26 September 2026

Pada suatu musim haji, Muawiyah datang ke Makkah.

Ia telah menjadi penguasa. Kekuasaan terbentang di hadapannya, para pejabat menunggu perintahnya, dan harta dapat digerakkan hanya dengan beberapa patah kata.

Namun di kota itu tinggal seorang perempuan yang hatinya tidak pernah berhasil ia kuasai.

Namanya ad-Darimiyyah al-Hajuniyyah.

Muawiyah mengetahui bahwa perempuan itu mencintai Ali bin Abi Thalib dan berdiri di pihaknya. Ia pun memerintahkan agar ad-Darimiyyah dibawa menghadap.

Ketika perempuan itu tiba, Muawiyah tidak menyambutnya dengan penghormatan. Ia justru membuka percakapan dengan sindiran terhadap warna kulitnya.

“Bagaimana keadaanmu, wahai putri Ham?”

Ad-Darimiyyah tidak menunduk.

Ia tidak membiarkan penghinaan itu menentukan jalannya percakapan.

“Aku baik,” jawabnya. “Tetapi aku bukan perempuan keturunan Ham. Aku perempuan Quraisy, dari Bani Kinanah—dan juga dari keturunan ayahmu.”

Jawaban itu tenang, tetapi telak.

Muawiyah terpaksa mengakuinya.

“Engkau benar.”

Lalu ia mengajukan pertanyaan yang sebenarnya ingin ia tanyakan sejak awal:

“Mengapa engkau mencintai Ali dan membenciku? Mengapa engkau berpihak kepadanya dan memusuhiku?”

Ad-Darimiyyah tahu bahwa ia sedang berbicara di hadapan seorang penguasa. Satu jawaban dapat mendatangkan hadiah. Jawaban lain dapat mendatangkan bahaya.

Ia sempat meminta agar tidak perlu menjawab.

Muawiyah menolak memberinya jalan keluar.

Maka perempuan itu berkata:

“Aku mencintai Ali karena keadilannya kepada rakyat dan karena ia membagi dengan sama rata.”

Kalimat pertama langsung menyentuh inti kekuasaan.

Ia tidak mengatakan bahwa dirinya mencintai Ali karena Ali pandai berbicara. Bukan semata-mata karena keberaniannya di medan perang. Bukan pula karena hubungan kekerabatannya dengan Rasulullah.

Ia menyebut keadilan.

Sebab rakyat mengenal seorang pemimpin bukan dari pujian para penyair istana, melainkan dari cara pemimpin itu memperlakukan mereka ketika membagi hak.

Kemudian ad-Darimiyyah meneruskan:

“Aku membencimu karena engkau memerangi orang yang lebih berhak atas urusan ini daripada dirimu dan karena engkau menuntut sesuatu yang bukan menjadi hakmu.”

Tidak ada sanjungan.

Tidak ada bahasa yang dilunakkan demi menyenangkan istana.

Di hadapan orang yang dapat memberinya apa saja, ia memilih mengatakan apa yang diyakininya sebagai kebenaran.

Muawiyah kembali bertanya mengapa ia membela Ali.

Ad-Darimiyyah menjawab:

“Aku berpihak kepada Ali karena ikatan kesetiaan yang telah ditetapkan Rasulullah untuknya, karena kasihnya kepada orang-orang miskin, dan karena penghormatannya kepada orang-orang yang berpegang pada agama.”

Lalu ia menjelaskan mengapa dirinya menentang Muawiyah:

“Karena darah yang engkau tumpahkan dan persatuan yang engkau pecahkan.”

Ruangan itu seakan kehilangan udara.

Seorang perempuan yang semula dihina karena warna kulit dan bentuk tubuhnya kini sedang mengadili penguasa dengan ukuran yang tidak dapat dibeli: keadilan, darah manusia, hak rakyat, dan kesetiaan kepada kebenaran.

Muawiyah berkata:

“Engkau telah berkata benar.”

