15 October 2026

1. Pembukaan dan Tujuan Kajian

Bismillahir Rahmanir Rahim. Ya Hayyu ya Qayyum birohmatika astaghits, wa la takilna ila anfusina tharfata ‘ainin abada. Alhamdulillahirabbil ‘alamin, bari’il khala’iq ajma’in, wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil khalqi warasulih, habibihi wanajibih, Abil Qasim Al-Mustafa Muhammad (Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad), wa ‘ala alihit-thayyibin al-ma’shumin.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pada kesempatan ini, pembahasan akan berfokus pada tafsir Al-Qur’an secara sederhana, khususnya mengenai surat-surat pendek yang berkaitan dengan shalat fardhu atau yang sering dibaca dalam shalat wajib sehari-hari agar kita lebih mampu memaknai kandungan dan maknanya.
Kajian ini diawali dengan mengulas tafsir Surat Al-Fatihah secara ringkas dan sederhana. Namun, sebelum melangkah langsung ke penafsiran ayat, sebuah mukaddimah perlu diuraikan di awal agar terbangun cara pandang dan pemahaman yang benar mengenai hakikat tafsir itu sendiri.

2. Perbedaan Antara Islam Ashil dan Islam Tafsir

Islam pada dasarnya dapat dipetakan ke dalam dua bagian, yaitu Islam Ashil dan Islam Tafsir.

  • Islam Ashil adalah Islam yang murni Ilahi, disertai dengan keterangan dan penjelasan langsung dari wakil resmi Tuhan. Keterangan dalam Islam Ashil bersifat pasti dan penjelasannya merupakan kebenaran murni.
  • Islam Tafsir adalah upaya penjelasan ayat-ayat oleh para ulama yang secara resmi bukan merupakan perwakilan yang ditunjuk langsung oleh Allah SWT.

Penjelasan para ulama dari mazhab apa pun pada hakikatnya berstatus sebagai interpretasi manusiawi yang bergantung pada sejauh mana batas kemampuan akal dan ilmu mereka dalam mencerna ayat-ayat Allah SWT.
Oleh karena itu, penafsiran yang disampaikan oleh pembicara pun tidak akan pernah mampu menggambarkan hakikat makna Al-Qur’an yang sesungguhnya.
Dalam keyakinan pengikut mazhab Ahlul Bait, hanya manusia-manusia pilihan tertentulah yang sanggup menerangkan ayat-ayat Allah tepat sesuai dengan maksud Tuhan.

Bahkan, ulama besar pengikut Ahlul Bait sekalipun tetap berada dalam ranah Islam Tafsir.
Meskipun mereka telah berikhtiar mengumpulkan berbagai riwayat dari Rasulullah SAW dan Ahlul Bait AS, hasil tafsir mereka tetaplah interpretasi yang tidak memiliki kepastian kebenaran mutlak dan tidak akan sampai pada hakikat terdalam Al-Qur’an.

Tafsir pada hakikatnya adalah ikhtiar untuk menduga apa kiranya maksud dari firman Allah SWT.
Bukti nyata bahwa keterangan para ulama tidak setara dengan sabda Rasulullah SAW maupun keluarga suci beliau adalah adanya perbedaan pendapat di antara para ulama tafsir saat memaknai ayat yang sama.
Perbedaan ini membuktikan bahwa para ulama tidak mengetahui secara persis maksud hakiki dari Allah SWT.
Baik ulama dari kalangan mazhab Ahlul Bait maupun Ahlussunnah bersikap jujur atas keterbatasan ini, di mana di akhir setiap penafsiran mereka selalu menyematkan kalimat Wallahu a’lam bish-shawab (hanya Allah yang mengetahui kebenarannya).

3. Mandat Penjelasan Al-Qur’an dan Empat Pilar Suci

Berbeda dengan para ulama, Rasulullah SAW memegang mandat resmi langsung dari Allah SWT untuk menjelaskan Al-Qur’an. Mandat ini ditegaskan dalam firman-Nya:

Wa anzalna ilaikadz-dzikra litubayyina lin-nasi ma nuzzila ilaihim (“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar engkau menjelaskan kepada umat manusia apa yang diturunkan kepada mereka”).

Karena mandat khusus ini, Allah membekali Rasulullah SAW dengan kapasitas ilmu yang mumpuni untuk menerangkan ayat-ayat-Nya secara presisi.
Dengan menyadari hal ini, kita tidak akan merasa kaget atau resah apabila menemukan silang pendapat di antara para ulama dalam kajian tafsir.

Dalam pandangan pengikut Ahlul Bait, bangunan Islam bertumpu pada empat pilar suci:

  1. Allah SWT yang Maha Suci.
  2. Kitabullah (Al-Qur’an) yang suci.
  3. Ar-Rasul SAW yang disucikan.
  4. Ahlul Bait AS yang disucikan untuk mengawal kemurnian dan kelangsungan ajaran Islam hingga akhir zaman.

Kesucian Ahlul Bait ditegaskan langsung dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:

Innama yuridullahu liyudz-hiba ‘ankumur-rijsa ahlal baiti wa yuthahhirakum tath-hira.

