17 October 2026

(Tulisan 8 Bagian) – BAGIAN I

JURF ATAU MIHRAB?

Di Mana Sesungguhnya Perhatian Terakhir Rasulullah SAW?

“Dan tidaklah Muhammad itu melainkan seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Maka apakah jika ia wafat atau terbunuh kamu akan berbalik ke belakang?” 

(QS. Ali ’Imran: 144)

Sejarah sering kali tidak dipalsukan dengan mengubah fakta, tetapi dengan mengubah pusat perhatian.

Orang dibuat sibuk melihat ranting, sehingga lupa kepada batang pohon. Orang dipaksa menatap mihrab, sementara Jurf perlahan menghilang dari ingatan.

Begitulah yang terjadi pada hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah SAW.

Selama berabad-abad umat Islam disibukkan oleh satu narasi: siapa yang menjadi imam shalat ketika Rasulullah sakit?

Pertanyaan itu diulang terus-menerus, seolah-olah di sanalah seluruh rahasia kepemimpinan umat Islam tersembunyi.

Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih besar.

Mengapa Rasulullah SAW, di tengah sakit yang sangat berat, justru terus-menerus memerintahkan pasukan Usamah bin Zaid agar segera berangkat ke Jurf?

Mengapa perhatian beliau tidak pernah lepas dari pasukan itu?

Mengapa beliau tidak mengumpulkan kaum Muslimin lalu berkata, “Perhatikan siapa yang menjadi imam shalat, karena dialah khalifah setelahku”?

Kalimat seperti itu tidak pernah tercatat.

Yang justru tercatat dalam banyak kitab sejarah adalah kegelisahan Rasulullah terhadap pasukan yang belum juga bergerak.

Beliau mengetahui ajalnya telah dekat.

Beliau mengetahui waktu tidak lagi panjang.

Namun yang berulang kali keluar dari lisannya bukanlah perdebatan tentang mihrab, melainkan perintah agar ekspedisi Usamah segera dilaksanakan.

Di sinilah kita perlu bertanya dengan jujur.

Mana yang lebih mencerminkan perhatian terakhir seseorang: satu peristiwa yang kemudian ditafsirkan beragam oleh orang-orang sesudahnya, atau perintah yang terus-menerus beliau ulang menjelang wafatnya?

Inilah persoalan yang selama ini hampir tidak pernah diajarkan.

Sejarah dipersempit menjadi persoalan siapa yang berdiri beberapa langkah di depan jamaah.

Padahal sejarah sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar: ketaatan kepada perintah Rasulullah SAW.

Al-Qur’an sendiri telah memberikan prinsip yang sangat jelas.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”

(QS. al-Hasyr: 7)

Perhatikan.

Al-Qur’an tidak mengatakan, “Tafsirkan sendiri apa yang mungkin dimaksud Rasul.”

Yang diperintahkan adalah menaati apa yang benar-benar beliau perintahkan.

Karena itu, ketika kita membaca hari-hari terakhir Rasulullah SAW, pertanyaan pertama bukanlah:

“Siapa yang menjadi imam shalat?”

Tetapi:

“Perintah apa yang paling ditekankan Rasulullah SAW sebelum wafat?”

Pertanyaan inilah yang mengubah seluruh cara pandang kita terhadap sejarah.

Sebab bila perhatian Rasulullah tertuju kepada Jurf, mengapa perhatian umat justru dialihkan kepada mihrab?

Bila beliau berkali-kali memerintahkan pasukan Usamah agar berangkat, mengapa yang terus dibicarakan justru siapa yang berdiri di depan saf shalat?

Di sinilah sejarah mulai memperlihatkan wajahnya.

Kadang-kadang sebuah peristiwa kecil dibesarkan sedemikian rupa hingga menutupi peristiwa yang jauh lebih menentukan.

Dan kadang-kadang sebuah perintah Nabi yang sangat tegas justru menghilang dari mimbar-mimbar.

Padahal Allah telah mengingatkan:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau azab yang pedih.”

(QS. an-Nur: 63)

Perhatikan ayat ini dengan saksama.

Allah tidak memperingatkan orang yang berbeda dalam menafsirkan isyarat.

Allah memperingatkan orang yang menyelisihi perintah Rasulullah.

Inilah sebabnya mengapa Jurf jauh lebih penting daripada mihrab.

Karena di Jurf kita sedang berbicara tentang perintah Nabi.

Sedangkan di mihrab kita sedang berbicara tentang penafsiran manusia.

Perintah selalu lebih kuat daripada dugaan.

Nash selalu lebih tinggi daripada inferensi.

Dan sejarah yang jujur selalu dimulai dengan keberanian untuk bertanya:

Mengapa perhatian Rasulullah SAW diarahkan ke Jurf, tetapi perhatian umat justru dipindahkan ke mihrab?

Mungkin, justru di situlah matahari sejarah mulai tenggelam.

(Bersambung)

Hari hari1

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DyiKKttbz/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us