Namun sesudah pengakuan itu, ia mencoba merendahkan tubuh ad-Darimiyyah. Ia menyinggung perut, dada, dan bentuk badannya—seolah-olah tubuh seorang perempuan dapat dipakai untuk membungkam pikirannya.

Ad-Darimiyyah kembali membalas tanpa gemetar.

“Demi Allah, Hind-lah yang dahulu dijadikan perumpamaan mengenai hal itu, bukan aku.”

Hind adalah ibu Muawiyah.

Sindiran dibalas dengan sindiran. Penguasa yang hendak mempermalukan tamunya justru dipaksa mengingat bahwa penghinaan yang sama dapat kembali mengenai keluarganya sendiri.

Muawiyah kemudian mengubah nada bicaranya. Ia berkata bahwa ciri-ciri yang disebutkannya sebenarnya merupakan sifat-sifat yang disukai pada perempuan.

Setelah gagal menggoyahkan ad-Darimiyyah dengan penghinaan, ia bertanya:

“Apakah engkau pernah melihat Ali?”

“Ya, demi Allah.”

“Bagaimana engkau melihatnya?”

Ad-Darimiyyah menjawab:

“Kekuasaan tidak membuatnya membesar dan kesenangan tidak mengubah dirinya.”

Inilah kesaksian seseorang yang pernah melihat Ali dari dekat.

Kekuasaan tidak meniup tubuhnya dengan kesombongan.

Kemuliaan tidak membuatnya lupa dari mana ia berasal.

Jabatan tidak membangun dinding antara dirinya dan orang miskin.

Ali tetaplah Ali—baik ketika berdiri dengan pedang di tengah peperangan maupun ketika memegang urusan kaum Muslimin.

Muawiyah bertanya lagi:

“Pernahkah engkau mendengar perkataannya?”

Ad-Darimiyyah menjawab:

“Ya. Perkataannya membersihkan kebutaan dari hati, sebagaimana minyak membersihkan karat dari bejana.”

Perkataan Ali tidak sekadar indah di telinga.

Ia membersihkan pandangan batin.

Ia membuat manusia mampu mengenali kezaliman meskipun kezaliman itu mengenakan pakaian kerajaan. Ia membuat manusia dapat membedakan kemurahan hati dengan pembelian kesetiaan, serta membedakan harta pribadi dengan amanah milik rakyat.

Sekali lagi Muawiyah berkata:

“Engkau telah berkata benar.”

Kemudian ia bertanya apakah perempuan itu memiliki suatu keperluan.

Ad-Darimiyyah tidak langsung menyebutkannya.

“Apakah engkau akan memenuhinya jika aku mengatakannya?”

“Ya.”

“Aku menginginkan seratus ekor unta merah, lengkap dengan pejantan dan penggembalanya.”

Muawiyah bertanya:

“Apa yang akan engkau lakukan dengan unta-unta itu?”

Ia menjawab:

“Aku akan memberi minum anak-anak dengan susunya, menjaga kehormatan orang-orang tua dengannya, memperoleh kemuliaan, dan mendamaikan kabilah-kabilah Arab.”

Ad-Darimiyyah tidak meminta istana.

Tidak meminta perhiasan untuk memamerkan kekayaan.

Ia meminta sesuatu yang dapat menghidupi anak-anak, menolong para tetua, dan mendamaikan manusia.

Namun Muawiyah melihat sebuah kesempatan.

Barangkali seratus unta dapat melakukan sesuatu yang tidak berhasil dilakukan oleh ancaman maupun penghinaan.

Ia bertanya:

“Jika aku memberikannya kepadamu, apakah aku akan memperoleh kedudukan Ali di dalam hatimu?”

Ad-Darimiyyah menjawab:

“Mahasuci Allah! Tidak. Bahkan engkau tetap jauh di bawahnya.”

Seketika jelaslah bahwa Muawiyah dapat memberikan seratus unta, tetapi ia tidak dapat membeli satu tempat pun di hati perempuan itu.

Seratus unta dapat memenuhi padang penggembalaan.

