18 October 2026

TULISAN 5

Sejarah yang dewasa tidak harus menyangkal adanya perkembangan ilmu pada zaman Abbasiyah. Namun, sejarah yang jujur harus menolak menjadikan perkembangan itu sebagai mahkota kesucian bagi para penguasanya.

Kita dapat mengakui bahwa Bagdad berkembang menjadi pusat perdagangan dan pertukaran intelektual tanpa mengatakan bahwa Harun adalah sumber seluruh kecerdasan zamannya.
Kita dapat mencatat adanya patronase istana tanpa menganggap setiap tindakan istana menjadi benar.
Kita dapat menghargai karya ilmuwan tanpa harus memuliakan penguasa yang memenjarakan Ahlul Bait.

Inilah pemisahan yang harus dicamkan:

  • Pertama, ilmu merupakan hasil kerja manusia, komunitas, dan akumulasi berbagai peradaban.
  • Kedua, dukungan penguasa terhadap ilmu hanyalah salah satu kondisi sejarah, bukan sumber tunggal kemajuan.
  • Ketiga, patronase ilmu tidak memberikan kekebalan moral kepada penguasa.
  • Keempat, kejahatan terhadap manusia tetap melekat sebagai kejahatan, meskipun dilakukan oleh pemerintahan yang berhasil secara ekonomi atau kebudayaan.
  • Kelima, kemajuan material tidak identik dengan kemajuan akhlak.

Harun al-Rasyid mungkin memerintah pada masa Bagdad sedang berkembang.

Itu adalah fakta konteks.

Namun, Imam Musa al-Kazim a.s. dipenjara dan wafat dalam sistem kekuasaannya. Itu adalah fakta moral yang tidak boleh diletakkan sebagai catatan kecil di bawah kisah istana.

Jangan sampai sejarah hanya menuliskan jumlah kitab yang diterjemahkan, tetapi lupa menghitung panjangnya rantai yang membelenggu seorang Imam.

Jangan sampai sejarah mengagumi cahaya lampu-lampu Bagdad, tetapi menutup mata terhadap gelapnya sel penjara.

Jangan sampai keberhasilan administratif seorang raja diubah menjadi alasan untuk meminta korban memaafkan penindasnya.

Pada akhirnya, Harun memiliki istana, tetapi Imam Musa memiliki kemerdekaan jiwa. Harun menguasai aparatur negara, tetapi Imam Musa menguasai dirinya sendiri.
Harun dapat memerintahkan penangkapan tubuh beliau, tetapi tidak pernah mampu menaklukkan kebenaran yang beliau bawa.

Karena itu, kesimpulan sejarahnya harus tegas:

Kemajuan ilmu pada masa Abbasiyah adalah milik para ilmuwan dan peradaban manusia. Kezaliman Harun al-Rasyid adalah tanggung jawab Harun al-Rasyid.
Yang pertama tidak boleh dirampas oleh raja, dan yang kedua tidak boleh dihapus oleh kemegahan zamannya.

Istana dapat menuliskan pujian. Para penyair dapat menyanyikan kejayaan. Para sejarawan resmi dapat menyebut zamannya sebagai zaman keemasan.

Namun, selama penjara Imam Musa al-Kazim a.s. masih diingat, emas itu tidak akan pernah mampu menutupi karat moral kekuasaan.

Mahkota bukan ukuran kebenaran. Kemajuan bukan penghapus kejahatan. Dan peradaban yang kehilangan keadilan hanyalah kemegahan yang sedang menunggu keruntuhannya.

Wallahu a‘lam.

(Selesai Untuk Sementara)

Harun tulisan5

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1HUtW6U6Vs/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us