Darimana Kemampuan Berfikir Itu Ada | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
1. Hakikat Berpikir sebagai Gagasan Bawaan (Innate Ideas)
Setelah kita memahami kesimpulan filosofis “aku berpikir, maka aku ada,” muncul pertanyaan berikutnya: dari mana asal-usul kemampuan berpikir tersebut?
Jawabannya terletak pada konsep innate ideas atau gagasan bawaan.
Kita lahir ke dunia ini tidak dalam keadaan kosong melainkan membawa fitrah berupa kemampuan berpikir.
Kualitas ini merupakan bawaan lahir yang ada pada setiap manusia yang waras, sehingga seseorang tidak harus lulus kuliah filsafat atau logika terlebih dahulu untuk bisa berpikir.
Meskipun dalam perkembangannya pikiran kita bisa terkontaminasi berbagai hal, kemampuan dasar ini tetap menjadi kualitas bawaan manusia.
2. Tiga Pilar Kepastian (Substansi)
Kemampuan berpikir bawaan ini membawa kita pada tiga kepastian atau substansi utama dalam kehidupan:
- Aku yang berpikir (Res Cogitans):
Kesadaran akan subjek yang melakukan aktivitas berpikir. - Keluasan (Res Extensa):
Dunia materi atau objek-objek di luar diri yang dipikirkan. - Tuhan:
Puncak dari segala pemikiran dan kesempurnaan.
3. Realitas Dunia Materi (Keluasan)
Dunia materi disebut sebagai “keluasan” karena ia merupakan objek yang ditangkap oleh pikiran melalui aktivitas meluas ke luar diri.
Bukti bahwa dunia materi (seperti matahari, laut, atau batu) itu nyata dan bukan sekadar imajinasi atau fantasi adalah sifatnya yang kuantitatif.
Sesuatu dianggap nyata jika secara kuantitas dapat diukur dan dirasakan sama oleh setiap orang.
Misalnya, jika sebuah meja tingginya setengah meter, maka ukuran tersebut akan sama bagi siapa pun yang mengukurnya secara objektif.
Perbedaan persepsi mungkin terjadi pada aspek kualitatif (seperti rasa eksotis), namun secara kuantitas, realitas fisik tidak dapat diragukan lagi karena pikiran menyimpulkannya dengan jelas.
4. Argumen Ontologis tentang Keberadaan Tuhan
Tuhan adalah kepastian ketiga yang ditemukan melalui akal. Dr. Fahrudin Faiz menjelaskan bahwa keberadaan Tuhan dapat dibuktikan melalui logika murni tanpa harus selalu melihat keteraturan alam semesta.
Ini disebut sebagai argumen ontologis.
Logikanya adalah sebagai berikut:
- Puncak Kesempurnaan:
Manusia menyadari bahwa dirinya tidak sempurna.
Ketika pikiran menemukan suatu kebenaran, ia merasa lebih sempurna, namun tetap terbatas. Secara logis, rangkaian kesempurnaan yang terbatas ini pasti memiliki sebuah titik puncak, yaitu “Maha Sempurna”. - Gagasan tentang “Maha”:
Gagasan tentang sesuatu yang sempurna tidak mungkin berasal dari manusia yang tidak sempurna; gagasan itu pasti berasal dari Tuhan sendiri. - Eksistensi sebagai Syarat “Maha”: Sesuatu tidak dapat menyandang predikat “Maha” (Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Bijaksana) jika sosok tersebut tidak ada.
Jika kita menyebut Tuhan itu Maha Tahu, maka secara logis Dia harus ada, karena tidak mungkin sesuatu yang tidak ada memiliki sifat Maha Tahu.
Kesimpulan
Cara berpikir filosofis dimulai dengan merinci segala sesuatu sampai ke unsur yang paling dasar.
Dengan menguji dan meyakini tiga kepastian iniโdiri yang berpikir, realitas materi, dan Tuhanโkita memiliki pondasi substansi yang kuat untuk melakukan refleksi dan melangkah ke jenjang pemikiran selanjutnya.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







