Uways al-Qarani—Lelaki yang Menyerahkan Seluruh Jiwanya di Sisi Ali
—edisi revisi
Angin gurun bertiup keras di Shiffin.
Ia mengangkat debu dari tanah, memukul wajah-wajah yang letih, lalu melintas di antara tombak, pedang, dan panji-panji yang berdiri seperti hutan besi. Di kejauhan, Sungai Furat mengalir tenang—seolah bumi tidak sedang menyaksikan salah satu luka terbesar dalam sejarah Islam.
Di satu sisi berdiri pasukan Imam Ali bin Abi Thalib.
Mereka tidak datang untuk merebut kerajaan. Mereka datang karena Muawiyah bin Abi Sufyan—gubernur Syam—telah menolak keputusan khalifah yang sah, mengangkat dirinya di atas hukum, lalu menyeret umat ke medan perang demi mempertahankan kekuasaan.
Di tengah perkemahan itu, Imam Ali berdiri.
Wajahnya menyimpan kelelahan seorang pemimpin yang lebih mencintai keselamatan manusia daripada kemenangan. Berkali-kali ia menasihati. Berkali-kali ia mengirim surat. Berkali-kali ia membuka pintu perdamaian.
Tetapi ketika kesabaran dianggap sebagai kelemahan dan kebenaran dijawab dengan pembangkangan, pedang akhirnya harus berhadapan dengan pedang.
Hari itu Imam memandang orang-orang di hadapannya.
Menurut riwayat al-Ashbagh bin Nubatah, sembilan puluh sembilan lelaki telah menyatakan baiat. Mereka bukan sedang berbaiat untuk memperoleh tanah, jabatan, atau bagian dari rampasan perang.
Ini adalah baiat yang tidak menyediakan jalan pulang.
Imam bertanya:
«“Di manakah penyempurna bilangan seratus? Rasulullah telah menjanjikan kepadaku bahwa pada hari ini seratus orang akan berbaiat kepadaku.”»
Suasana tiba-tiba sunyi.
Sembilan puluh sembilan pasang mata memandang ke segala arah.
Tidak seorang pun berani menggenapkan angka itu hanya dengan keberanian sesaat. Sebab semua mengerti: yang sedang ditunggu Imam bukan seseorang yang pandai mengucapkan janji.
Ia menunggu manusia yang telah selesai berunding dengan ketakutannya sendiri.
Lalu dari balik debu tampaklah seseorang berjalan mendekat.
Ia tidak menunggang kuda perang. Tidak ada rombongan yang mengawal kedatangannya. Tidak ada pakaian kebesaran yang membuat orang menoleh.
Tubuhnya dibalut pakaian wol sederhana. Di pundaknya tergantung pedang. Debu perjalanan melekat pada kaki dan pakaiannya.
Ia tampak seperti orang miskin yang tersesat di antara para kesatria.
Namun langkahnya tidak ragu.
Ia menembus barisan, berhenti di hadapan Imam Ali, lalu berkata:
«“Ulurkan tanganmu. Aku hendak berbaiat kepadamu.”»
Imam menatapnya.
Tatapan itu bukan tatapan seorang raja yang sedang menghitung tambahan pasukan. Ia seperti sedang menimbang kedalaman jiwa yang berdiri di hadapannya.
«“Atas apakah engkau berbaiat kepadaku?”»
Lelaki itu menjawab:
«“Aku berbaiat untuk menyerahkan seluruh jiwaku demi melindungimu.”»
Dalam teks Arabnya, kalimat itu berbunyi:
«عَلَى بَذْلِ مُهْجَةِ نَفْسِي دُونَكَ
‘Alā badzli muhjati nafsī dūnak.»
Bukan sekadar, “Aku akan ikut berperang.”
Bukan pula, “Aku akan membelamu selama keadaan menguntungkan.”
Ia menawarkan muhjah—inti kehidupan, darah jantung, seluruh keberadaannya.
Seakan-akan ia berkata:
“Jika untuk mencapai dirimu musuh harus melewati sebuah tubuh, biarlah tubuh itu tubuhku.”
“Jelaskan dirimu (agar yang lain mengenalimu).”
«“Aku Uways al-Qarani.”»
Nama itu menggetarkan dan tidak asing bagi banyak prajurit.
Dan nama itu adalah nama yang disebut oleh Rasulullah ﷺ.
Jauh sebelum hari tersebut, Rasulullah telah memberitakan tentang seorang lelaki dari Yaman bernama Uways bin Amir, dari Murad, kemudian Qaran.
Ia memiliki seorang ibu yang sangat dimuliakannya. Ia hidup tanpa kemegahan, nyaris tidak dikenali manusia, tetapi begitu dekat dengan Allah sehingga Rasulullah menyuruh orang yang berjumpa dengannya meminta agar ia memohonkan ampun kepada Allah untuk mereka.
Uways tidak pernah memperoleh kesempatan menikmati kemasyhuran sebagai sahabat yang duduk di majelis Nabi. Ia termasuk generasi setelah sahabat—seorang tabi‘in.
