Padang Pasir di Bulan Dzulhijjah
Bayangkan sebuah padang pasir di bulan Dzulhijjah.
Bukan padang pasir yang indah seperti di lukisan—bukan hamparan emas yang berkilat ditimpa senja.
Ini adalah padang pasir di siang bolong, ketika matahari tepat di atas ubun-ubun dan batu-batu di bawah kaki terasa seperti bara yang baru diangkat dari tungku.
Angin bertiup tapi tidak menyejukkan—ia hanya memindahkan panas dari satu sisi ke sisi lain, seperti seseorang yang membolak-balik roti di atas api tanpa berniat mendinginkannya.
Di padang seperti itulah, pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10 Hijriah, lebih dari seratus dua puluh ribu manusia duduk diam.
Mereka duduk di atas batu. Mereka melindungi telapak kaki dengan jubah masing-masing agar tidak melepuh.
Mereka baru saja menyelesaikan ibadah Haji Wada’—Haji Perpisahan—dan hendak pulang ke kampung halaman masing-masing: ada yang ke Madinah, ke Yaman, ke Suriah, ke Mesir. Tetapi di persimpangan ini—di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khumm, sebuah kolam kecil di tepi jalan yang dikelilingi beberapa pohon—perjalanan itu berhenti.
Rasulullah ﷺ memerintahkan semuanya berhenti.
Rombongan yang sudah terlanjur berjalan jauh dipanggil kembali. Mereka yang masih tertinggal diminta menunggu. Salman al-Farisi dan beberapa sahabat diperintahkan menyusun pelana unta di atas tumpukan batu—sebuah mimbar darurat di padang yang tidak menyediakan panggung. Dan di atas mimbar yang ganjil itu, Sang Nabi berdiri.
Ia berbicara selama tiga jam.
Tiga jam!
Tiga jam di bawah matahari padang pasir, kepada seratus dua puluh ribu orang yang duduk diam di atas batu-batu panas.
Pertanyaannya bukan: apa yang ia katakan?—karena kata-katanya sudah tercatat dengan teliti dalam sejarah, baik oleh para sahabat yang hadir, maupun oleh para ulama dari berbagai mazhab yang mewarisinya.
Pertanyaan yang lebih menggoda adalah: mengapa begitu sedikit dari kita yang tahu tentang hari itu?
Keganjilan di Tengah Umat
Kita hidup di tengah umat yang sangat mencintai Al-Qur’an.
Setiap Ramadan, masjid-masjid penuh hingga shalat subuh. Khataman diselenggarakan di mana-mana. Tanggal 17 Ramadan diperingati dengan ceramah, doa bersama, dan lampu-lampu yang dinyalakan hingga tengah malam—untuk merayakan hari ketika wahyu pertama turun kepada seorang manusia di Gua Hira. Ini adalah perayaan yang indah dan seharusnya memang ada.
Tetapi ada sesuatu yang ganjil jika kita berhenti sejenak dan bertanya:
Jika kita merayakan hari Al-Qur’an mulai diturunkan, mengapa kita tidak merayakan hari Al-Qur’an dinyatakan sempurna?
Jika kita mengenal 17 Ramadan sebagai hari yang mulia, mengapa 18 Dzulhijjah terasa asing di telinga kebanyakan kita?
Jawabannya, saya kira, tidak sesederhana “tidak tahu.” Karena peristiwa Ghadir Khumm bukan peristiwa yang tersembunyi di bilik-bilik kitab langka. Ia tercatat dalam Musnad Ahmad ibn Hanbal. Ia ada dalam Sahih Muslim. Ia disebut dalam Sunan al-Tirmidzi, dan dalam al-Mustadrak karya al-Hakim al-Naysaburi. Para ulama hadis dari berbagai mazhab, berabad-abad lamanya, tidak pernah mempersoalkan bahwa peristiwa itu terjadi.
Yang dipersoalkan adalah maknanya.
Dan di situlah, dengan halus, sebuah kisah yang seharusnya menjadi milik seluruh umat perlahan-lahan menjadi milik sebagian kecil saja—sementara sebagian besar yang lain belajar untuk tidak terlalu mendalaminya.
Beratnya Sebuah Risalah
Sebelum kita sampai pada hari itu, izinkan saya mengajak Anda sedikit mundur.
Pernahkah Anda membayangkan beratnya menjadi seorang Nabi?
Bukan berat dalam pengertian fisik—perjalanan ribuan kilometer, tidur di atas tanah, makan seadanya. Itu berat, tapi bisa diukur. Yang saya maksud adalah berat yang lain: berat menyampaikan kebenaran kepada orang-orang yang sebagian di antaranya tidak ingin mendengarnya.
