Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
1. Pendahuluan dan Fadhilah (Keutamaan) Surah Al-Qadar
Kajian tafsir sederhana ini diawali dengan ucapan syukur dan selawat, serta harapan agar kajian tafsir ini dapat berlangsung secara rutin setiap Selasa malam.
Setelah sebelumnya membahas Surah Al-Fatihah, pembahasan kali ini berlanjut pada Surah Al-Qadr, sebuah surah pendek yang terdiri dari 5 ayat dan turun di kota Mekah (Makkiyah).
Meskipun pendek, terdapat banyak riwayat yang menjelaskan fadhilah atau keutamaan luar biasa dari membaca Surah Al-Qadar:
- Pahala Setara Puasa Ramadan dan Menghidupkan Malam Qadar:
Rasulullah SAW bersabda bahwa barangsiapa membaca Surah Al-Qadar, ia akan diberi pahala seperti orang yang berpuasa di bulan Ramadan dan menghidupkan malam Qadar. - Setara dengan Berjihad:
Imam Muhammad bin Ali al-Baqir AS menyatakan bahwa orang yang membaca surah ini dengan suara keras setara dengan orang yang menghunus pedangnya di jalan Allah (berjihad).
Sementara itu, orang yang membacanya secara lirih atau di dalam hati setara dengan orang yang berlumuran darah di jalan Allah (syahid). - Pengampunan Dosa saat Salat:
Riwayat menyebutkan jika seseorang membaca Surah Al-Qadar setelah Al-Fatihah di dalam salatnya, akan ada seruan yang menyatakan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya yang lalu, dan ia dapat memulai lembaran amal yang baru dan suci. - Ziarah Kubur:
Imam Ali ar-Ridha AS menyatakan bahwa jika seorang hamba berziarah ke makam seorang mukmin lalu membaca Surah Al-Qadar sebanyak tujuh kali, maka Allah akan mengampuni orang yang membacanya sekaligus penghuni kubur tersebut.
Penting untuk dicatat bahwa keutamaan dan pahala luar biasa ini akan didapatkan secara utuh apabila pembacanya tidak sekadar melafazkan di lisan, melainkan membacanya dengan tadabbur, pemaknaan, dan penghayatan mendalam atas ayat-ayat tersebut.
2. Tafsir Ayat 1: Konsep Penurunan Al-Quran dan Tawassul
Bismillahirrohmanirrohim. Inna anzalnahu fi lailatil Qadr. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam Qadar.”
Dalam ayat pertama ini, terdapat dua poin bahasa dan teologi yang sangat menarik untuk dibahas:
Penggunaan Kata “Inna” (Kami) dan Konsep Perantara (Tawassul)
Allah menggunakan kata ganti “Inna” (Kami/Jamak), bukan “Inni” (Aku/Tunggal).
Para mufasir menjelaskan bahwa penggunaan kata “Kami” menunjukkan adanya perantara (malaikat, khususnya Malaikat Jibril) yang Allah tugaskan untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada Nabi Muhammad SAW.
Hal ini memberikan pelajaran penting mengenai konsep Tawassul (berperantara).
Sebagian muslim menuduh syirik kepada mereka yang bertawasul. Namun, pada hakikatnya, Allah sendiri memberikan contoh bertawasul (menggunakan perantara) dalam menjalankan kehendak-Nya.
Ini bukan karena Allah tidak mampu bertindak sendiri—karena Allah tidak bergantung pada makhluk apa pun—melainkan karena itu sudah menjadi ketentuan dan kehendak-Nya.
Contoh-contoh Allah menggunakan perantara malaikat antara lain:
- Mencabut nyawa hamba-Nya (Malaikat Maut).
- Mengatur berbagai urusan dunia (Al-Mudabbirati Amra).
- Menjaga dan melindungi umat manusia (Hafidin).
- Menurunkan bantuan tentara malaikat dalam peperangan kaum muslimin.
- Memikul Arasy Allah.
- Membagikan rezeki.
Oleh karena itu, ketika seorang hamba bertawasul melalui para nabi, rasul, malaikat, atau wali-wali Allah, hal itu sama sekali bukan perilaku syirik.
Hamba tersebut sadar bahwa Allah mampu menolong langsung tanpa perantara, tetapi memilih bertawasul sebagaimana Allah pun menjalankan ketetapan-Nya melalui perantara.
Penggunaan Kata Ganti “Hu” (Nya)
Allah tidak menyebutkan kata “Al-Quran” secara eksplisit, melainkan menggunakan kata ganti objek “Hu” (artinya “nya”, merujuk pada Al-Quran).
Dalam kaidah bahasa, membuat sesuatu menjadi implisit (mubham) padahal maknanya sudah diketahui secara umum bertujuan untuk mengagungkan dan memuliakan (ta’dzim) kedudukan Al-Quran sebagai sesuatu yang sangat besar dan luar biasa.
3. Waktu Penurunan Al-Quran: Perbedaan “Inzal” dan “Tanzil”
Jika kita menggabungkan ayat Inna anzalnahu fi lailatil Qadr dengan ayat dalam Surah Al-Baqarah: Syahru Ramadhonalladzi unzila fihil Qur’an, kita dapat menyimpulkan secara pasti bahwa malam Qadar terjadi di bulan Ramadan.
Lebih lanjut, para mufasir membedakan dua istilah penurunan wahyu berdasarkan akar katanya:
- Inzal (Nuzul Daf’i):
Penurunan Al-Quran secara sekaligus, keseluruhan, dan langsung kepada Rasulullah SAW.
Proses penurunan jenis inilah yang terjadi pada malam Qadar, ditandai dengan penggunaan kata anzalna.
Sebagai bukti bahwa Rasulullah sebenarnya sudah mengetahui seluruh isi Al-Quran sejak awal, Allah pernah mengingatkan beliau dalam ayat lain agar tidak terburu-buru membacakan ayat sebelum ada perintah wahyu untuk menyampaikannya. - Tanzil (Nuzul Tadriji):
Penurunan Al-Quran secara berangsur-angsur sesuai dengan konteks peristiwa yang berlangsung selama 23 tahun masa risalah Rasulullah SAW.
4. Tafsir Ayat 2 & 3: Keagungan Malam Qadar
Wama adroka ma lailatil Qadr. Lailatul qodri khoirun min alfi syahr. “Tahukah engkau (wahai Muhammad) apakah malam Qadar itu? Malam Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.”
- Pertanyaan Retoris sebagai Pengagungan:
Pertanyaan “Wama adroka…” (Tahukah engkau…) ditujukan untuk menyampaikan betapa agung, mulia, dan luar biasanya malam Qadar tersebut.
Di malam inilah kitab terbaik (Al-Quran) diturunkan kepada makhluk terbaik (Nabi Muhammad SAW) pada malam yang paling utama sepanjang tahun. - Lebih Baik dari Seribu Bulan:
Ungkapan “seribu bulan” (setara dengan kurang lebih 80 tahun) digunakan untuk menunjukkan kuantitas yang sangat banyak, bukan dalam artian angka matematika yang kaku.
Malam Qadar nilainya bisa jadi lebih baik dari 2.000 bulan, 3.000 bulan, dan seterusnya.
5. Tafsir Ayat 4: Turunnya Malaikat dan Hakikat “Ar-Ruh”
Tanazzalul malaikatu war-ruhu fiiha bi-idhni rabbihim min kulli amr. “Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.”
Pada malam Qadar, para malaikat dan “Ruh” turun ke bumi dengan membawa izin Tuhan mereka untuk menuntaskan segala urusan manusia.
Mengenai makna “Ruh” (Ar-Ruh), para mufasir mengemukakan beberapa pendapat:
- Malaikat Jibril:
Penyebutan Jibril secara spesifik setelah kata “malaikat” adalah bentuk penghormatan khusus atas kemuliaan dan keagungan beliau. - Wahyu:
Bersandar pada ayat Al-Quran lain yang mengidentikkan ruh dengan wahyu (“wa kadzalika awhayna ilaika ruhan min amrina”). - Makhluk yang Lebih Agung dari Malaikat:
Merujuk pada riwayat Imam Ja’far as-Sodiq AS saat ditanya apakah Ruh itu adalah Jibril.
Beliau menjawab bahwa Jibril adalah bagian dari malaikat, sedangkan Ruh adalah makhluk lain yang tingkatannya jauh lebih agung daripada malaikat.
Arti “Min Kulli Amr” (Segala Urusan)
Maksud dari segala urusan di sini adalah penetapan takdir, ajal, rezeki, serta segala peristiwa yang akan dialami oleh umat manusia selama setahun ke depan.
Malam Qadar adalah malam tutup buku amalan setahun lalu sekaligus membuka buku amalan baru untuk setahun ke depan.
Karena Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Dia menjadikan malam ini sebagai malam bonus.
Ketika seorang hamba menghidupkan malam ini dengan ibadah dan kebaikan, ia berkesempatan mendapatkan ampunan atas dosa-dosa setahun lalu, memperoleh berkah, serta meraih pahala yang setara dengan ibadah lebih dari seribu bulan dalam satu malam saja.