Seratus unta dapat memberi susu kepada anak-anak.

Seratus unta dapat menjadi bekal untuk mendamaikan kabilah-kabilah.

Namun seratus unta tidak dapat mengubah sejarah.

Ia tidak dapat menghapus darah yang tertumpah.

Ia tidak dapat menjadikan ketidakadilan sebagai keadilan.

Dan ia tidak dapat menggantikan kedudukan seorang pemimpin yang dicintai karena tidak pernah memperjualbelikan hak rakyat.

Muawiyah tetap memerintahkan agar permintaan ad-Darimiyyah dipenuhi. Akan tetapi, sebelum percakapan berakhir, ia berkata:

“Demi Allah, seandainya Ali masih hidup, ia tidak akan memberikan semua ini kepadamu.”

Muawiyah mungkin mengira kalimat itu akan menjadi celaan terakhir kepada Ali.

Ad-Darimiyyah justru menjadikannya pujian yang paling agung.

“Benar, demi Allah. Bahkan satu helai bulu pun dari harta kaum Muslimin tidak akan diberikannya kepadaku.”

Satu helai bulu.

Bukan seekor unta.

Bukan seratus ekor.

Ali tidak akan mengambil satu helai bulu dari milik rakyat untuk membeli kecintaan seseorang.

Bukan karena Ali kikir.

Bukan karena ia tidak memedulikan kebutuhan seorang perempuan.

Namun karena harta kaum Muslimin bukan miliknya.

Kas negara bukan peti pribadi seorang penguasa. Ia tidak boleh dibuka untuk membeli pujian, kesetiaan, atau tempat di dalam hati manusia.

Muawiyah memiliki kuasa untuk memberikan seratus unta.

Tetapi Ali memiliki sesuatu yang lebih sulit dimiliki oleh seorang penguasa: kemampuan menahan tangannya sendiri ketika yang berada di hadapannya adalah harta rakyat.

Ad-Darimiyyah menerima unta-unta itu untuk kebutuhan manusia, tetapi ia tidak menyerahkan keyakinannya sebagai harga pembayaran.

Hadiah itu dapat memenuhi kebutuhannya.

Hadiah itu tidak dapat mengubah penilaiannya.

Sebab cinta kepada Ali bukan lahir dari pemberian.

Ia lahir dari keadilan.

Dan di situlah Muawiyah kalah dalam percakapan tersebut.

Ia mempunyai kekuasaan, kekayaan, dan seratus unta untuk diberikan. Namun perempuan yang berdiri di hadapannya tetap mencintai seorang lelaki yang bahkan tidak bersedia memberinya satu helai bulu dari harta kaum Muslimin.

Muawiyah mencoba memperoleh dengan pemberian apa yang telah diperoleh Ali melalui keadilan.

Ia tidak berhasil.

Sebab kebutuhan manusia mungkin dapat dipenuhi dengan harta.

Tetapi kehormatan tidak dapat dibeli.

Kesetiaan kepada kebenaran tidak dapat disuap.

Dan kedudukan Ali tidak dapat digantikan oleh seratus unta.

Jika Ali begitu menjaga harta rakyat—bahkan dari orang yang mencintainya—kenapa tidak mengikuti Ali?

Seratus unta

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Catatan sumber:

Kisah ini dinukil oleh Ibn Abi Thahir Tayfur dalam Balaghat an-Nisa’, bagian “Kalam ad-Darimiyyah al-Hajuniyyah”: “awal pertemuan dan dialog” serta “permintaan seratus unta dan penutupnya”.
Karya tersebut merupakan kumpulan sastra dan penuturan sejarah awal, bukan kitab hadis sahih, dan teks cetaknya tidak menampilkan sanad bersambung yang lengkap.
Karena itu, kisah ini diperlakukan sebagai riwayat historis-literer, bukan hadis yang telah dipastikan kesahihannya. Metadata salah satu edisi cetaknya dapat dilihat dalam “koleksi digital NYU”.

 

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1BzVHT1qfv/

 

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us