Selama dua puluh tiga tahun, Rasulullah ﷺ membangun sebuah komunitas dari nol. Dari sekelompok kecil yang percaya di gang-gang Makkah, hingga lautan manusia yang bertasbih bersama di Haji Wada’.
Ia mengajari mereka shalat, zakat, puasa, haji. Ia menyelesaikan perang demi perang. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur dan memendam kesedihan sambil terus melangkah.
Dan di penghujung perjalanan itu, di titik ketika tugas seorang Rasul hampir selesai, turun sebuah firman yang nadanya tidak seperti firman-firman yang biasanya:
”Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atasmu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. al-Ma’idah [5]: 3)⁵
”Pada hari ini.” Hari apa?
Banyak yang membaca ayat ini seolah ia mengapung tanpa waktu, tanpa peristiwa—sebuah pernyataan umum tentang kesempurnaan Islam yang bisa diletakkan di mana saja dalam garis waktu.
Padahal ia turun pada hari yang spesifik, di tempat yang spesifik, sesudah peristiwa yang spesifik.
Sejarawan dan mufasir dari berbagai kalangan—termasuk ath-Thabari, al-Suyuthi, al-Razi, al-Haskani, dan lainnya—mencatat keterkaitan antara ayat ini dengan peristiwa Ghadir.
Bahkan L. Veccia Vaglieri, seorang orientalis Italia yang menulis entri “Ghadir Khum” dalam Encyclopaedia of Islam—sebuah ensiklopedia akademis Barat yang tentu bukan diterbitkan oleh simpatisan Syiah—mengakui dengan jujur:
”Sudah pasti bahwa Muhammad berbicara di tempat ini dan mengucapkan kalimat yang terkenal itu, karena catatannya terpelihara bukan hanya dalam sumber-sumber yang bersimpati kepada Ali, melainkan juga dalam koleksi-koleksi hadis yang dianggap kanonik—terutama dalam Musnad Ibn Hanbal. Dan hadis-hadis itu begitu banyak dan begitu kokoh sanadnya dari berbagai jalur yang berbeda-beda sehingga tampaknya tidak mungkin untuk menolaknya.”⁶
Seorang sarjana Barat, dari institusi akademis yang bekerja dengan standar bukti sejarah, berkata: “Tidak mungkin untuk menolaknya.” Lalu mengapa kita, sebagai umat yang mengaku mewarisi peristiwa itu, begitu mudah melewatinya?
Sejarah dan Tekanan Politik
Vaglieri juga menulis sesuatu yang lebih menggelisahkan:
”Sebagian besar sumber yang menjadi dasar pengetahuan kita tentang kehidupan Nabi melewatkan begitu saja perhentian Muhammad di Ghadir Khumm, atau jika menyebutnya, tidak mengatakan apa pun tentang pidatonya. Para penulis jelas-jelas takut menarik permusuhan dari mereka yang sedang berkuasa, dengan menyediakan bahan perdebatan bagi pihak yang menggunakan peristiwa ini untuk mendukung tesis mereka.”
Berhenti sejenak. Seorang sarjana non-Muslim, yang membaca teks-teks sejarah Islam dari luar, sampai pada kesimpulan bahwa peristiwa Ghadir Khumm sengaja dilewatkan oleh sebagian penulis sejarah karena tekanan politik.
Bukan karena ia tidak terjadi. Bukan karena sanadnya lemah. Tetapi karena ia berbahaya bagi yang sedang memegang kekuasaan.
Ini adalah pengakuan yang berharga, justru karena datangnya dari orang yang tidak memiliki kepentingan teologis dalam perdebatan ini.
Sejarah, seperti yang sering kita lupakan, tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu ditulis dengan tangan seseorang, dan tangan itu selalu punya kepentingan.
Mengapa Hari Itu Terlupakan?
Maka kita kembali ke pertanyaan awal: mengapa hari itu terlupakan?
Bukan karena ia tidak terjadi. Bukan karena ia tidak penting. Bukan pula karena sanadnya lemah atau dipertanyakan oleh para ulama hadis. Ia terlupakan karena ia terlalu besar untuk diingat dengan nyaman.
Peristiwa Ghadir Khumm bukan sekadar pidato perpisahan. Ia adalah penyempurnaan sebuah misi yang dimulai dua puluh tiga tahun sebelumnya.
Ia adalah titik di mana Rasulullah ﷺ, setelah membangun fondasi tauhid dan syariat, meletakkan batu terakhir yang oleh Allah disebut sebagai penyempurna agama itu sendiri.
Dan batu terakhir itu—apa pun penafsiran yang kita pegang tentang maknanya—adalah tentang kepemimpinan. Tentang siapa yang akan menjadi penjaga setelah Sang Nabi pergi.
Ini bukan pertanyaan teknis. Ini adalah pertanyaan paling mendasar yang bisa ditanyakan oleh sebuah komunitas: setelah pemimpin kita tiada, ke mana kita pergi?
Jawaban yang diberikan di Ghadir Khumm sangat jelas. Yang membuat ia menjadi hari raya yang terlupakan bukan karena jawabannya tidak ada, melainkan karena sejarah memilih untuk mengingat pertanyaannya saja—dan membiarkan jawabannya perlahan-lahan tenggelam di bawah lapisan-lapisan tafsir dan kepentingan yang berlomba-lomba untuk mengisinya kembali dengan makna yang lain.
Sebuah Panggilan
Rasulullah ﷺ sendiri pernah bersabda—dalam riwayat yang dinukil dari berbagai jalur:
”Hari Ghadir Khumm adalah hari raya terbaik umatku. Ia adalah hari ketika Allah memerintahkanku untuk menyebutkan saudaraku, Ali ibn Abi Thalib, sebagai pemikul panji umatku, sehingga setelahku manusia akan mendapat petunjuk melaluinya. Dan ia adalah hari ketika Allah menyempurnakan agama dan menggenapkan nikmat-Nya atas mereka.”
Hari raya terbaik. Bukan klaim sepihak. Bukan tambahan generasi belakangan. Melainkan kata-kata Rasulullah ﷺ sendiri tentang hari itu.
Kita merayakan hari Al-Qur’an mulai berbicara. Sudah seharusnya kita juga mengenang hari ketika ia selesai berkata. Karena satu kisah—kisah terbesar dalam sejarah umat manusia—tidak selayaknya dikenang hanya dari separuh perjalanannya.
Ghadir bukan sekadar kenangan sejarah.
Ia adalah sebuah panggilan.
Panggilan untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah.
Panggilan untuk berpegang teguh kepada Itrah Rasulullah ﷺ.
Panggilan untuk menjadikan kebenaran sebagai poros kehidupan.
SELAMAT HARI RAYA IDUL GHADIR
Catatan Penting:
¹ Lihat antara lain: Tafsir al-Tsa’labi, al-Kashf wa al-Bayan; al-Wahidi, Asbab al-Nuzul; al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur; al-Haskani, Shawahid al-Tanzil; Fakhr al-Razi, Mafatih al-Ghayb; dan al-‘Allamah al-Amini, al-Ghadir, pembahasan tentang QS. al-Ma’idah [5]: 67 dan konteks turunnya dalam kaitannya dengan Ghadir Khumm.
² Hadis ats-Tsaqalain diriwayatkan melalui banyak jalur yang dinilai sahih dan mutawatir. Lihat: Imam Muslim, Sahih Muslim, Kitab Fadha’il al-Shahabah; al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, no. 3786; Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad; al-Hakim al-Naysaburi, al-Mustadrak ‘ala al-Shahihayn; al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra.
³ Hadis Ghadir («من كنت مولاه فهذا علي مولاه») termasuk hadis mutawatir yang diriwayatkan oleh puluhan sahabat. Lihat: Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad; al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, no. 3713; al-Nasa’i, al-Khasha’ish al-‘Alawiyyah; al-Hakim al-Naysaburi, al-Mustadrak. Ucapan selamat Umar ibn al-Khaththab kepada Ali tercatat dalam Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad, dan Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah.
⁴ Doa Ghadir diriwayatkan oleh Ahmad ibn Hanbal dalam Musnad Ahmad, al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, dan al-Nasa’i dalam al-Khasha’ish al-‘Alawiyyah.
⁵ Lihat antara lain: al-Tsa’labi, al-Kashf wa al-Bayan; al-Haskani, Shawahid al-Tanzil; ath-Thabari, Jami’ al-Bayan; Ibn al-Maghazili, Manaqib Amir al-Mu’minin; dan al-‘Allamah al-Amini, al-Ghadir, mengenai riwayat-riwayat yang mengaitkan QS. al-Ma’idah [5]: 3 dengan peristiwa Ghadir Khumm.
⁶ L. Veccia Vaglieri, entri “Ghadir Khum”, dalam Encyclopaedia of Islam, edisi Brill, 1953. Vaglieri adalah orientalis Italia, Guru Besar Bahasa Arab di Universitas Naples dan Roma, yang menulis tentang Ghadir Khumm dari perspektif akademis sejarah Islam. Kutipannya dalam artikel ini merupakan pengakuan ilmiah dari luar tradisi Syiah tentang keaslian dan kekuatan sanad peristiwa tersebut

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1Bz3EA6WRb/