Ayat ini menegaskan bahwa Ahlul Bait berkedudukan sebagai al-muthahharun (sosok-sosok yang telah disucikan oleh Allah).
Hal ini bertaut erat dengan ayat lain: La yamassuhu illal-muthahharun (“Tidak menyentuhnya melainkan mereka yang disucikan”), yang bermakna bahwa Al-Qur’an tidak mungkin dijelaskan sebagaimana mestinya kecuali oleh pribadi-pribadi yang telah Allah sucikan.

4. Sifat dan Kedalaman Al-Qur’an Menurut Nahjul Balaghah

Di dalam kitab Nahjul Balaghah yang memuat himpunan khotbah, surat, serta mutiara kalimat dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib AS, beliau menguraikan sifat-sifat Al-Qur’an dengan menukil firman Allah: Ma farrathna fil kitabi min syai’ (“Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Al-Kitab”).

Segala persoalan pada hakikatnya telah termaktub dan dijelaskan di dalam Al-Qur’an tanpa ada yang terlewat.
Namun, pemahaman bahwa segala sesuatu ada di dalam Al-Qur’an menuntut kapasitas ilmu yang luar biasa luas.
Ulama biasa dengan keterbatasan ilmunya tidak akan mampu menguraikan makna cakupan tersebut secara menyeluruh.
Keterangan lain menyebutkan wa fihi tibyanun likulli syai’ (di dalamnya terdapat penjelasan bagi segala hal), yang meniscayakan sosok penafsir yang memiliki ilmu serba meliputi.

Imam Ali AS juga menjelaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an memiliki sifat yushaddiqu ba’dhuhu ba’dha (sebagian ayat membenarkan sebagian yang lain).
Makna Al-Qur’an adalah satu kesatuan kebenaran yang tidak mungkin saling bertentangan atau berlawanan. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

Walau kana min ‘indi ghairillahi lawajadu fihi-khtilafan katsira (“Sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka mendapati banyak pertentangan di dalamnya”).

Dari penegasan ayat ini, ketika para ulama tafsir berbeda pendapat, tidak mungkin seluruh pendapat yang bertentangan itu benar secara bersamaan, karena hal tersebut mengisyaratkan seolah-olah terjadi pertentangan di dalam Al-Qur’an.

Lebih lanjut, Imam Ali AS melukiskan dimensi keagungan Al-Qur’an:

  • Zhahiruhu aniq: Tampilan lahiriah Al-Qur’an, rangkaian kata, lafaz, serta susunan sastranya sangat memukau dan membuat para ahli bahasa terpesona.
  • Bathinuhu ‘amiq: Dimensi batin atau kandungan isi Al-Qur’an teramat dalam.
  • La tafna ‘aja’ibuh: Keajaiban-keajaiban maknanya tidak akan pernah sirna ditelan masa.
  • Wa la tanqadhi ghara’ibuh: Segala keunikannya tidak akan pernah berkesudahan.
  • Wa la tuksyafu azh-zhulumatu illa bih: Tidak ada satu pun kegelapan atau ketidaktahuan melainkan hanya dapat disingkap dan dipahami lewat Al-Qur’an.

Yang sanggup memahami kedalaman seperti ini secara sempurna hanyalah pribadi suci seperti Rasulullah SAW dan Ahlul Bait, sebab mereka bukan sekadar membersihkan diri, melainkan disucikan langsung oleh Allah SWT (yuthahhirakum) sehingga tidak mungkin khilaf atau keliru dalam menerangkan firman-Nya.
Adapun manusia di luar itu dapat berusaha memahaminya, tetapi tanpa jaminan kebenaran mutlak.

5. Ilustrasi Kedalaman Samudera dan Penutup

Mukaddimah ini disampaikan agar para pendengar tidak salah paham dan tidak gusar ketika menyaksikan keragaman pendapat.
Sangatlah wajar apabila manusia biasa yang serba terbatas tidak sanggup menjabarkan kitab yang maknanya tidak berbatas.

Hakikat Al-Qur’an dapat diilustrasikan seperti lapisan kedalaman laut:

  • Permukaan air adalah laut.
  • Kedalaman 10 meter pertama juga merupakan laut.
  • Pada kedalaman 10 meter berikutnya, ekosistem dan makhluk hidup di dalamnya mulai berbeda, namun ia tetaplah laut.
  • Ketika menyelam hingga kedalaman 1.000 meter, tempat itu tetap laut, meskipun suasana, tekanan, dan makhluk yang mampu bertahan di sana sangat jauh berbeda dengan yang berada di kedalaman 10 atau 20 meter.

Demikian pula halnya dengan Al-Qur’an; maknanya berlapis-lapis. Hanya saja, samudera memiliki batas dasar, sedangkan Al-Qur’an adalah samudera ilmu yang tidak berdasar, sejalan dengan ungkapan Imam Ali AS: la tafna ‘aja’ibuhu wa la tanqadhi ghara’ibuh.

Semoga mukaddimah ini dapat mengantarkan kita pada cara bersikap yang bijak, proporsional, dan benar dalam mengarungi kajian tafsir Al-Qur’an.

AB Mukaddimah Tafsir Al Qur an1

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us