Hindari 6 Hal Ini, Jangan Sampai Dirimu Tabrakan | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Manusia dan Dualisme Rene Descartes
Di antara semua makhluk, manusia adalah yang paling unik menurut perspektif Rene Descartes.
Manusia memiliki dua unsur sekaligus: res extensa (materi/tubuh) dan res cogitans (pikiran/kesadaran).
Berbeda dengan hewan yang dianggap mekanis tanpa kesadaran diri, manusia adalah kombinasi antara mental dan material.
Tubuh manusia bekerja secara mekanis seperti mesin, namun ia memiliki jiwa atau pikiran yang rasional.
Pikiran inilah yang memengaruhi tubuh, meskipun tubuh terkadang juga memengaruhi pikiran.
Konsep Tuhan sebagai “Clockmaker” dan Sunnatullah
Dalam filsafat Barat, termasuk pemikiran Descartes, Tuhan sering dianalogikan sebagai “The Clockmaker” atau tukang pembuat jam.
Tuhan menciptakan alam semesta, memberikan hukum-hukum di dalamnya (yang kita kenal sebagai sunnatullah), lalu alam tersebut berjalan secara mekanis sesuai rumusnya sendiri.
Hal ini berlaku pula bagi fisik manusia. Tubuh kita adalah materi yang mekanis dan tunduk pada sunnatullah.
Jika terkena virus, kita jatuh sakit; jika kehujanan, kita bersin-bersin. Itu adalah rumus alamiahnya.
Namun, yang membedakan manusia adalah adanya “sopir” yang mengendalikan mesin tubuh tersebut, yaitu akal atau jiwa.
Akal sebagai Sopir Tubuh
Sebagai makhluk dua dimensi, kunci utama manusia terletak pada akalnya.
Akal memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap tubuh. Meskipun fisik sedang lemah, semangat yang kuat dari akal bisa tetap membuat seseorang tangguh.
Sebaliknya, meskipun tubuh sehat, jika akal tidak jernih, tindakan manusia bisa menjadi tidak terarah.
Oleh karena itu, dalam mengendalikan “kendaraan” tubuh ini, kita harus menjadi sopir yang bijak.
Descartes memperingatkan agar kita menghindari enam kondisi emosional yang berlebihan agar tidak terjadi “tabrakan” dalam hidup:
- Jangan terlalu suka (Cinta yang berlebihan).
- Jangan terlalu benci.
- Jangan terlalu kagum (karena kekaguman yang berlebihan seringkali melumpuhkan logika rasional).
- Jangan terlalu penuh gairah/semangat yang meledak-ledak.
- Jangan terlalu gembira.
- Jangan terlalu sedih.
Jika keenam hal ini mendominasi, cara kita “menyetir” hidup akan kacau dan berisiko menabrak ke sana-kemari.
Proses Kerja Pikiran: Dari Mata ke Akal
Descartes menjelaskan bahwa proses manusia memahami sesuatu dimulai dari indra.
Misalnya, mata hanyalah berfungsi seperti kamera yang menangkap gambar tanpa memahami maknanya.
Sinyal gambar ini kemudian dikirim oleh saraf ke otak fisik.
Namun, otak fisik bukanlah pemberi makna terakhir. Sinyal tersebut diteruskan ke akal (otak non-fisik).
Akal inilah yang kemudian menginformasikan apa objek tersebut dan bagaimana kita harus meresponsnya.
Tanpa akal yang berjalan, indra kita hanya akan menangkap informasi tanpa bisa mengolahnya secara bermakna.
Glandula Pineal: Jembatan Antara Fisik dan Ruhani
Satu misteri besar dalam dualisme ini adalah bagaimana sesuatu yang fisik (otak) bisa berkomunikasi dengan yang non-fisik (akal/jiwa).
Descartes mengasumsikan adanya sebuah bagian bernama Pineal Gland (Glandula Pineal) yang terletak di tengah-tengah otak.
Bagian ini dianggap sebagai pemancar atau transmitter antara dunia fisik dan dunia ruhani.
Jika “sinyal” ini rusak, komunikasi antara pikiran dan tubuh akan kacau.
Dalam tradisi filsafat lain, akal ruhani ini bahkan bisa berhubungan dengan pengetahuan yang lebih tinggi (akal mustafad) tanpa melalui informasi indrawi dari bawah.
Kesimpulan
Manusia adalah makhluk dualistik yang terdiri dari jasmani dan rohani.
Meskipun tubuh memiliki mekanismenya sendiri, kendali utama tetap berada pada pikiran atau jiwa (main).
Dengan menjaga kejernihan akal dan mengendalikan emosi yang berlebihan, manusia dapat menjalani hidupnya dengan lebih stabil dan bijaksana.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







