26 September 2026

Ketika Seorang Pemimpin Mengadili Dirinya Sebelum Menuntut Ketaatan

Malam menggantung di atas perkemahan.

Angin gurun berembus melewati barisan tenda, memainkan ujung panji-panji yang tertancap di tanah.
Kuda-kuda telah ditambatkan. Pedang dan tombak bersandar di dekat para prajurit yang beristirahat. Namun, di dalam tenda para panglima, mata belum terpejam.

Di hadapan mereka terbentang peta wilayah yang harus dijaga. Garis-garis ditarik di atas kulit. Nama kota, benteng, jalur air, dan kemungkinan serangan musuh dibicarakan dengan suara rendah.

Mereka sedang menunggu perintah dari Kufah.

Barangkali mereka menduga surat itu akan berisi instruksi untuk menggerakkan pasukan. Mungkin juga perintah memperkuat benteng, mengirim pengintai, atau mempersiapkan serangan.

Kemudian terdengarlah derap seekor kuda.

Seorang utusan tiba membawa surat dengan segel Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.

Percakapan berhenti.

Lampu minyak didekatkan. Para panglima berdiri mengelilingi seseorang yang membuka gulungan surat itu. Mereka bersiap menerima perintah perang.

Tetapi kalimat pertama yang dibacakan bukan tentang musuh.

Bukan tentang pedang.

Bukan pula tentang kemenangan.

Surat itu justru dimulai dengan kewajiban seorang pemimpin terhadap orang-orang yang dipimpinnya.

> “Sesungguhnya menjadi kewajiban seorang penguasa agar keutamaan yang diperolehnya dan kekayaan yang dikhususkan Allah kepadanya tidak mengubah sikapnya terhadap rakyatnya.”

Para panglima saling berpandangan.

Di kerajaan-kerajaan besar, kenaikan jabatan biasanya berarti bertambahnya jarak. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin sulit rakyat menjangkaunya. Semakin luas kekuasaannya, semakin banyak pintu yang ditutup di hadapan orang kecil.

Tetapi Ali mengajarkan arah yang berlawanan.

Kekuasaan tidak boleh menjauhkan seorang pemimpin dari rakyat. Nikmat yang bertambah justru harus membuatnya semakin dekat kepada manusia dan semakin lembut kepada saudara-saudaranya.

> “Nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya hendaklah menambah kedekatannya kepada hamba-hamba Allah dan kasih sayangnya kepada saudara-saudaranya.”

Inilah kepemimpinan menurut Ali.

Kedudukan bukan tangga untuk meninggalkan manusia di bawah. Kedudukan adalah tangga untuk melihat lebih banyak penderitaan yang harus ditolong.

Kekayaan bukan alasan memperbesar rumah dan mempersempit pintu. Kekayaan adalah amanah yang memperbesar tanggung jawab.

Jabatan bukan hak istimewa.

Jabatan adalah bertambahnya jumlah orang yang kelak menuntut pertanggungjawaban.

“Kalian mempunyai hak atas diriku”

Para panglima itu menunggu.

Kini suara pembaca surat menjadi semakin jelas. Kalimat berikutnya terdengar seperti sesuatu yang tidak pernah diucapkan oleh para penguasa kepada tentaranya:

> “Ketahuilah, kalian mempunyai hak atas diriku.”

Seorang khalifah sedang berbicara kepada para bawahannya. Seorang panglima tertinggi sedang berbicara kepada para komandan pasukan. Tetapi ia tidak memulai dengan mengatakan, “Aku mempunyai hak atas kalian.”

Ali memulainya dari dirinya sendiri.

Kalian mempunyai hak atas diriku.

Kalimat itu mengguncang seluruh bangunan kekuasaan yang berdiri di atas ketakutan. Sebab penguasa biasanya rajin mengingatkan rakyat tentang kewajiban mereka, tetapi pelupa ketika berbicara tentang kewajibannya sendiri.

Ali membaliknya.

