:
Kajian diawali dengan rutinitas pembacaan Doa An-Nudbah serta pembahasan topik seputar Al-Imam Al-Mahdi ajallallahu ta’ala farajahusy-syarif. - Misi Utama Imam Mahdi:
Tugas utama Al-Imam Al-Mahdi adalah memenuhi bumi dengan keadilan (yamla’ul ardha qisthan wa ‘adla) serta memerangi segala bentuk kerusakan (fasad) dan penumpahan darah di muka bumi.
Kehadiran beliau menjadi jawaban atas kekhawatiran para malaikat di awal penciptaan manusia (ataj’alu fiha may yufsidu fiha wa yasfikud-dima’). - Kaitan Bani Israil dengan Kebangkitan Imam Mahdi: Pembahasan mengenai Bani Israil dan 10 ayat pertama Surah Al-Isra’ diangkat karena memiliki keterkaitan erat dengan kebangkitan Imam Mahdi.
- Keutamaan Surah Al-Isra’ (Surah Bani Israil): Merujuk pada riwayat Al-Imam Ja’far As-Sadiq a.s., barangsiapa membaca Surah Bani Israil (Al-Isra’) pada setiap malam Jumat, maka ia tidak akan meninggal dunia sampai menjumpai Al-Qa’im (Imam Mahdi) dan menjadi bagian dari sahabat-sahabat beliau.
2. Pembahasan Ayat 1 Surah Al-Isra’: Peristiwa Isra’ dan Mi’raj
- Lafaz Ayat 1:
“Subhanalladzi asra bi’abdihi lailan minal-Masjidil Harami ilal-Masjidil Aqshal-ladzi barakna haulahu linuriyaahu min ayatina innahu huwas-sami’ul bashir.”
- Keberkahan Masjidil Aqsa: Perjalanan diawali dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, suatu kawasan yang ditegaskan dalam Al-Qur’an telah diberkahi sekelilingnya (alladzi barakna haulahu).
- Tujuan Isra’: Perjalanan malam tersebut bertujuan untuk memperlihatkan sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT (linuriyaahu min ayatina) kepada Nabi Muhammad SAW.
- Sifat Perjalanan (Jasmani dan Rohani):
- Peristiwa Isra’ dan Mi’raj berlangsung dalam satu malam (Nabi SAW melaksanakan salat Maghrib dan Subuh kembali di Masjidil Haram).
- Mayoritas ahli tafsir dan ulama sepakat bahwa perjalanan tersebut dilakukan secara jasmani dan rohani (ruh dan jasad) dalam keadaan sadar penuh, bukan dalam kondisi tidur/mimpi.
- Penggunaan kata ‘abd (bi’abdihi) membuktikan bahwa perjalanan melibatkan fisik dan ruh, karena kata ‘abd mencakup keduanya.
- Pembuktian fisik juga terdapat dalam Surah An-Najm melalui penggunaan kata bashar (mazaghal-basharu wa ma thagha), yang merujuk pada penglihatan mata fisik.
- Korelasi Surah Al-Isra’ dan Surah An-Najm: Surah Al-Isra’ lebih banyak mengulas peristiwa Isra’ (perjalanan bumi), sedangkan Surah An-Najm menerangkan peristiwa Mi’raj (kenaikan ke langit hingga Sidratul Muntaha). Nabi SAW diperlihatkan sebagian (min) dari keagungan Allah yang sangat luar biasa.
- Urgensi Tempat Suci: Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa merupakan titik-titik spiritual penting, yang menjadi alasan mengapa kekuatan-kekuatan jahat selalu berusaha merusak tempat-tempat suci tersebut.
3. Pandangan Para Ulama Mengenai Isra’ dan Mi’raj
- Syekh At-Tusi (Tafsir At-Tibyan): Menjelaskan bahwa Nabi SAW dimi’rajkan menembus langit demi langit hingga mencapai Sidratul Muntaha di langit ketujuh dalam keadaan sadar (yaqazhan), untuk memperkuat makrifat dan keyakinan beliau.
- At-Thabarsi (Tafsir Majma’ul Bayan): Menegaskan bahwa pendapat yang menyatakan peristiwa ini hanya terjadi dalam tidur/mimpi adalah batil, sebab jika sekadar mimpi, hal itu tidak bisa dikategorikan sebagai mukjizat maupun bukti (burhan).
- Al-Allamah Al-Majlisi (Biharul Anwar): Menyebutkan adanya kesepakatan ulama (dalam riwayat Syiah maupun Sunnah) mengenai Isra’ Mi’raj secara jasmani dan rohani. Menganggap peristiwa tersebut hanya sebatas ruhani atau mimpi dinilai lahir dari keterbatasan kajian atau kelemahan keyakinan.