6. Tafsir Ayat 5: Malam Keselamatan dan Kapan Terjadinya?
Salamun hiya hatta mathla’il Fajr. “Kesejahteraan (malam itu) sampai terbit fajar.”
Malam Qadar sepenuhnya berisi keselamatan dan kesejahteraan bagi hamba-hamba yang mampu memanfaatkannya dengan baik.
Keberkahan dan keselamatan ini berlangsung terus-menerus sejak malam dimulai hingga terbitnya fajar.
Di Malam Keberapa Malam Qadar Terjadi?
Secara pasti, malam Qadar berada di bulan Ramadan. Namun, mengenai malam spesifiknya, terdapat beberapa perbedaan pendapat di kalangan ulama dan riwayat:
- Ada yang berpendapat malam ke-1, ke-17, ke-19, ke-21, ke-23, ke-27, atau ke-29 Ramadan.
- Pandangan Ahlussunnah:
Secara umum lebih fokus mencari malam Qadar pada malam ke-27 Ramadan. - Pandangan Ahlul Bait:
Menekankan pada 10 hari terakhir Ramadan, khususnya pada malam ke-21 dan ke-23. Di antara keduanya, malam ke-23 diyakini sebagai malam puncaknya. - Rangkaian Malam Qadar:
Imam Ja’far as-Sodiq AS menjelaskan rangkaian penetapan takdir tersebut: penentuannya (takdir) dimulai pada malam ke-19, pemantapannya (ibram) pada malam ke-21, dan pengesahan akhirnya (imdha) terjadi pada malam ke-23.
Hikmah Disamarkannya Malam Qadar
Mengapa Allah menyamarkan malam Qadar dan tidak menunjukkannya secara gamblang?
Di antara hikmahnya adalah:
- Agar hamba giat beribadah:
Jika malam Qadar diketahui secara pasti, manusia cenderung hanya beribadah pada satu malam itu saja dan mengabaikan malam-malam lainnya.
Dengan disamarkan, manusia akan menghidupkan banyak malam untuk beribadah demi meraihnya. - Sama halnya dengan Allah menyamarkan rida dan murka-Nya, menyamarkan doa mana yang langsung dikabulkan agar hamba-Nya tidak berhenti berdoa, serta menyamarkan waktu kematian (ajal) agar manusia senantiasa berbuat baik setiap hari karena tidak tahu kapan ajalnya tiba.
7. Malam Qadar Setiap Tahun dan Bukti Kepemimpinan (Imamah)
Malam Qadar bukanlah peristiwa sejarah sekali pakai yang hanya terjadi 1.400 tahun lalu saat Al-Quran pertama kali turun.
Penggunaan kata kerja berbentuk fi’il mudhari (tanazzalu) mengindikasikan bahwa peristiwa turunnya malaikat dan Ruh ini terus berulang dan terjadi pada setiap tahun.
Malam Qadar juga merupakan anugerah khusus yang hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW.
Bagi pengikut mazhab Ahlul Bait, keberadaan malam Qadar yang terus berulang setiap tahun ini menjadi bukti logis atas konsep Imamah (wilayah kepemimpinan spiritual pasca-Nabi):
- Pada masa hidup Rasulullah SAW, para malaikat dan Ruh turun menemui beliau untuk melaporkan urusan-urusan tersebut.
- Namun, setelah Rasulullah SAW wafat, kepada siapakah para malaikat itu turun setiap tahunnya?
Pasti harus ada sosok suci di bumi yang menjadi “tuan rumah” atau penerima laporan para malaikat tersebut.
Pengikut Ahlul Bait meyakini bahwa setelah wafatnya Nabi, para malaikat turun kepada Imam Ali AS, kemudian Imam Hasan AS, Imam Husain AS, dan seterusnya hingga di zaman sekarang ini, yaitu kepada Imam Al-Mahdi (ajallahu taala farajahus syarif).
Hal ini diperkuat oleh tafsir atas Surah At-Taubah ayat 105:
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu…”
Menurut keyakinan Ahlul Bait, yang dimaksud dengan “orang-orang mukmin” yang menyaksikan dan memeriksa amal manusia bersama Allah dan Rasul-Nya dalam ayat tersebut adalah para Imam Suci dari keluarga Nabi (Ahlul Bait).
Di zaman sekarang, seluruh amal perbuatan kita dilaporkan dan diperiksa oleh para malaikat kepada Imam Al-Mahdi pada setiap malam Qadar, sebelum kita semua nantinya dikembalikan secara langsung kepada Allah SWT di akhirat.

Bersama: Ustadz Abdillah Baabud
Judul video: Tafsir Surah Al-Qadar I Ustadz Abdillah Baabud – ALQURBA TV – Watch on Youtube