Sebelum meminta rakyat menaatinya, ia menyatakan apa yang wajib ia tunaikan kepada mereka.

Sebelum menuntut pasukan maju ke medan perang, ia lebih dahulu menempatkan dirinya di hadapan pengadilan moral.

Seakan-akan ia berkata:

Jangan berikan kepadaku ketaatan sebelum aku memenuhi hak kalian.

Tidak ada rahasia kecuali rahasia perang

Surat itu dilanjutkan:

> “Aku tidak akan menyembunyikan sesuatu dari kalian, kecuali rahasia dalam urusan perang.”

Para panglima terdiam.

Ali tidak menjadikan pemerintahan sebagai ruangan gelap yang hanya diketahui oleh keluarga, kerabat, atau lingkaran kecil penguasa. Ia menjanjikan keterbukaan kepada orang-orang yang ikut memikul tanggung jawab.

Hanya urusan perang yang boleh dirahasiakan—karena peperangan membutuhkan siasat dan keselamatan pasukan bergantung pada terjaganya informasi.

Di luar itu, penguasa tidak boleh menyembunyikan sesuatu hanya agar rakyat tetap bodoh.

Rahasia negara tidak boleh menjadi nama lain bagi tipu daya penguasa.

Kerahasiaan tidak boleh dipakai untuk menutup korupsi, menyembunyikan kesalahan, atau melindungi orang-orang dekat dari pertanggungjawaban.

Ali mengetahui bahwa kekuasaan yang takut kepada keterbukaan sesungguhnya sedang menyembunyikan sesuatu dari kebenaran.

Tidak mengambil keputusan tanpa musyawarah

Suara pembaca surat berlanjut:

> “Aku tidak akan memutuskan suatu perkara tanpa melibatkan kalian, kecuali dalam ketetapan hukum Allah.”

Imam Ali adalah orang paling berilmu di antara mereka. Ia dibesarkan di rumah Rasulullah saw. Ia mengetahui sebab turunnya ayat, memahami hukum, dan mewarisi ilmu Nabi.

Namun, keluasan ilmunya tidak membuatnya merasa tidak memerlukan pendapat orang lain dalam urusan pemerintahan dan strategi.

Dalam wilayah yang dapat dimusyawarahkan, ia bermusyawarah.

Dalam persoalan yang membutuhkan pengalaman para panglima, ia mendengar.

Dalam urusan rakyat, ia membuka ruang bagi suara mereka.

Tetapi terdapat batas yang tidak boleh dilampaui: hukum Allah tidak dapat diubah oleh tekanan mayoritas.

Musyawarah dipakai untuk menemukan cara terbaik melaksanakan kebenaran—bukan untuk melakukan pemungutan suara mengenai apakah kebenaran masih perlu ditaati.

Ali bermusyawarah dalam urusan pelaksanaan.

Namun, ia tidak bermusyawarah untuk membatalkan ketetapan Allah.

Tidak menunda hak

Surat itu belum selesai.

> “Aku tidak akan menunda hak kalian dari waktunya dan tidak akan berhenti sebelum menunaikannya secara sempurna.”

Bayangkan wajah para panglima yang mendengar kalimat itu.

Mereka terbiasa melihat penguasa menunda hak rakyat, tetapi tidak pernah menunda tuntutan kepada rakyat. Pajak harus dibayar tepat waktu, tetapi hak rakyat boleh menunggu. Prajurit harus segera berangkat, tetapi bagian mereka dapat ditangguhkan. Rakyat harus patuh hari ini, sedangkan keadilan dijanjikan entah kapan.

Ali menolak tata pemerintahan semacam itu.

Hak yang sengaja ditunda adalah kezaliman yang disamarkan oleh waktu.

Upah yang terlambat diberikan dapat berarti anak yang kelaparan. Bantuan yang ditahan dapat berarti seorang janda kehilangan tempat berlindung. Keadilan yang ditunda dapat membuat orang yang tidak bersalah mati di dalam penjara.

Bagi Ali, menunaikan hak tidak cukup dilakukan sebagian.