4. Hikmah Mi’raj dan Tinjauan Ilmiah
- Sebab Mi’raj menurut Imam Ja’far As-Sadiq a.s.:
- Allah SWT tidak membutuhkan tempat dan tidak terikat oleh waktu/zaman; Mi’raj bukan bertujuan menemui Allah di tempat tertentu.
- Hikmah utamanya adalah untuk memuliakan para malaikat dan penghuni langit (sukkanas-samawat) dengan kesempatan menyaksikan langsung sebaik-baik makhluk (Nabi Muhammad SAW), serta memperlihatkan keajaiban keagungan-Nya kepada Nabi agar dikabarkan kepada umat manusia.
- Penjelasan Ilmiah/Fisika:
- Terkait pertanyaan apakah jasad manusia sanggup terbang ke langit menembus tekanan udara atau ketiadaan oksigen, dijawab bahwa Allah SWT Sang Pencipta hukum alam telah menyediakan sarana/kendaraan yang tepat (markaban munasiban).
- Kendaraan tersebut dilengkapi sistem perlindungan menyeluruh sehingga seluruh kebutuhan fisik Nabi SAW selama perjalanan menuju langit tetap terpenuhi dan terlindungi dari bahaya.
5. Pembahasan Ayat 2 Surah Al-Isra’: Kitab Taurat dan Pesan Tauhid
- Lafaz Ayat 2:
“Wa ataina Musal-kitaba wa ja’alnahu hudan li Bani Isra’ila alla tattakhidzu min duni wakila.”
- Pemberian Kitab Taurat: Allah SWT memberikan Kitab Taurat kepada Nabi Musa a.s. sebagai petunjuk bagi Bani Israil.
- Pesan Utama Tauhid: Inti ajaran dalam Taurat adalah perintah tauhid murni, yaitu melarang manusia mengambil pelindung, penolong, atau menyekutukan Allah SWT dengan selain-Nya.
6. Pembahasan Ayat 3 Surah Al-Isra’: Keturunan Nabi Nuh a.s. dan Keutamaan Syukur
- Lafaz Ayat 3:
“Dhurriyyata man hamalna ma’a Nuhin innahu kana ‘abdan syakura.”
- Asal-Usul Bani Israil: Ayat ini menegaskan bahwa Bani Israil merupakan anak keturunan dari orang-orang yang diangkut dan diselamatkan bersama Nabi Nuh a.s. di dalam bahtera.
- Penyifatan Nabi Nuh a.s. (‘Abdan Syakura):
- Nabi Nuh a.s. digambarkan sebagai hamba yang senantiasa dan banyak bersyukur (da’imush-syukr) atas setiap nikmat, bahkan pada setiap suapan makanan dan tegukan air.
- Korelasi Syukur dan Kerusakan (Fasad):
- Seseorang melakukan penumpahan darah dan kerusakan di bumi karena rasa tidak bersyukur dan tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dimilikinya.
- Orang yang benar-benar bersyukur tidak akan pernah melakukan kerusakan di muka bumi.
- Doa Nabi Nuh a.s. (Riwayat Imam Muhammad Al-Baqir a.s.): Nabi Nuh a.s. senantiasa membaca doa berikut setiap pagi dan petang:
“Allahumma inni usyhiduka anna ma asbaha aw amsa bi min ni’matin fi dinin aw dunya faminka wahdaka la syarika lak, lakal-hamdu wa lakas-syukru biha ‘alaiyya hatta tardha wa ba’dar-ridha.” (Artinya: Ya Allah, aku bersaksi kepada-Mu bahwa setiap nikmat yang ada padaku di pagi dan petang hari, baik dalam urusan agama maupun dunia, adalah semata-mata dari-Mu Yang Maha Esa tanpa sekutu. Bagi-Mu segala pujian dan rasa syukur hingga Engkau ridha dan setelah ridha-Mu).
7. Penutup Kajian dan Doa
- Sesi Pertemuan: Pembahasan materi dicukupkan sampai ayat ke-3 dan akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya.
- Solidaritas dan Doa: Kajian ditutup dengan doa untuk keselamatan dan pembebasan masyarakat Palestina yang tertindas (khususnya di Gaza dan Rafah), serta pendoaan kemenangan bagi poros perlawanan (al-mumahhidun) yang setia mempersiapkan kemunculan Al-Imam Al-Mahdi a.s..

Video sumber: ALQURBA TV
LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :
https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

