Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Konsep Mahdisme dalam Akidah Syi’ah (Bagian 4)
1. Keotentikan Hadis Tsaqalain
Hadis Tsaqalain merupakan salah satu hadis yang berstatus mutawatir (sangat sahih dan jalurnya sangat banyak) menurut para ulama Ahlussunnah Waljamaah.
Hadis ini diriwayatkan oleh tidak kurang dari 22 sahabat Nabi, di mana masing-masing sahabat meriwayatkannya melalui lebih dari satu jalur periwayatan.
Oleh karena itu, kesahihan hadis ini sudah berada di tingkat yang sangat tinggi dan tidak perlu lagi diperdebatkan.
Ulama besar Sunni, Ibnu Hajar Al-Haitami, menegaskan dalam kitabnya bahwa jalur periwayatan hadis perintah berpegang teguh pada tsaqalain ini sangat melimpah dari lebih dari 20 sahabat.
2. Kandungan dan Redaksi Hadis Tsaqalain
Berdasarkan riwayat dari sahabat Zaid bin Arqam, Rasulullah SAW pernah berpidato di hadapan para sahabat di sebuah tempat bernama Khum yang terletak di antara Makkah dan Madinah.
Dalam pidato tersebut, beliau mengisyaratkan bahwa ajalnya sudah dekat dan beliau meninggalkan dua pusaka berharga (tsaqalain) di tengah-tengah umat:
- Pusaka pertama adalah Kitab Allah (Al-Qur’an) yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya.
- Pusaka kedua adalah Ahlu Bait (keluarga/keturunan beliau).
Rasulullah mengulang penekanan tentang Ahlu Bait ini sebanyak tiga kali dengan kalimat: “Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlu Baitku”.
Dalam riwayat lain dari Abu Sa’id Al-Khudri, terdapat penegasan tambahan bahwa Al-Qur’an dan Ahlu Bait tidak akan pernah berpisah sampai keduanya menemui Rasulullah di Telaga (Al-Hawdh) pada hari kiamat kelak.
Umat pun diperingatkan untuk berhati-hati dalam memperlakukan keduanya setelah kepergian Nabi.
3. Tafsir dan Kompromi Riwayat Menurut Ibnu Hajar Al-Haitami
Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitabnya, Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah (yang ditulis secara khusus untuk mengkritisi pendapat Syiah tentang Imamah), memberikan ulasan mendalam mengenai hadis ini.
Beliau mengompromikan riwayat populer yang menyebutkan pesan berpegang teguh pada “Al-Qur’an dan Sunnah” dengan riwayat “Al-Qur’an dan Ahlu Bait”.
Menurutnya, anjuran berpegang teguh tersebut tertuju kepada Al-Qur’an, as-Sunnah, serta para ulama dari kalangan Ahlu Bait Nabi yang menguasai Al-Qur’an dan Sunnah.
Dengan demikian, kedua riwayat tersebut tidak saling bertentangan melainkan saling melengkapi.
4. Argumen Keberadaan Pemimpin dari Ahlu Bait yang Kontinu
Video ini menyoroti kesimpulan penting dari Hadis Tsaqalain terkait konsep kepemimpinan umat:
- Keberadaan yang Selamanya Ada:
Karena Al-Qur’an bersifat abadi sejak diturunkan hingga hari kiamat, dan Ahlu Bait dinyatakan tidak akan pernah berpisah dengannya, maka pasti akan selalu ada sosok alim dari kalangan Ahlu Bait di setiap zaman yang mendampingi Al-Qur’an hingga hari kiamat. - Mustahil Terjadi Kekosongan Pemimpin:
Jika ada suatu masa di mana bumi kosong dari sosok Ahlu Bait yang layak diikuti, maka perintah Nabi untuk berpegang teguh kepada mereka menjadi tidak logis (karena memerintahkan berpegang teguh kepada sesuatu yang tidak eksis). - Implikasi Terhadap Kelahiran Imam Mahdi:
Argumen ini sekaligus menyanggah pandangan bahwa Imam Mahdi belum lahir dan baru akan lahir di akhir zaman nanti.
Jika ia baru lahir nanti, maka akan terjadi kekosongan kepemimpinan (jeda) sejak wafatnya Imam ke-11 hingga lahirnya Imam ke-12.
Tanpa adanya sosok dari Ahlu Bait yang hadir di masa itu, umat tidak memiliki rujukan untuk diikuti dan secara otomatis akan jatuh ke dalam kesesatan.
5. Dukungan dari Pandangan Ulama Sunni Lainnya (Al-Munawi dan As-Samhudi)
Logika kontinuitas keberadaan Ahlu Bait ini diperkuat oleh kutipan dari ulama Ahlussunnah lainnya:
- Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir mengutip hadis yang menggunakan redaksi khalifatain (dua khalifah/pemimpin): “Aku tinggalkan di tengah kalian dua khalifah; Kitab Allah… dan Itrahku, Ahlu Baitku”.
- As-Samhudi (Ash-Syarif Nuruddin Ali bin Abdullah As-Samhudi, wafat 911 H) dalam kitab Jawahirul ‘Aqdain menegaskan bahwa hadis ini menjelaskan keberadaan sosok dari kalangan Ahlu Bait yang suci (at-itrah ath-thahirah) yang memiliki kelayakan untuk diikuti di setiap zaman hingga hari kiamat.
- As-Samhudi juga menganalogikan keberadaan Ahlu Bait seperti Al-Qur’an yang selalu dijaga oleh Allah. Beliau menyatakan bahwa keberadaan Ahlu Bait berfungsi sebagai pengaman bagi penghuni bumi, sehingga apabila mereka sudah tidak ada lagi di muka bumi, maka sirnalah bumi ini.
6. Kriteria Ahlu Bait yang Wajib Diikuti
Para ulama menegaskan bahwa sosok Ahlu Bait yang wajib diikuti dan dijadikan rujukan bukanlah sembarang keturunan, melainkan para ulama di antara mereka yang benar-benar menguasai kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah secara utuh.
Tidak logis apabila Rasulullah memerintahkan umat untuk berpegang teguh kepada sosok yang tidak memahami Al-Qur’an atau yang perilakunya bertentangan dengan Al-Qur’an.

Bersama Ustadz Ali Umar Al Habsyi
Judul video: Konsep Mahdisme dalam Akidah Syi’ah (Bagi. 4) – Watch on Youtube
Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:


