15 October 2026

Bagian 8: APA SEBENARNYA AMAR MAKRUF DAN NAHI MUNGKAR?

Ketika Imam Ja‘far ash-Shadiq datang ke Irak, beliau singgah di al-Hirah. Abu Hanifah kemudian menemuinya dan mengajukan beberapa pertanyaan.

Salah satu pertanyaannya adalah:

“Semoga aku menjadi tebusanmu, apakah yang dimaksud dengan amar makruf?”

Imam Ja‘far menjawab:

“Makruf, wahai Abu Hanifah—yang dikenal sebagai kebaikan di langit dan dikenal sebagai kebaikan di bumi—adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.”

Abu Hanifah bertanya lagi:

“Lalu apakah yang dimaksud dengan mungkar?”

Imam menjawab:

“Dua orang yang menzalimi hak Ali, merampas urusannya, dan menumpukkan manusia di atas pundaknya.”

Abu Hanifah tampaknya terkejut oleh jawaban itu. Ia kemudian bertanya:

“Bukankah amar makruf dan nahi mungkar itu ketika engkau melihat seseorang melakukan kemaksiatan kepada Allah, lalu engkau melarangnya?”

Imam Ja‘far menjawab:

“Itu bukanlah keseluruhan amar makruf dan nahi mungkar. Itu adalah kebaikan yang engkau persembahkan.”

Ketika agama dipersempit menjadi urusan pribadi

Jawaban Abu Hanifah mewakili pengertian yang paling umum.

Seseorang melihat orang lain berbuat dosa, lalu menegurnya. Ia melihat kemungkaran, kemudian berusaha menghentikannya. Tentu tindakan tersebut baik dan dalam fikih Islam tetap menjadi bagian dari kewajiban amar makruf dan nahi mungkar dengan syarat-syaratnya.

Namun Imam Ja‘far sedang membawa percakapan itu kepada lapisan yang lebih dalam.

Agama tidak hanya berbicara tentang kesalahan pribadi. Agama juga berbicara tentang arah kepemimpinan, sumber ilmu, keadilan sosial, dan siapa yang berhak menjaga ajaran Rasulullah setelah beliau wafat.

Apa gunanya sibuk menegur dosa-dosa kecil manusia, tetapi diam ketika hak manusia paling utama dirampas?

Apa artinya melarang kemungkaran di jalanan, tetapi membiarkan kemungkaran tumbuh di pusat kekuasaan?

Seseorang dapat sangat berani menghardik orang lemah karena pakaiannya, cara ibadahnya, atau kesalahan kecil yang terlihat oleh mata. Namun di hadapan penguasa yang merampas hak, memutarbalikkan sejarah, dan menindas manusia, suaranya tiba-tiba menghilang.

Amar makruf akhirnya berubah menjadi pengawasan terhadap orang kecil.

Sedangkan nahi mungkar kehilangan keberanian untuk menyentuh akar kezaliman.

Ali sebagai makruf

Mengapa Imam Ja‘far menyebut Ali sebagai al-ma‘rūf—kebaikan yang dikenal di langit dan di bumi?

Sebab Ali bukan hanya orang yang melakukan kebaikan. Ia adalah manusia yang seluruh kehidupannya menjadi ukuran kebaikan.

Ketika Islam membutuhkan keberanian, Ali berada di medan perang.

Ketika Rasulullah membutuhkan orang yang dipercaya, Ali berada di sisinya.

Ketika umat membutuhkan ilmu, Rasulullah menunjukkan Ali.

Ketika orang miskin mengetuk pintu, Ali dan Fathimah memberikan makanan yang sebenarnya mereka butuhkan.

Ketika kekuasaan berada dalam genggamannya, Ali tetap tunduk kepada keadilan—bahkan ketika keadilan itu tidak menguntungkan dirinya.

Pada diri Ali, makruf tidak berhenti sebagai teori.

Kebenaran menjadi manusia. Keadilan berjalan di pasar. Ilmu berbicara di masjid. Keberanian berdiri menghadapi kekuasaan. Ibadah, kecerdasan, kasih sayang, dan keteguhan berkumpul dalam satu pribadi.

