15 October 2026

NABI TIDAK MENINGGALKAN TEKA-TEKI

BAGIAN VII

Agama Ini Disempurnakan dengan Penjelasan, Bukan Dugaan

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”

(QS. al-Ma’idah: 3)

Ada satu pertanyaan yang selama ini jarang diajukan, padahal justru menjadi inti persoalan.

Apakah Rasulullah SAW meninggalkan umat dengan sebuah penjelasan, atau dengan sebuah teka-teki?

Kalau jawabannya adalah penjelasan, maka umat harus mencarinya pada sabda-sabda beliau yang paling jelas.

Kalau jawabannya adalah teka-teki, maka umat akan terus mencari isyarat di balik setiap peristiwa.

Sayangnya, dalam persoalan kepemimpinan setelah Rasulullah SAW, sebagian orang justru lebih sibuk mencari simbol daripada mendengarkan ucapan Nabi sendiri.

Mereka menjadikan siapa yang berdiri di mihrab sebagai petunjuk.

Tetapi menganggap khutbah Ghadir sebagai sekadar anjuran mencintai Ali.

Mereka menjadikan sebuah peristiwa shalat sebagai dalil politik.

Tetapi menganggap Hadis Tsaqalain hanya sebagai nasihat moral.

Padahal Al-Qur’an mengajarkan prinsip yang sebaliknya.

Allah Tidak Berbicara dengan Bahasa yang Membingungkan

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menetapkan hukum.

Ketika menjelaskan warisan, Allah merinci pembagiannya.

Ketika menjelaskan puasa, Allah menerangkan waktunya.

Ketika menjelaskan wudhu, Allah menyebutkan anggota-anggotanya.

Ketika menjelaskan kiblat, Allah menunjukkan arahnya.

Mengapa?

Karena agama tidak dibangun di atas dugaan.

Allah SWT berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian.”

**(QS. al-Ma’idah: 3)

Kalau agama telah sempurna, apakah masuk akal persoalan terbesar setelah wafat Rasulullah SAW justru diserahkan kepada dugaan manusia?

Bukankah kepemimpinan umat jauh lebih besar dampaknya daripada pembagian harta warisan?

Kalau warisan dijelaskan begitu rinci, mengapa kepemimpinan justru dikatakan cukup dipahami melalui isyarat yang tidak pernah dijelaskan Rasulullah SAW?

Di sinilah logika itu mulai retak.

Tujuh Peristiwa, Satu Benang Merah

Mari kita lihat kembali perjalanan yang telah kita bahas.

Di Jurf, Rasulullah SAW terus menegaskan agar pasukan Usamah segera berangkat.

Di hari-hari terakhir, beliau tetap memikirkan pelaksanaan perintahnya meskipun tubuh beliau semakin lemah.

Ketika muncul persoalan imam shalat, beliau tidak membiarkan keadaan berjalan tanpa kehadiran beliau.

Beliau bangkit dalam kondisi yang sangat berat dan keluar menuju masjid.

Setelah beliau wafat, lahirlah Saqifah, yang justru menunjukkan bahwa persoalan kepemimpinan masih diperdebatkan.

Padahal jauh sebelumnya, di Ghadir Khum, Rasulullah SAW telah menghentikan ribuan jamaah dan menyampaikan khutbah yang sangat besar.

Kemudian beliau meninggalkan Hadis Tsaqalain, sebuah wasiat yang mengikat Al-Qur’an dengan Ahlul Bait hingga Hari Kiamat.

Apakah semua peristiwa ini berdiri sendiri?

Ataukah sebenarnya mereka membentuk satu rangkaian yang utuh?

Menurut kami, justru ketika semua peristiwa itu dibaca bersama, arah sejarah menjadi jauh lebih jelas.

Dugaan Tidak Dapat Mengalahkan Nash

Al-Qur’an memberikan satu kaidah yang sangat mendasar.

إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

“Sesungguhnya dugaan tidak sedikit pun dapat menggantikan kebenaran.”

**(QS. Yunus: 36)

Ayat ini bukan hanya berbicara tentang akidah.

Ia juga mengajarkan metodologi berpikir.

Kalau ada nash yang jelas, kita tidak boleh meninggalkannya demi dugaan.

Kalau ada wasiat yang tegas, kita tidak boleh menggantinya dengan inferensi.

Kalau ada khutbah yang disampaikan di hadapan puluhan ribu manusia, kita tidak boleh mengabaikannya demi sebuah penafsiran yang lahir belakangan.

Inilah persoalan metodologi.

Bukan sekadar persoalan mazhab.

Mengapa Perdebatan Ini Tidak Pernah Selesai?

Jawabannya sederhana.

Karena sejak awal, umat Islam menggunakan dua pendekatan yang berbeda.

Pendekatan pertama mengatakan:

Carilah siapa yang paling layak menurut musyawarah dan ijtihad para sahabat.

Pendekatan kedua mengatakan:

Carilah siapa yang telah ditunjuk Rasulullah SAW melalui nash-nash beliau.

Dua metode yang berbeda tentu akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

Karena itu, persoalan utama sebenarnya bukanlah Abu Bakar atau Ali.

Persoalan utamanya adalah:

Apakah kepemimpinan agama ditetapkan oleh ijtihad manusia, atau oleh penjelasan Rasulullah SAW?

Pertanyaan inilah yang melahirkan dua arus besar dalam sejarah Islam.

Jangan Takut kepada Sejarah

Ada orang yang takut membuka kembali lembaran sejarah.

Mereka khawatir jika sejarah dibaca ulang, maka kecintaan kepada para sahabat akan hilang.

Kekhawatiran itu tidak berdasar.

Membaca sejarah bukan berarti membenci tokoh-tokohnya.

Sebaliknya, justru dengan membaca sejarah secara jujur, kita belajar membedakan antara penghormatan kepada manusia dan kepatuhan kepada dalil.

Kita tetap menghormati para sahabat.

Kita tetap mencintai keluarga Rasulullah SAW.

Tetapi kecintaan tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.

Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia berpikir.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?”

**(QS. Muhammad: 24)

Tadabbur berarti keberanian untuk membaca.

Bukan hanya mengulang.

Bukan hanya mewarisi.

Tetapi merenungkan.

Matahari yang Tenggelam di Jurf

Mungkin, di sinilah kita mulai memahami mengapa sejarah begitu mudah bergeser.

Bukan karena fakta-faktanya hilang.

Melainkan karena pusat perhatian umat dipindahkan.

Jurf dilupakan.

Pasukan Usamah menjadi catatan kaki.

Saqifah menjadi awal cerita.

Padahal awal sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum itu.

Di saat Rasulullah SAW masih hidup.

Di saat beliau masih berbicara.

Di saat beliau masih memberi perintah.

Di saat beliau masih meninggalkan wasiat.

Dan mungkin, matahari sejarah Islam mulai tenggelam bukan ketika Rasulullah SAW wafat.

Melainkan ketika umat mulai lebih sibuk menafsirkan isyarat daripada memegang teguh nash.

Karena Rasulullah SAW tidak meninggalkan agama ini dalam bentuk teka-teki.

Beliau meninggalkan Al-Qur’an.

Beliau meninggalkan sunnah yang hidup.

Beliau meninggalkan Ahlul Bait.

Beliau meninggalkan wasiat.

Dan beliau meninggalkan sebuah amanah besar kepada setiap generasi:

Jangan pernah takut mencari kebenaran, meskipun kebenaran itu menuntut kita membaca ulang sejarah yang selama ini kita warisi.

Sebab Allah tidak akan pernah bertanya kepada kita, “Mazhab apa yang engkau warisi?”

Tetapi Allah akan bertanya:

Apakah engkau mengikuti kebenaran ketika ia telah datang kepadamu.

(Bersambung)

Hari hari7

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1FhcnZqsrg/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us