Hak harus diletakkan pada waktunya dan disampaikan sampai tuntas.

Penguasa tidak boleh meminta rakyat memahami keterlambatannya sementara ia tidak pernah berusaha memahami penderitaan rakyat.

Semua sama di hadapan hak

Kemudian tibalah kalimat yang membuat kekuasaan kehilangan seluruh hak istimewanya:

> “Kalian semua mempunyai kedudukan yang sama di sisiku dalam urusan hak.”

Tidak ada panglima yang mendapat hukum lebih lunak karena kedekatannya kepada khalifah.

Tidak ada komandan dari suku besar yang memperoleh bagian lebih banyak.

Tidak ada kerabat yang boleh melompati orang lain.

Tidak ada sahabat lama yang dapat menukar jasanya dengan kekebalan hukum.

Di hadapan kebenaran, semua berdiri pada garis yang sama.

Ali tidak berkata bahwa semua orang memiliki kemampuan, tugas, atau tanggung jawab yang sama. Seorang panglima tentu tidak memikul tugas yang sama dengan prajurit biasa.

Namun, perbedaan tanggung jawab tidak boleh berubah menjadi perbedaan nilai kemanusiaan dan perlakuan hukum.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin berat pertanggungjawabannya—bukan semakin besar kekebalannya.

Setelah hak dipenuhi, barulah ketaatan dituntut

Para panglima mungkin menyangka surat itu hanya berbicara mengenai kelembutan.

Mereka keliru.

Setelah menjelaskan kewajibannya sebagai pemimpin, suara Ali berubah menjadi sangat tegas:

> “Apabila aku telah melaksanakan semua itu, wajib atas kalian mensyukuri nikmat Allah dan menaati perintahku.”

Ali tidak membangun pemerintahan yang lemah.

Ia membangun pemerintahan yang adil—dan justru karena keadilan telah ditegakkan, tidak ada alasan untuk membangkang.

Ketaatan yang dituntut Ali bukan ketaatan buta kepada seorang manusia. Ketaatan itu lahir dari perjanjian moral: pemimpin memenuhi hak rakyat, kemudian rakyat menjalankan kewajibannya.

Ali melanjutkan:

> “Jangan mundur ketika dipanggil. Jangan melalaikan kebaikan. Terjunlah menghadapi kesulitan demi menegakkan kebenaran.”

Tidak ada tempat bagi panglima yang hanya hadir ketika kemenangan terlihat dekat.

Tidak ada ruang bagi prajurit yang mengaku setia di dalam tenda, tetapi menghilang ketika genderang perang dibunyikan.

Bila kebenaran memanggil, mereka harus datang.

Bila keadilan membutuhkan pengorbanan, mereka harus maju.

Bila jalan menuju kebenaran harus melewati gelombang bahaya, mereka diperintahkan menerjangnya.

Inilah keseimbangan Ali: lembut terhadap hak manusia, keras terhadap pengkhianatan amanah.

Tidak ada perlindungan bagi penyimpangan

Surat itu kemudian berubah menjadi peringatan:

> “Jika kalian tidak tetap lurus bersamaku dalam perkara itu, tidak seorang pun yang lebih rendah kedudukannya di sisiku daripada orang yang menyimpang di antara kalian.”

Kedekatan tidak akan menyelamatkan pengkhianat.

Jasa masa lalu tidak dapat membeli pembenaran bagi kesalahan hari ini.

Gelar panglima tidak dapat dijadikan perisai untuk melindungi penyalahgunaan kekuasaan.

Ali tidak membutuhkan orang yang dekat dengannya tetapi jauh dari kebenaran. Ia lebih memilih seorang rakyat kecil yang jujur daripada seorang jenderal yang menggunakan pedangnya untuk kepentingan diri sendiri.

> “Aku akan memperberat hukumannya dan ia tidak akan memperoleh keringanan dariku.”

Itulah ketegasan yang lahir dari keadilan.