Karena itu Rasulullah saw. bersabda dalam riwayat yang terkenal:

“Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali.”

Ali tidak menjadi benar karena manusia memujinya. Manusia mengetahui kebenaran dengan melihat di mana Ali berdiri.

Itulah makna Ali sebagai al-ma‘rūf: ia bukan sekadar pelaku kebaikan, melainkan tanda yang membuat kebaikan dapat dikenali.

Mungkar yang mengubah arah sejarah

Imam Ja‘far kemudian menyebut mungkar bukan sebagai satu perbuatan kecil, melainkan tindakan menzalimi hak Ali dan merampas urusannya.

Ini adalah kemungkaran yang bersifat struktural.

Sebuah dosa pribadi mungkin merusak satu orang. Namun perampasan kepemimpinan dapat mengubah arah seluruh umat. Ketika sumber ilmu disingkirkan, kekeliruan akan berkembang menjadi sistem. Ketika hak kepemimpinan dipisahkan dari pemiliknya, agama perlahan-lahan menyesuaikan diri dengan kepentingan kekuasaan.

Setelah itu, kemungkaran tidak lagi tampak sebagai kemungkaran.

Ia ditulis sebagai prestasi.

Perampasan disebut kesepakatan.

Keterpaksaan disebut musyawarah.

Diamnya orang yang terzalimi disebut kerelaan.

Dan sejarah yang dibentuk oleh pemenang akhirnya diperlakukan seolah-olah bagian dari wahyu.

Riwayat tersebut tidak menyebut nama dua orang itu. Ia hanya menggambarkan tindakannya: menzalimi hak Ali dan merampas urusannya. Dalam pembacaan sejarah Imamiyah, sifat tersebut diarahkan kepada dua tokoh yang mendahului Ali dalam kekhalifahan setelah Rasulullah saw.

Namun yang paling penting bukan sekadar menyebut nama.

Yang paling penting adalah memahami ukuran yang diberikan Imam: siapa pun yang merampas hak, membelokkan petunjuk, dan menempatkan kepentingan kekuasaan di atas kebenaran, telah membuka pintu bagi kemungkaran yang jauh lebih besar daripada dosa perseorangan.

Menegur dosa, tetapi membela sumbernya

Ada orang yang sangat keras terhadap akibat, tetapi membela penyebabnya.

Ia marah melihat kerusakan moral masyarakat, tetapi mendukung sistem yang melahirkan ketidakadilan. Ia menuntut rakyat hidup sederhana, tetapi diam terhadap penguasa yang menumpuk kekayaan. Ia sibuk memeriksa panjang pakaian manusia, tetapi tidak memeriksa panjang tangan yang merampas hak orang banyak.

Ia menyebut dirinya pelaksana amar makruf dan nahi mungkar.

Padahal yang dilakukannya mungkin hanya mengawasi daun-daun yang rusak sambil menyiram akar pohon yang beracun.

Imam Ja‘far mengembalikan amar makruf kepada pusatnya: kepemimpinan kebenaran.

Jika pusatnya benar, hukum akan memperoleh arah yang benar. Keadilan akan berdiri. Ilmu tidak diperjualbelikan. Agama tidak menjadi alat kekuasaan.

Namun jika pusatnya telah dirampas, manusia dapat terus berbicara tentang kebaikan sambil hidup di dalam bangunan yang didirikan oleh kemungkaran.

Apakah menegur kemaksiatan tidak penting?

Jawaban Imam tidak boleh dipahami seolah-olah menasihati pelaku maksiat tidak berguna.

Dalam banyak riwayat Ahlul Bait, amar makruf dan nahi mungkar disebut sebagai jalan para nabi, metode orang-orang saleh, serta kewajiban besar yang dengannya berbagai kewajiban lain ditegakkan, kezaliman ditolak, dan kehidupan masyarakat diluruskan.

Jadi, Imam tidak menghapus makna fikihnya.

Beliau membongkar penyempitannya.

