Bagian 9: BAGAIMANA AL-QUR’AN SELALU BARU?
Setelah berbicara mengenai makruf, mungkar, dan nikmat yang akan ditanyakan pada Hari Kiamat, Abu Hanifah mengajukan satu pertanyaan yang sangat indah kepada Imam Ja‘far ash-Shadiq:
“Semoga aku menjadi tebusanmu, bagaimana Al-Qur’an dapat selalu baru?”
Imam Ja‘far menjawab:
“Karena Allah tidak menjadikannya hanya untuk suatu masa dan bukan untuk masa lainnya. Jika demikian, hari-hari akan membuatnya usang dan Al-Qur’an akan lenyap sebelum dunia berakhir.”
Dalam riwayat lain, seseorang mengajukan pertanyaan yang hampir sama:
“Mengapa Al-Qur’an, semakin disebarkan dan dipelajari, justru semakin terasa segar?”
Imam Ja‘far menjawab:
“Karena Allah tidak menurunkannya hanya untuk suatu masa dan bukan masa lainnya, serta tidak untuk suatu kaum dan bukan kaum lainnya. Karena itu, Al-Qur’an selalu baru pada setiap zaman dan selalu segar bagi setiap kaum sampai Hari Kiamat.”
Kitab lama yang tidak pernah menjadi masa lalu
Al-Qur’an diturunkan lebih dari empat belas abad silam.
Ayat-ayatnya berbicara kepada manusia yang hidup di Makkah dan Madinah. Ia menanggapi peperangan tertentu, perjanjian tertentu, pertanyaan tertentu, bahkan percakapan-percakapan yang terjadi dalam rumah Rasulullah saw.
Namun Al-Qur’an tidak pernah menjadi sekadar dokumen sejarah.
Ia lahir dalam sejarah, tetapi tidak dikurung oleh sejarah.
Peristiwa yang melatarbelakangi turunnya sebuah ayat dapat berakhir. Orang-orang yang pertama kali mendengarnya dapat meninggal. Kota, kerajaan, dan peradaban dapat berubah. Namun pola kebenaran dan kebatilan yang dibicarakan Al-Qur’an terus berulang.
Fir‘aun telah tenggelam, tetapi kesombongan kekuasaan tidak ikut tenggelam bersamanya.
Qarun telah ditelan bumi, tetapi manusia yang mengira kekayaan sepenuhnya lahir dari kehebatannya sendiri terus bermunculan.
Abu Lahab telah mati, tetapi kebencian terhadap kebenaran karena kepentingan keluarga dan kedudukan tidak pernah benar-benar mati.
Kaum munafik Madinah telah lama meninggalkan dunia, tetapi manusia yang berbicara tentang iman sambil bekerja untuk melemahkannya masih hidup pada setiap zaman.
Karena itu, ketika kita membaca Al-Qur’an, pertanyaannya bukan hanya:
“Siapa yang dimaksud oleh ayat ini ketika pertama kali turun?”
Kita juga harus bertanya:
“Di mana sifat itu hidup hari ini—dan adakah ia hidup dalam diriku?”
Jika ayat mati bersama pelakunya
Imam Muhammad al-Baqir menjelaskan:
“Sesungguhnya Al-Qur’an hidup dan tidak mati. Ayat juga hidup dan tidak mati. Seandainya suatu ayat mati setelah orang-orang yang menjadi sebab turunnya meninggal, niscaya Al-Qur’an telah mati. Namun ayat itu berlaku bagi orang-orang yang datang kemudian sebagaimana ia berlaku bagi orang-orang terdahulu.”
Ini bukan berarti sebab turunnya ayat tidak penting.
Sejarah tetap diperlukan untuk mengetahui konteks, arah pembicaraan, dan makna pertama sebuah ayat. Tanpa sejarah, manusia dapat memotong ayat dan menggunakannya sesuka hati.
Namun mengetahui sebab turunnya ayat tidak berarti menguburkan ayat bersama peristiwa tersebut.
Sebab turunnya ayat menunjukkan pintu pertama tempat wahyu memasuki sejarah. Tetapi dari pintu itu, cahaya Al-Qur’an bergerak melampaui zaman.
Ayat tentang kezaliman tidak berhenti setelah pelaku pertama meninggal. Ayat mengenai kemunafikan tidak selesai setelah Abdullah bin Ubay dikuburkan. Ayat tentang orang yang mencintai dunia lebih daripada kebenaran tidak kehilangan makna ketika nama orang pertama yang dimaksud telah dilupakan.
Nama dapat berubah.
Kostum dapat berganti.
Sistem kekuasaan dapat menggunakan istilah baru.