Tradisi Islam mengenangnya sebagai pecinta Rasul yang tidak memperoleh perjumpaan lahiriah dengan beliau, sementara baktinya kepada sang ibu justru menjadi salah satu tanda yang disebutkan Nabi.
Ia tidak melihat wajah Rasulullah.
Tetapi ia mengenali cahaya risalahnya.
Dan ketika Rasulullah tidak lagi berada di tengah umat, Uways tidak kebingungan mencari ke mana arah cinta itu harus berjalan.
Ia menemukannya pada Ali—saudara Rasul, pintu ilmunya, pemegang panji kebenaran, dan manusia yang kini berdiri menghadapi pemberontakan demi menjaga keadilan.
Dalam riwayat lain tentang kedatangannya kepada Imam Ali di Dzi Qar, saat pasukan dari Kufah dinantikan, Uways juga menjadi orang terakhir yang menyempurnakan bilangan yang telah disebutkan Imam.
Ketika namanya disebutkan, Imam bertakbir dan menyampaikan bahwa kekasihnya, Rasulullah ﷺ, telah menyebutkan secara khusus bahwa seorang lelaki bernama Uways al-Qarani: ia termasuk golongan Allah, akan wafat sebagai syahid, dan memperoleh kedudukan yang agung.
Betapa aneh cara Allah memperkenalkan kekasih-Nya.
Manusia umum melihat pakaian wol yang kasar.
Rasulullah melihat kemurnian hatinya.
Manusia melihat seorang asing tanpa pasukan.
Ali melihat janji Nabi sedang berjalan mendatanginya.
Manusia mungkin hanya melihat seorang prajurit tambahan.
Langit melihat angka seratus menjadi sempurna.
Imam mengulurkan tangannya.
Tangan Uways menyambutnya.
Tidak ada mahkota yang berpindah. Tidak ada kantong emas yang diberikan.
Yang berpindah hanyalah sebuah janji—dari hati seorang pecinta ke telapak tangan seorang Imam.
Dan pada saat kedua tangan itu bertemu, sejarah seakan berhenti sejenak.
Di sinilah baiat menunjukkan makna sejatinya.
Baiat bukan tepukan tangan kepada pemenang. Baiat adalah kesetiaan kepada kebenaran justru ketika kebenaran dikepung, difitnah, dan mungkin tampak akan kalah.
Orang-orang mudah berdiri di dekat pemimpin ketika istananya dipenuhi cahaya.
Uways datang ketika di sekitar Ali hanya ada debu, pedang, dan kemungkinan kematian.
Ia tidak bertanya:
“Apa yang akan kudapatkan bila engkau menang?”
Ia seolah hanya bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apa yang masih dapat kuberikan sebelum aku menghadap Allah?”
—
Fajar Shiffin terbit dengan warna merah pucat.
Suara takbir bersahutan. Derap kuda mengguncang tanah. Anak-anak panah berdesing menembus udara, disusul benturan perisai dan denting pedang yang membuat gurun kehilangan kesunyiannya.
Uways berada di antara pasukan pejalan kaki.
Tidak ada singgasana di belakangnya. Tidak ada kekayaan yang harus ia pertahankan.
Ia telah lama melepaskan dunia dari hatinya. Karena itulah ia dapat berdiri begitu kokoh ketika banyak manusia justru diperbudak oleh apa yang mereka miliki.
Di hadapannya bukan hanya pasukan Syam.
Di hadapannya berdiri sebuah pertanyaan yang akan terus menggema sepanjang zaman:
Jika Ali berada di satu barisan dan kekuasaan yang membangkang berada di barisan lain, di manakah kita akan berdiri?
Uways telah menjawabnya dengan tubuhnya.
Ia maju.
Debu menelan sosoknya. Sesekali pedangnya tampak berkilat terkena matahari, kemudian hilang kembali di tengah lautan manusia.
Setiap langkahnya bukan langkah menuju kematian, melainkan langkah menuju janji yang telah lama ia simpan.
Ia adalah lelaki yang sepanjang hidup bersembunyi dari pujian. Kini, pada hari terakhirnya, ia pun tidak mencari tempat agar dunia dapat melihat keberaniannya.
Ia bertempur di tengah pasukan pejalan kaki—bersama orang-orang biasa yang namanya jarang dituliskan sejarah.
Tetapi Allah tidak pernah kehilangan satu pun nama.
Pertempuran berlangsung keras.
Satu luka jatuh di tubuh Uways.
Kemudian luka yang lain.
Darah membasahi pakaian wolnya. Namun janji yang telah diucapkannya di hadapan Ali lebih kuat daripada rasa sakit.
“Aku menyerahkan seluruh jiwaku demi melindungimu.”
Itulah baiatnya.
Dan ia tidak ingin bertemu Allah dengan membawa janji yang belum ditunaikan.
Ketika pertempuran mereda, tubuh-tubuh bergelimpangan di atas tanah Shiffin. Para prajurit berjalan di antara mereka, mencari sahabat, saudara, dan orang-orang yang masih dapat diselamatkan.
Di antara pasukan pejalan kaki, mereka menemukan seorang lelaki dengan pakaian wol yang telah dibasahi darah.