Menegur kemaksiatan pribadi adalah kebaikan. Tetapi amar makruf dan nahi mungkar tidak boleh berhenti pada teguran terhadap individu. Ia harus berani menyentuh kekuasaan, ketidakadilan, perampasan hak, dan penyimpangan arah umat.

Menegur seorang peminum mungkin menyelamatkan satu orang.

Namun mengembalikan umat kepada sumber ilmu yang benar dapat menyelamatkan sebuah peradaban.

Amar makruf tanpa makrifat

Untuk memerintahkan yang makruf, seseorang harus terlebih dahulu mengenali makruf.

Di sinilah terdapat hubungan antara makruf dan makrifat: sesuatu disebut makruf karena ia diketahui dan dikenali sebagai kebaikan.

Tetapi bagaimana manusia dapat mengenali kebaikan jika sumber pengetahuannya telah keliru?

Orang yang tidak mengenal Ali mungkin tetap berbicara tentang keadilan, tetapi ia kehilangan salah satu ukuran terbesarnya. Ia dapat berbicara tentang ilmu, tetapi meninggalkan pintu kota ilmu. Ia dapat membicarakan keberanian, tetapi tidak memahami siapa yang berdiri ketika banyak orang mundur.

Tanpa mengenal manusia yang menjadi ukuran kebenaran, amar makruf mudah berubah menjadi pemaksaan selera pribadi.

Orang menyuruh bukan karena Allah memerintahkan, tetapi karena ia ingin orang lain menyerupai dirinya.

Ia melarang bukan karena memahami hakikat mungkar, melainkan karena tidak menyukai perbedaan.

Di tangan orang semacam ini, amar makruf tidak lagi menjadi jalan para nabi. Ia menjadi alat untuk menguasai kehidupan orang lain.

Karena itu, sebelum memerintahkan makruf, kenalilah terlebih dahulu siapa yang menjadi perwujudan makruf.

Sebelum melarang mungkar, pahamilah kemungkaran yang mengubah arah sejarah.

Dari cabang menuju akar

Abu Hanifah datang dengan pengertian bahwa nahi mungkar adalah melarang seseorang melakukan dosa.

Imam Ja‘far tidak menolak kebaikan itu. Beliau hanya menunjukkan bahwa masih ada sesuatu yang jauh lebih besar.

Agama bukan hanya mengurus perilaku manusia di permukaan. Agama menjaga akar yang menentukan dari mana kebenaran dipelajari, kepada siapa umat dipimpin, dan siapa yang berhak menjelaskan ajaran Rasulullah.

Jika akarnya benar, cabang-cabangnya dapat diselamatkan.

Namun jika akarnya dipotong, manusia mungkin terus sibuk merapikan daun sambil tidak menyadari bahwa pohonnya perlahan-lahan mati.

Ali bin Abi Thalib adalah makruf yang dikenal di langit dan di bumi.

Bukan karena sejarah memberinya gelar.

Melainkan karena sejak awal, langit telah mengenalnya—meskipun bumi kemudian berusaha merampas haknya.

Dialog hanafi8

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

⸻

Catatan sumber:

Riwayat ini disebut bersumber dari Syekh al-Mufid melalui Muhammad bin as-Sā’ib al-Kalbi dan dipelihara dalam Ta’wīl al-Āyāt azh-Zhāhirah, jilid 2, halaman 852–853.
Ia juga dimuat kembali dalam Bihār al-Anwār, jilid 24, halaman 58. Lihat Ta’wīl al-Āyāt, jilid 2, hlm. 852 dan Bihār al-Anwār, jilid 24, hlm. 58.

Jawaban Imam dalam riwayat ini paling tepat dibaca sebagai penjelasan batin dan puncak makna amar makruf dan nahi mungkar, bukan penghapusan terhadap kewajiban praktis menegur kemaksiatan.
Tentang kedudukan praktisnya, al-Kāfī menyebut amar makruf dan nahi mungkar sebagai “jalan para nabi dan metode orang-orang saleh” yang dengannya kewajiban ditegakkan serta kezaliman dikembalikan. Lihat al-Kāfī, jilid 5, hlm. 56.

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DZX9RviLP/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us