Ali lebih dahulu mengikat dirinya dengan kewajiban. Namun, setelah kewajiban itu dipenuhi, ia tidak membiarkan orang lain mempermainkan amanah.

Seseorang yang memegang kekuasaan lalu berkhianat dapat menghancurkan ribuan manusia. Karena itu, penyimpangan seorang pejabat tidak dapat diperlakukan seperti kesalahan biasa.

Semakin besar kekuasaan, semakin besar daya rusaknya.

Semakin tinggi jabatan, semakin berat hukumannya.

Keadilan harus mengalir ke bawah

Pada bagian akhir, Imam Ali memerintahkan para panglima agar menerapkan prinsip yang sama kepada perwira dan prajurit di bawah mereka:

> “Ambillah ketentuan ini dari para pemimpin kalian dan berikanlah kepada bawahan kalian perlakuan yang dengannya Allah memperbaiki urusan kalian.”

Di sinilah surat itu mencapai puncaknya.

Ali tidak ingin keadilan berhenti pada dirinya.

Ia harus mengalir dari khalifah kepada panglima, dari panglima kepada perwira, dari perwira kepada prajurit, kemudian sampai kepada rakyat paling kecil.

Seorang pemimpin tidak boleh menuntut atasannya berlaku adil kepadanya, tetapi bertindak zalim kepada bawahannya.

Seseorang tidak dapat berteriak meminta hak ketika berada di bawah, lalu melupakan hak orang lain ketika berada di atas.

Keadilan yang hanya diminta untuk diri sendiri bukan keadilan.

Itu kepentingan.

Ali sedang membangun mata rantai tanggung jawab: setiap orang memiliki hak yang harus dihormati dan kewajiban yang harus ditunaikan.

Pasukan yang baru

Pembacaan surat berakhir.

Tidak ada suara untuk beberapa saat.

Angin gurun masih menggoyangkan panji-panji. Api lampu minyak bergerak kecil. Tetapi sesuatu telah berubah di dalam tenda itu.

Para panglima datang menunggu perintah mengenai cara mengalahkan musuh.

Ali justru mengajarkan cara mengalahkan kezaliman di dalam diri sendiri.

Sebab sebuah pasukan tidak menjadi kuat hanya karena memiliki banyak pedang. Pasukan menjadi kuat ketika prajuritnya percaya bahwa pemimpin tidak akan menelantarkan hak mereka.

Negara tidak berdiri hanya karena rakyat takut kepada penguasa. Negara berdiri ketika penguasa takut menzalimi rakyat.

Ali tidak berkata:

“Taatilah aku karena aku berkuasa.”

Ia berkata:

“Kalian mempunyai hak atas diriku. Setelah aku menunaikannya, kalian mempunyai kewajiban kepadaku.”

Inilah pemerintahan Ali.

Kekuasaan tidak turun dari singgasana untuk menekan manusia. Kekuasaan berlutut lebih dahulu di hadapan keadilan, kemudian berdiri untuk menegakkannya.

Dan malam itu, para panglima menyadari bahwa surat yang mereka terima ternyata jauh lebih tajam daripada pedang.

Pedang hanya dapat membelah tubuh musuh.

Tetapi perkataan Ali membelah kesombongan seorang penguasa—dan memperlihatkan bahwa sebelum meminta ketaatan rakyat, seorang pemimpin harus berani mengadili dirinya sendiri.

Hak kalian

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Pijakan riwayat:

Nahjul Balaghah, Surat 50, ditujukan kepada para pemimpin benteng dan panglima pasukan Imam Ali.
Isi surat—hak para panglima, keterbukaan kecuali dalam strategi perang, musyawarah, ketepatan pemenuhan hak, kesetaraan, ketaatan, dan hukuman bagi penyimpangan—berasal langsung dari teks.
Gambaran perkemahan, kedatangan utusan, dan suasana pembacaan surat merupakan rekonstruksi sastra untuk menghidupkan narasi. Teks Arab dan terjemahan Surat 50

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CH2oQ4W9X/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us