Itulah Uways al-Qarani.
Ia telah gugur.
Sebagian laporan menyebut tubuhnya memikul lebih dari empat puluh luka.
Tetapi sesungguhnya satu hal saja telah cukup untuk menceritakan seluruh hidupnya: ia ditemukan tepat di tempat ia berjanji akan berdiri—di hadapan Ali, bukan di belakang keselamatannya sendiri.
Kini lelaki keseratus itu terbaring diam.
Tangan yang beberapa saat sebelumnya menggenggam tangan Imam telah terkulai. Pedangnya tergeletak di samping tubuhnya.
Matanya telah tertutup dari Shiffin, tetapi terbuka menuju dunia yang selama ini lebih nyata baginya daripada segala kemegahan bumi.
Al-Qur’an seakan sedang membacakan epitaf untuknya:
«“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur, dan di antara mereka ada yang masih menunggu; dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.”
(QS al-Ahzab [33]: 23)»
Uways tidak mengubah janjinya.
Ia datang sebagai orang yang tidak dikenal, lalu pergi sebagai saksi yang tidak dapat dibantah.
—
Kisah Uways al-Qarani bukan terutama kisah tentang seorang zahid yang akhirnya mengangkat pedang.
Ini adalah kisah tentang kejernihan mata batin.
Ia tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ dengan matanya, tetapi ia mengenali jalan Rasulullah ketika jalan itu berdiri dalam diri Ali.
Sementara itu, sejarah memperlihatkan tragedi yang berlawanan: ada orang-orang yang pernah melihat Nabi, mendengar suaranya, bahkan hidup di zamannya—namun kemudian membiarkan pedang diarahkan kepada saudara, wasi, dan wali yang dicintainya.
Ternyata kedekatan bukan soal berapa kali mata memandang wajah seorang suci.
Kedekatan adalah kemampuan mengenali kebenarannya ketika kebenaran itu menuntut harga.
Uways mengajari kita bahwa mencintai Rasul tidak cukup dengan merindukan sosoknya.
Cinta harus mampu menentukan barisan.
Sebab ketika kebenaran dan kebatilan telah berdiri berhadapan, netralitas bukan lagi kebijaksanaan.
Diam dapat berubah menjadi bantuan bagi kezaliman. Menjauh dari Ali pada saat Ali membutuhkan pembelaan bukanlah sikap aman—itu adalah keputusan moral.
Uways tidak mewariskan istana. Tidak ada dinasti yang memakai namanya. Tidak ada peti harta yang ditinggalkannya.
Warisannya hanyalah satu kalimat yang lebih mahal daripada seluruh kerajaan:
«“Aku menyerahkan seluruh jiwaku demi melindungimu.”»
Kalimat itu membuat kita malu kepada doa-doa kita sendiri.
Kita mengaku mencintai kebenaran, tetapi sering hanya selama kebenaran tidak mengganggu kenyamanan.
Kita mengaku mencintai Ali, tetapi masih berhitung ketika keadilan menuntut keberanian.
Kita mengagumi para syuhada, tetapi ingin menempuh jalan mereka tanpa kehilangan apa pun.
Uways datang untuk membongkar kepalsuan itu.
Ia mengajarkan bahwa seorang pecinta tidak bertanya seberapa dekat ia dapat berdiri dari bahaya tanpa terluka.
Ia bertanya seberapa banyak dirinya masih dapat diberikan kepada Allah.
Di Shiffin, kelompok yang telah berbaiat kepada Ali untuk bertahan sampai mati berjumlah sembilan puluh sembilan orang.
Kemudian datanglah seorang lelaki miskin dari Qaran.
Secara hitungan, ia hanya menambahkan angka satu.
Namun tidak semua angka satu bernilai sama.
Ada satu yang menyempurnakan seratus.
Ada satu yang membenarkan kabar Rasulullah.
Ada satu yang mengubah barisan pasukan menjadi kesaksian abadi.
Dan ada satu manusia yang tidak pernah berjumpa Rasulullah di dunia, tetapi dengan kesetiaannya kepada Ali, ia menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh mengenal Rasulullah.
Namanya Uways al-Qarani.
Lelaki keseratus.
Lelaki yang tidak membawa apa-apa ketika datang—
kecuali seluruh jiwanya.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—–
Catatan:
Saya telah menulis ini dalam kisah sebelumnya, saya tambahkan beberapa sentuhan kisah, sehingga agak berbeda dengan kisah sebelumnya.
Adegan baiat dan kalimat “‘alā badzli muhjati nafsī dūnak” dicantumkan al-Syarif al-Radhi dalam Khashā’ish al-A’immah.
Riwayat serupa dinukil al-Dzahabi, meskipun sanad khususnya dinilai lemah, dalam Siyar A‘lām al-Nubalā’.
Keutamaan Uways dan baktinya kepada ibunya ditegaskan dalam Shahih Muslim 2542a.
Adegan Dzi Qar terdapat dalam Kitāb Sulaym ibn Qays. Suasana, gerak, dan percakapan batin di luar kutipan tersebut merupakan rekonstruksi sastra.
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DatnVq4Pu/

