BAGIAN IV – SAQIFAH
Mengapa Tidak Seorang Pun Berkata, “Rasulullah Sudah Menunjuk Abu Bakar”?
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Maka apakah jika ia wafat atau terbunuh kamu akan berbalik ke belakang?”
(QS. Ali ’Imran: 144)
Ada satu kaidah sederhana dalam ilmu sejarah.
Semakin besar sebuah peristiwa, semakin besar pula jejak yang ditinggalkannya.
Kalau benar Rasulullah SAW telah menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah melalui peristiwa imam shalat, maka jejak itu seharusnya tampak paling jelas pada hari wafat beliau.
Namun justru di sinilah muncul sebuah paradoks sejarah.
Ketika Rasulullah SAW wafat, yang terjadi bukanlah baiat yang tenang atas dasar penunjukan Nabi.
Yang terjadi justru perdebatan panjang di Saqifah Bani Sa’idah.
Mengapa?
Jika Sudah Ada Penunjukan, Untuk Apa Saqifah?
Mari kita berpikir sederhana.
Bayangkan seseorang berkata:
“Ayah kami sebelum wafat sudah menunjuk kakak tertua menjadi pengganti.”
Apakah keluarga itu masih perlu rapat berjam-jam untuk menentukan siapa yang menjadi penerus?
Tentu tidak.
Karena penunjukan telah mengakhiri perdebatan.
Tetapi Saqifah justru lahir karena persoalan kepemimpinan masih diperdebatkan.
Kaum Anshar mengajukan Sa’ad bin Ubadah.
Kaum Muhajirin mengemukakan argumentasi bahwa pemimpin harus berasal dari Quraisy.
Terjadi dialog.
Terjadi perdebatan.
Terjadi proses baiat.
Semua itu adalah fakta sejarah.
Dan fakta-fakta itu justru menunjukkan bahwa legitimasi yang dipakai di Saqifah adalah musyawarah dan argumentasi politik, bukan pembacaan sebuah nash yang telah menyelesaikan persoalan.
Argumen Apa yang Dipakai Abu Bakar?
Ini pertanyaan yang sangat penting.
Dalam berbagai riwayat Saqifah, Abu Bakar mengemukakan keutamaan kaum Muhajirin dan kedudukan Quraisy di tengah bangsa Arab.
Umar juga memberikan dukungan politik yang kuat.
Namun, di mana argumentasi berikut ini?
“Wahai kaum Muslimin, Rasulullah telah menunjukku melalui imam shalat. Tidak ada lagi ruang untuk perdebatan.”
Kalimat itu tidak menjadi penutup diskusi.
Padahal jika benar penunjukan tersebut dipahami sebagai nash yang tegas, itulah dalil paling kuat yang seharusnya dikemukakan.
Mengapa justru tidak menjadi poros perdebatan?
Pertanyaan ini patut direnungkan.
Di Mana Ali bin Abi Thalib a.s.?
Sementara Saqifah berlangsung, Ali bin Abi Thalib a.s. tidak sedang berdebat tentang kekuasaan.
Beliau berada di sisi jenazah Rasulullah SAW.
Bersama Bani Hasyim dan sejumlah sahabat, beliau mengurus pemakaman manusia paling agung yang pernah menginjak bumi.
Ironisnya, ketika sebagian orang sedang memilih pemimpin baru, keluarga Nabi justru sedang menunaikan kewajiban terakhir kepada Rasulullah SAW.
Sejarah mencatat dua pemandangan yang berlangsung hampir bersamaan.
Di satu tempat, ada jenazah Nabi yang belum dimakamkan.
Di tempat lain, berlangsung pembicaraan tentang siapa yang akan memimpin setelah beliau.
Sejarah tidak memerintahkan kita membenci siapa pun.
Tetapi sejarah juga tidak boleh disederhanakan hingga kehilangan kenyataan yang terjadi.
Mengapa Ghadir Tidak Menjadi Rujukan?
Inilah pertanyaan berikutnya.
Kalau peristiwa imam shalat dijadikan dasar kekhalifahan, mengapa peristiwa Ghadir Khum yang dihadiri ribuan sahabat justru tidak dijadikan rujukan utama?
Di Ghadir, Rasulullah SAW berhenti di tengah perjalanan.
Beliau mengumpulkan kaum Muslimin.
Beliau berkhutbah.
Beliau mengangkat tangan Ali a.s.
Beliau bersabda:
مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ
“Barang siapa menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya.”
Sesudah itu beliau berdoa:
اللهم والِ من والاه، وعادِ من عاداه…
“Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, dan musuhilah orang yang memusuhinya…”
Peristiwa sebesar ini tercatat dalam banyak kitab hadis dan sejarah Islam.
Maka pertanyaannya sederhana.
Mengapa sebuah khutbah besar di hadapan ribuan sahabat dianggap tidak cukup berbicara tentang kepemimpinan, sementara sebuah peristiwa imam shalat yang tidak pernah disertai pernyataan eksplisit justru dijadikan dalil utama?
Bukankah secara metodologi, nash yang lebih jelas semestinya didahulukan daripada peristiwa yang masih memerlukan penafsiran?
Al-Qur’an Mengajarkan Amanah, Bukan Spekulasi
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
**(QS. an-Nisa’: 58)
Ayat ini mengajarkan sebuah prinsip.
Amanah tidak boleh dibangun di atas dugaan.
Apalagi amanah terbesar setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Kalau Allah menjelaskan kiblat dengan jelas.
Allah menjelaskan warisan dengan rinci.
Allah menjelaskan hukum-hukum keluarga dengan terperinci.
Apakah masuk akal bahwa kepemimpinan umat—yang akan menentukan arah sejarah Islam—justru dibiarkan bergantung pada penafsiran sebuah peristiwa shalat?
Ataukah justru kita harus mencari penjelasannya pada nash-nash Rasulullah SAW yang lebih eksplisit, seperti Ghadir Khum, Hadis Tsaqalain, Hadis Manzilah, dan hadis-hadis lainnya?
Saqifah Mengajarkan Satu Hal
Saqifah bukan sekadar sebuah peristiwa politik.
Ia adalah cermin bagaimana sebuah umat menghadapi kekosongan kepemimpinan.
Dan justru karena itu, Saqifah juga mengajarkan satu pelajaran penting.
Kalau penunjukan Abu Bakar melalui imam shalat memang sudah dipahami sebagai nash yang pasti, maka Saqifah sesungguhnya tidak pernah diperlukan.
Keberadaan Saqifah sendiri menjadi bukti bahwa persoalan kepemimpinan masih diperdebatkan.
Karena itu, lebih jujur bila dikatakan bahwa kekhalifahan Abu Bakar lahir melalui proses baiat di Saqifah menurut perspektif sejarah Sunni, bukan karena adanya satu sabda Rasulullah SAW yang secara eksplisit berbunyi:
“Abu Bakar adalah khalifahku setelah aku.”
Kalimat itu tidak pernah ditemukan dalam hadis sahih.
Sebaliknya, yang kita temukan adalah sejarah yang kompleks, penuh dialog, perbedaan pandangan, dan berbagai penafsiran.
Maka, apabila kita benar-benar ingin mengikuti Al-Qur’an, kita harus memiliki keberanian untuk membaca sejarah sebagaimana adanya.
Bukan sebagaimana kita ingin sejarah itu terjadi.
Sebab kebenaran tidak membutuhkan penyederhanaan.
Ia hanya membutuhkan kejujuran.
(Bersambung)

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19uKcFLmEY/