Namun sifat manusia tetap berulang.
Baru bukan berarti berubah
Mengatakan Al-Qur’an selalu baru tidak berarti teksnya harus diubah agar sesuai dengan zaman.
Yang baru bukan wahyunya.
Yang baru adalah manusia, keadaan, pertanyaan, dan bentuk persoalan yang berhadapan dengan wahyu.
Al-Qur’an tidak mengikuti zaman seperti bayangan mengikuti benda. Justru zamanlah yang harus dibaca dan diukur dengan cahaya Al-Qur’an.
Ada dua cara membuat Al-Qur’an kehilangan fungsinya.
Cara pertama adalah membekukannya di masa lalu. Ayat hanya dianggap berbicara tentang orang-orang yang telah mati. Fir‘aun hanya tokoh Mesir kuno. Kemunafikan hanya masalah masyarakat Madinah. Kezaliman hanya kisah kerajaan terdahulu.
Dengan cara ini, Al-Qur’an dihormati sebagai kitab suci, tetapi tidak diizinkan menyentuh keadaan sekarang.
Cara kedua adalah mencairkan Al-Qur’an mengikuti selera zaman. Makna ayat diubah sesuka hati agar sesuai dengan keinginan manusia modern. Batas bahasa, konteks, dan penjelasan Rasulullah diabaikan.
Dengan cara pertama, Al-Qur’an dijadikan benda museum.
Dengan cara kedua, Al-Qur’an dijadikan tanah liat.
Keduanya keliru.
Al-Qur’an hidup bukan karena dapat dibentuk sesuka manusia. Ia hidup karena kebenarannya tetap mampu membentuk manusia pada setiap zaman.
Kita bukan penonton kisah Al-Qur’an
Ketika membaca kisah Nabi Musa menghadapi Fir‘aun, kita sering menempatkan diri bersama Musa.
Ketika membaca kisah Ibrahim menghancurkan berhala, kita merasa berada di pihak Ibrahim.
Ketika membaca mengenai orang-orang munafik, kita membayangkan orang lain.
Ketika membaca ayat tentang manusia yang menjual agamanya dengan harga murah, kita segera mencari tokoh yang dapat dituduh.
Hampir tidak pernah kita bertanya:
“Bagaimana jika dalam kisah ini aku bukan Musa?”
Bagaimana jika sebagian sifat Fir‘aun hidup dalam caraku memperlakukan orang yang lebih lemah?
Bagaimana jika berhala yang harus dihancurkan bukan patung di sebuah kuil, melainkan kedudukan, mazhab, tokoh, atau pendapat yang tidak berani kukoreksi meskipun bertentangan dengan kebenaran?
Bagaimana jika ayat tentang kemunafikan tidak sedang membicarakan lawan-lawan kita, tetapi sedang mengetuk pintu hati kita sendiri?
Al-Qur’an selalu baru karena setiap kali dibaca dengan jujur, ia mengubah posisi pembacanya.
Semula kita merasa menjadi hakim yang menilai tokoh-tokoh dalam ayat. Tiba-tiba kita menyadari bahwa kitalah yang sedang diadili oleh ayat tersebut.
Membaca zaman dengan Al-Qur’an
Al-Qur’an bukan kitab yang memberikan nama bagi seluruh peristiwa masa depan. Ia tidak menyebut teknologi modern, sistem perbankan, media sosial, kecerdasan buatan, atau negara-negara yang baru berdiri berabad-abad kemudian.
Namun Al-Qur’an menjelaskan manusia yang akan menggunakan semua itu.
Ia berbicara tentang kerakusan, keadilan, berita dusta, kesombongan, amanah, kekuasaan, penindasan, kasih sayang, dan tanggung jawab. Alat berubah, tetapi manusia yang memegang alat itu tetap membawa kemungkinan moral yang sama.
Dahulu kebohongan disebarkan melalui pasar dan majelis.
Sekarang ia menyebar melalui layar dalam hitungan detik.
Dahulu penguasa membangun patung untuk mengabadikan kekuasaannya.
Sekarang kekuasaan dapat membangun citra melalui media.
Dahulu manusia mengubur anak perempuan karena malu dan takut miskin.
Sekarang kehidupan dapat dihancurkan dengan alasan kenyamanan, reputasi, atau kepentingan ekonomi.
Bentuknya berubah, tetapi pertanyaan Al-Qur’an tetap hidup:
Di mana keadilan?
Siapa yang dizalimi?
Siapa yang menyembunyikan kebenaran?
Siapa yang menjual ayat Allah dengan harga murah?
Siapa yang berdiri bersama orang tertindas?
