18 October 2026

Pembukaan & Pembacaan Ayat

Pengajian dilanjutkan dengan membacakan teks ayat ke-15 hingga ke-17 dari Surah Hud:

Surah Hud Ayat 15:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ

“Barang siapa menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami sempurnakan balasan amalan mereka di dunia dan mereka tidak akan dirugikan.”

Surah Hud Ayat 16:

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka, dan gugurlah apa yang telah mereka usahakan di dunia serta batillah apa yang telah mereka kerjakan.”

Surah Hud Ayat 17:

اَفَمَنْ كَانَ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّهٖ وَيَتْلُوْهُ شَاهِدٌ مِّنْهُ وَمِنْ قَبْلِهٖ كِتٰبُ مُوْسٰٓى اِمَامًا وَّرَحْمَةً ۗ اُولٰۤىِٕكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ…

“Apakah sama orang yang mempunyai bukti yang nyata (Al-Qur’an) dari Tuhannya dan diikuti oleh saksi dari-Nya, serta sebelum itu ada Kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat? Mereka itu beriman kepadanya…”

1. Tafsir Surah Hud Ayat 15: Hakikat Pemburu Kehidupan Dunia

  • Hakekat Kehidupan Dunia dan Perhiasannya (Zīnah):
    Kehidupan dunia adalah rentang waktu sejak seseorang lahir hingga meninggal dunia.
    Durasi ini sangat singkat—ada yang meninggal saat bayi, anak-anak, usia muda, hingga mencapai 100 tahun lebih, tetapi semuanya pasti berujung pada kematian.
    Di dalam dunia terdapat banyak kenikmatan dan perhiasan (zīnah), seperti pemandangan indah, aneka makanan lezat, istana kemegahan, hingga kendaraan mewah.
  • Keadilan Allah terhadap Usaha Manusia:
    Melalui frasa nuwaffi ilaihim a‘mālahum fīhā wa hum fīhā lā yubkhaṣūn, Allah menegaskan keadilan-Nya.
    Siapa pun (tanpa memandang ia beriman atau kafir, muslim atau non-muslim, baik atau jahat) yang bekerja keras dan berfokus untuk tujuan duniawi, Allah akan memberikan hasil usahanya di dunia tanpa dikurangi sedikit pun.
  • Dua Tipe Pencari Dunia:
    1. Hanya Berangan-angan (Yurīd tanpa kerja): Hasil yang diperoleh sangat sedikit dan terbatas.
    2. Bekerja Keras Sungguh-sungguh: Berpeluang besar meraih kelimpahan harta, kekuasaan, atau popularitas duniawi (seperti penemu teknologi komputer/ponsel pintar yang meraih kekayaan triliunan).
  • Perbedaan Prinsipil Orang Beriman dan Tidak Beriman:
    • Orang Tidak Beriman / Pemburu Dunia:
      Hanya melihat sisi lahiriah dunia (ya‘lamūna ẓāhiram minal-ḥayātid-dun-yā) dan lalai akan akhirat.
      Hasil kerja mereka tuntas di dunia. Mereka tidak berhak menuntut apa pun di akhirat karena dari awal memang tidak beriman dan tidak pernah mengincarnya.
    • Orang Beriman:
      Seluruh ucapan dan tindakannya dilakukan demi meraih keridaan Allah SWT dan menghindari murka-Nya.
  • Kerugian Terbesar:
    Orang paling rugi adalah orang yang hidupnya miskin/fakir di dunia, namun juga tidak beriman pada kehidupan akhirat; sehingga ia sengsara di dunia sekaligus tidak memperoleh apa-apa di akhirat. Indikator utama seseorang menolak kebenaran Ilahi adalah ketika fokus hidupnya melulu pada keinginan duniawi (irādatud-dun-yā).

