15 October 2026

Ada nama yang terus hidup—bahkan dihidupkan—bukan karena kekuatan faktanya, melainkan karena kegunaannya.
Ada nama yang, meski tak memiliki nilai historis yang kokoh, tetap berdengung seperti lalat: mengganggu, berisik, dan sulit diusir. Abdullah bin Saba adalah salah satunya.

Nama ini hampir selalu muncul setiap kali sejarah Islam dibicarakan—terutama ketika pembahasan menyentuh konflik, perpecahan, ketegangan politik generasi awal, atau diskursus tentang mazhab.
Seolah-olah tanpa menyebut satu nama ini, seluruh diskursus terasa belum selesai. Seakan-akan cukup menyebutnya, maka semua persoalan menemukan jawabannya.

Pertanyaannya sederhana, tetapi justru karena itu mengganggu: mengapa nama ini begitu kuat, padahal fondasi ceritanya begitu rapuh?

Nama yang Dipanggil untuk Menghentikan Pertanyaan

Nama Abdullah bin Saba sering kali tidak dipakai untuk menjelaskan sejarah, melainkan untuk menghentikan pertanyaan. Begitu ia disebut, diskusi pun berakhir.
Bukan lagi soal kebijakan, bukan lagi soal keadilan sosial, bukan lagi soal konflik kepentingan di antara elite. Semuanya disederhanakan menjadi satu kalimat pendek yang mematikan akal: Syiah bikinan Si Bin Saba.

Ini bukan sekadar soal benar atau salah. Ini soal fungsi.

Dalam banyak peradaban, ketika sebuah komunitas kesulitan menerima bahwa konflik lahir dari dalam dirinya sendiri, mereka menciptakan satu tokoh luar untuk menampung seluruh kesalahan.
Dengan begitu, sejarah terasa lebih ringan. Tidak perlu belajar. Tidak perlu menjelaskan. Palu vonis sudah diketuk.

Kebodohan yang Membutakan

Bukan karena Tidak Ada Akal, tetapi Tidak Mau Menggunakannya

Di sinilah relevan makna kebodohan yang sering disalahpahami. Kebodohan bukan sekadar ketiadaan pengetahuan. Ia adalah kondisi ketika akal berhenti bekerja karena merasa sudah cukup tahu.

Cerita tentang Abdullah bin Saba—benar atau palsu—hidup subur di tanah semacam ini. Ia diajarkan, diulang, diwariskan, lalu berubah menjadi apa yang disebut “kebenaran sosial”.
Bukan karena ia kuat, tetapi karena ia jarang disentuh oleh keberanian untuk memeriksa ulang.

Memang, cerita yang lemah bisa menjadi sangat kuat jika terus diulang, tidak pernah diuji, dan dipakai semata-mata untuk membenarkan posisi yang sudah dipilih sejak awal.

Inilah kebodohan yang merusak: kebodohan yang tidak goyah oleh data, karena ia hidup dari kebiasaan untuk tidak berpikir.

Kenyamanan Moral yang Ditawarkan Sebuah Nama

Nama Abdullah bin Saba menawarkan satu hal yang sangat berharga bagi sebagian orang: kenyamanan moral. Dengan menyalahkannya, sejarah Islam awal dapat tetap dipandang bersih dari konflik kepentingan dan kesalahan manusiawi.
Para tokoh besar tidak perlu dipertanyakan. Ketegangan sosial tidak perlu dianalisis. Semua cukup dijelaskan dengan satu figur bayangan.

Di sinilah letak daya tahannya.

Nama ini terus beredar bukan karena ia menjawab masalah, melainkan karena ia menghindarkan kita dari pertanyaan yang jauh lebih sulit—dan jauh lebih jujur.

Ketika Kritik Diubah Menjadi Konspirasi

Salah satu dampak paling serius dari keberedaran nama ini adalah cara ia digunakan untuk meniadakan kritik.
Kritik terhadap ketimpangan ekonomi, penumpukan kekayaan, atau penyimpangan kekuasaan sering kali tidak dijawab dengan argumen, melainkan dengan stempel: ini pengaruh Abdullah bin Saba.

Dengan satu label, kritik berubah menjadi ancaman. Nurani berubah menjadi hasutan. Dan keadilan berubah menjadi konspirasi.

Ini bukan sekadar masalah sejarah. Ini adalah pola berpikir yang terus hidup—dulu dan sekarang.

Bukan Soal Tokohnya, tapi Polanya

Yang paling penting untuk dipahami: bahaya kisah Abdullah bin Saba tidak terletak pada apakah ia nyata atau palsu. Bahayanya terletak pada pola berpikir yang ia ciptakan dan pelihara.

Pola itu mengajarkan:

  • selalu mencari musuh luar,
  • menolak sebab-sebab struktural,
  • dan menghindari tanggung jawab kolektif.

Selama pola ini dipertahankan, nama apa pun bisa diproduksi ulang. Hari ini Abdullah bin Saba, besok nama lain. Tokohnya bisa berganti, tetapi kebodohannya tetap sama.

Mengapa Ia Masih Beredar?

Karena masih dibutuhkan.

Ia dibutuhkan untuk menyederhanakan sejarah, menjaga mitos kesucian masa lalu, dan menghindari refleksi yang jujur.
Selama sejarah diperlakukan sebagai alat pembelaan identitas—bukan sebagai cermin—maka nama seperti Abdullah bin Saba akan terus hidup. Bukan di arsip ilmiah, melainkan di percakapan sehari-hari.

Melepaskan Nama, Menyelamatkan Akal

Mengkritisi keberedaran nama Abdullah bin Saba bukan upaya merusak iman. Ini justru usaha menyelamatkan akal. Sejarah tidak menjadi mulia karena disucikan, tetapi karena dipahami dengan jujur.

Mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi: siapa Abdullah bin Saba?

Melainkan: mengapa sebagian orang masih membutuhkannya?

Selama kebodohan dilindungi oleh kenyamanan,

selama akal dikalahkan oleh kebiasaan,

dan selama sejarah dipakai untuk membenarkan, bukan memahami—

maka nama itu akan terus beredar.

Bukan karena ia nyata, melainkan karena kebodohan yang menopangnya begitu kokoh.

Kenapa nama

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1Fhs6jLBgK/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us