Karena itu Al-Qur’an tidak menjadi tua ketika dunia berubah. Justru perubahan dunia membuka lapisan-lapisan baru dari daya bimbingnya.
Al-Qur’an yang hidup membutuhkan penjelas yang hidup
Namun ada persoalan besar.
Jika Al-Qur’an berlaku pada setiap zaman, siapa yang menjaga agar penerapannya tidak berubah menjadi penafsiran liar?
Setiap orang dapat mengaku berbicara atas nama Al-Qur’an. Penguasa mengutip ayat untuk mempertahankan kekuasaan. Kelompok pemberontak mengutip ayat untuk membenarkan kekerasan. Orang yang lembut dan orang yang kejam sama-sama dapat membawa mushaf.
Di sinilah Al-Qur’an tidak boleh dipisahkan dari Ahlul Bait.
Rasulullah saw. tidak meninggalkan Al-Qur’an sendirian. Beliau meninggalkan Al-Qur’an dan keluarganya, serta menegaskan bahwa keduanya tidak akan berpisah sampai bertemu dengannya di telaga.
Al-Qur’an selalu hidup.
Ahlul Bait menjaga bagaimana kehidupan ayat itu dipahami.
Tanpa Al-Qur’an, manusia kehilangan wahyu. Tanpa Ahlul Bait, manusia dapat memaksa wahyu berbicara sesuai kepentingannya.
Al-Qur’an memberikan cahaya.
Ahlul Bait menunjukkan ke arah mana cahaya itu harus diarahkan.
Hari-hari tidak dapat membuatnya usang
Buku manusia biasanya lahir dari zamannya. Ia menjawab persoalan tertentu, menggunakan pengetahuan tertentu, lalu perlahan-lahan kehilangan daya ketika dunia berubah.
Namun Al-Qur’an datang dari Dia yang mengetahui seluruh zaman.
Karena itu, hari-hari tidak dapat membuatnya usang.
Yang menjadi usang bukan Al-Qur’an, melainkan cara kita membacanya.
Kita membaca tanpa bertanya. Mengulang tanpa merenung. Melagukan tanpa bersedia dikoreksi. Menghafal ayat, tetapi membiarkan pikiran dibentuk oleh kepentingan, fanatisme, dan kekuasaan.
Al-Qur’an tidak pernah kehilangan kebaruannya.
Manusialah yang kadang kehilangan kesegaran hatinya.
Abu Hanifah bertanya bagaimana Al-Qur’an dapat selalu baru.
Imam Ja‘far menjawab bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk satu masa.
Artinya, setiap kali mushaf dibuka, wahyu tidak hanya menceritakan apa yang pernah terjadi.
Ia sedang berbicara kepada kita.
Hari ini.
Di sini.
Dan mungkin ayat yang kita kira sedang menjelaskan kesalahan orang lain, sesungguhnya sedang menunggu keberanian kita untuk melihat diri sendiri.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
⸻
Catatan sumber:
Pertanyaan Abu Hanifah dan jawaban Imam Ja‘far ini merupakan bagian dari riwayat Muhammad bin as-Sā’ib al-Kalbi yang dipelihara dalam Ta’wīl al-Āyāt azh-Zhāhirah, jilid 2, halaman 852–853.
Lihat teks riwayat dalam Ta’wīl al-Āyāt. Sebagaimana diterangkan pada bagian sebelumnya, keseluruhan sanad riwayat tersebut tidak tampil dalam sumber yang sampai kepada kita sehingga kesahihan dialog spesifiknya belum dapat dipastikan.
Namun ajaran bahwa Al-Qur’an selalu baru memiliki jalur lain yang terpisah.
Syekh ash-Shaduq meriwayatkan melalui Imam Ali ar-Ridha dari ayahnya bahwa seseorang bertanya kepada Imam Ja‘far mengapa Al-Qur’an semakin dipelajari semakin segar; jawabannya: Al-Qur’an tidak dikhususkan bagi satu masa atau satu kaum.
Lihat Musnad al-Imām ar-Ridhā, jilid 1, hlm. 309. Riwayat serupa juga dicatat dalam sumber Sunni, Tārīkh Baghdād karya al-Khatib al-Baghdadi, dalam biografi Ibrahim bin al-Abbas.
Lihat Tārīkh Baghdād, jilid 7, hlm. 30. Jalur-jalur terpisah ini menguatkan bahwa gagasan tersebut memang dikenal luas sebagai bagian dari pengajaran Ahlul Bait, meskipun tidak otomatis membuktikan setiap detail percakapan Abu Hanifah.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1HoU7YG16x/