2. Tafsir Surah Hud Ayat 16: Terhapusnya Amal dan Ancaman Neraka

  • Gugurnya Pahala Amal (Ḥabiṭa & Bāṭil):
    Orang-orang yang hanya mengincar dunia akan mendapati seluruh amal perbuatannya terhapus (ḥabiṭa) dan tidak bernilai (bāṭil) di akhirat. Tempat kembali mereka di akhirat hanyalah neraka (laisa lahum fil-ākhirati illan-nār).
  • Peringatan Penting Bagi Orang Beriman (Pentingnya Niat Qurbatan ilallāh):
    Orang beriman harus sangat waspada menjaga niat. Apabila sebuah amal kebaikan (termasuk ceramah/dakwah) dilakukan bukan karena Allah, melainkan demi uang, popularitas, pujian, atau riyā’, maka amalnya akan hangus dan tidak bernilai di akhirat.
    • Analogi Salah Transfer:
      Amal tanpa niat Ilahi ibarat seseorang yang bekerja keras tetapi memasukkan nomor rekening yang salah; hasil usahanya tidak pernah masuk ke rekening pahalanya.
    • Analogi Peperangan (Jihād fī Sabīlil-Ghanīmah):
      Di zaman Rasulullah SAW, ada orang yang ikut berperang dan gugur, tetapi Nabi tidak memuliakannya karena tujuannya berperang adalah demi harta rampasan (ghanīmah), kuda (ḥiṣān), atau keledai (ḥimār), bukan karena Allah.
  • Pemberian Balasan di Dunia:
    • Kadang hukuman disegerakan di dunia (seperti kisah seorang yang bermaksiat mata lalu tertimpa dinding di perjalanan) agar ia terhindar dari azab akhirat.
    • Sebaliknya, orang kafir yang berbuat baik diberikan seluruh balasan baiknya di dunia agar di akhirat tidak ada lagi hak yang bisa mereka tuntut dari Allah.
  • Pekikan Refleksi Imam Ali bin Abi Thalib a.s.:
    Ketika membaca ayat ke-16 ini, Imam Ali a.s. bertakbir (Allāhu Akbar) dan mengingatkan: “Bagaimana seseorang berani menempatkan dirinya untuk menerima hukuman neraka? Apakah mereka sanggup menahan azab Allah?”
    Padahal sepercik api neraka jika mengenai permukaan bumi akan menghanguskan seluruh tumbuhan di bumi.

3. Tafsir Surah Hud Ayat 17: Saksi Kenabian dan Hakikat Kebenaran

  • Makna Bayyinah dan Syāhidun Minhu:
    • Bukti Nyata (Bayyinah):
      Merujuk pada kebenaran Rasulullah SAW dan Al-Qur’an.
    • Saksi dari Diri Rasul (Wa yatlūhu shāhidum minhu):
      Berdasarkan riwayat suci Ahlul Bait a.s. maupun literatur Ahlussunnah (seperti sabda Nabi “Ali dariku dan aku dari Ali”), saksi yang menyertai dan menguatkan risalah Rasulullah adalah Imam Ali bin Abi Thalib a.s..
    • Kitab Sebelum Al-Qur’an:
      Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. berfungsi sebagai petunjuk (imām) dan rahmat, yang saling mengukuhkan dengan Al-Qur’an.
  • Penjelasan Surah Ar-Ra’d Ayat 43 (Waman ‘indahū ‘ilmul-kitāb):
    Ketika kaum kafir menolak dan mendustakan kenabian Rasulullah SAW, Allah memerintahkan Nabi untuk menjawab bahwa cukuplah Allah dan orang yang memiliki seluruh ilmu Kitab (waman ‘indahū ‘ilmul-kitāb) sebagai saksi kerasulannya.
    Sosok pemegang seluruh ilmu Kitab tersebut adalah Imam Ali bin Abi Thalib a.s..
  • Perbandingan Ilmu Kitab (Kisah Nabi Sulaiman a.s.):
    • Seseorang pada zaman Nabi Sulaiman (Asaf bin Barkhiya) yang memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam sekejap kedipan mata hanya memiliki sebagian ilmu Kitab (‘ilmum minal-kitāb).
    • Menurut penjelasan Imam Ja’far As-Sadiq a.s., “sebagian ilmu Kitab” tersebut ibarat satu tetes air dibanding luasnya lautan.
    • Jika satu tetes ilmu mampu menundukkan jin Ifrit dan memindahkan singgasana sekejap mata, betapa agungnya saksi kenabian Rasulullah yang memegang seluruh lautan ilmu Kitab (‘ilmul-kitāb).
  • Pelajaran Dakwah dan Ukuran Kebenaran:
    1. Keagungan Al-Qur’an: Al-Qur’an tidak bisa ditambahi (tantangan membuat satu baris serupa tidak pernah bisa dijawab selama 13+ abad) dan tidak bisa dikurangi (karena dijaga oleh puluhan juta penghafal Al-Qur’an).
    2. Mayoritas Bukan Ukuran Kebenaran (Walākinna aktharan-nāsi lā yu’minūn): Al-Qur’an menegaskan bahwa kebanyakan manusia tidak beriman. Jangan pernah berkecil hati atau terintimidasi hanya karena jumlah pengikut kebenaran itu sedikit.
    3. Tolak Ukur Kebenaran: Kebenaran tidak diukur berdasarkan suku, ras, wilayah, atau banyaknya kelompok (al-aḥzāb), melainkan berdasarkan kesesuaian pada petunjuk Ilahi. Pengingkaran kaum mayoritas tidak sedikit pun merugikan Allah maupun Rasul-Nya, melainkan hanya merugikan diri mereka sendiri.

AB Tafsir Surah Hud Ayat 15

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

—

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us