18 October 2026

TULISAN 2

Istilah “Zaman Keemasan Harun al-Rasyid” secara tidak sadar mengandung dua persoalan.
Pertama, ia memusatkan seluruh pencapaian masyarakat pada seorang penguasa.
Kedua, ia menjadikan kemajuan material sebagai ukuran keberhasilan moral sebuah pemerintahan.

Padahal, peradaban tidak bekerja seperti itu.

Peradaban adalah akumulasi panjang. Ilmu kedokteran yang berkembang di Bagdad tidak bermula dari ruang kosong. Ia menyerap warisan Yunani, Persia, India, Siria, dan tradisi lokal.
Banyak penerjemah utama berasal dari komunitas Kristen berbahasa Siria. Para sarjana Persia, Arab, dan Asia Tengah membawa sistem pengetahuan mereka sendiri.
Pedagang mempertemukan manuskrip, obat-obatan, angka, dan teknik dari berbagai negeri.

Dengan kata lain, Bagdad bukan sebuah lampu yang dinyalakan seorang raja. Ia adalah persimpangan besar tempat ribuan aliran pengetahuan bertemu.

Negara mungkin menyediakan tempat perjumpaan itu, tetapi negara bukan pencipta tunggalnya. Bahkan kehidupan administratif Harun sangat bergantung kepada keluarga Barmaki selama sekitar tujuh belas tahun pertama pemerintahannya.
Setelah keluarga tersebut dijatuhkan pada Januari 803, Harun mengambil kendali pribadi yang lebih besar, tetapi sumber sejarah juga mencatat gejolak wilayah, persoalan pemerintahan, pemberontakan akibat tekanan keuangan, serta ketidakstabilan yang jauh dari citra harmonis Seribu Satu Malam.

Karena itu, kalimat yang lebih tepat bukanlah:

“Harun al-Rasyid memajukan ilmu pengetahuan.”

Melainkan:

“Pada masa kekuasaan Abbasiyah, berbagai jaringan ilmuwan, penerjemah, lembaga, komunitas agama, pedagang, dan pejabat tertentu memperoleh ruang untuk mengembangkan serta mempertemukan berbagai tradisi ilmu.”

Perbedaan kalimat ini sangat penting. Kalimat pertama menciptakan kultus penguasa. Kalimat kedua mengembalikan kehormatan kepada para pelaku ilmu yang sesungguhnya.

Kita harus menolak kebiasaan historiografi yang menghadiahkan seluruh keberhasilan rakyat kepada istana, tetapi membebaskan istana dari seluruh penderitaan rakyat.

Ketika sebuah kota maju, penguasa dianggap berjasa. Ketika orang dipenjara dan dibunuh, kesalahannya dialihkan kepada bawahan. Ini bukan sejarah yang adil. Ini adalah propaganda kerajaan.

Peradaban merupakan milik umat manusia, bukan milik raja yang kebetulan hidup pada zamannya.

(Bersambung)

Harun tulisan2

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1BvN7KYGgN/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us