11 October 2026

Di kalangan kaum Muslimin, istilah Khulafaur Rasyidin hampir selalu dipahami sebagai empat khalifah pertama: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.
Pemahaman ini begitu populer sehingga sering dianggap sebagai bagian dari sabda Rasulullah SAW sendiri.
Padahal, apabila kita kembali kepada teks hadis, kita akan menemukan satu kenyataan yang menarik: Rasulullah SAW tidak pernah menyebut empat nama tersebut ketika menggunakan istilah al-Khulafā’ ar-Rāsyidīn al-Mahdiyyīn.

Beliau bersabda:

«فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.»

“Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk sepeninggalku. Berpeganglah kuat kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah perkara-perkara baru dalam agama, karena setiap bid’ah adalah kesesatan.”

(Sunan Abu Dawud no. 4607; Jami’ at-Tirmidzi no. 2676; Sunan Ibnu Majah no. 42; Musnad Ahmad).

Perhatikan dengan saksama. Rasulullah SAW memerintahkan umat mengikuti sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk, tetapi beliau tidak menyebutkan nama mereka dalam redaksi hadis tersebut.

Lalu kita menemukan hadis lain yang jauh lebih spesifik.

Dari Jabir bin Samurah, Rasulullah SAW bersabda:

«لَا يَزَالُ الْإِسْلَامُ عَزِيزًا إِلَى اثْنَيْ عَشَرَ خَلِيفَةً، كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ.»

Dalam riwayat lain:

«لَا يَزَالُ هَذَا الدِّينُ قَائِمًا حَتَّى يَقُومَ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً، كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ.»

“Islam akan tetap mulia hingga datang dua belas khalifah; semuanya dari Quraisy.”

“Agama ini akan tetap tegak hingga muncul dua belas khalifah; semuanya berasal dari Quraisy.”

(Shahih Muslim, Kitab al-Imarah no. 1821; Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ahkam; Musnad Ahmad; Sunan Abu Dawud).

Di sinilah diperlukan ketelitian ilmiah.

Sering terdengar ungkapan bahwa Rasulullah SAW tidak menyebut siapa dua belas khalifah itu. Pernyataan ini perlu diluruskan.
Yang benar bukanlah Rasulullah tidak mengetahui atau tidak menyebutnya, melainkan riwayat yang sampai kepada kita tidak selalu memuat seluruh rincian yang beliau ucapkan.

Hal ini dibuktikan oleh perawi hadis itu sendiri.

Jabir bin Samurah berkata:

«ثُمَّ قَالَ كَلِمَةً خَفِيَتْ عَلَيَّ، فَقُلْتُ لِأَبِي: مَا قَالَ؟ قَالَ: كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ.»

“Kemudian Rasulullah mengucapkan suatu kalimat yang tidak jelas bagiku. Aku bertanya kepada ayahku, ‘Apa yang beliau katakan?’ Ayahku menjawab, ‘Semuanya dari Quraisy.'”

Dalam riwayat lain beliau mengatakan:

«ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ لَمْ أَسْمَعْهَا مِنْ ضَجَّةِ النَّاسِ.»

“Kemudian beliau mengucapkan suatu kalimat yang aku tidak dapat mendengarnya karena riuhnya suara orang-orang.”

Perhatikan baik-baik. Yang mengalami keterbatasan mendengar adalah Jabir bin Samurah, bukan Rasulullah SAW.
Bahkan Jabir harus bertanya kepada ayahnya untuk mengetahui bagian sabda Nabi yang tidak didengarnya.

Artinya, kekurangan terdapat pada proses periwayatan, bukan pada penyampaian Rasulullah SAW.
Nabi tidak mungkin tiba-tiba “lupa” atau “tidak mengetahui” siapa para pemimpin yang beliau sendiri kabarkan akan menjaga agama hingga akhir zaman.
Yang tidak sempurna adalah apa yang berhasil ditangkap oleh sebagian pendengar di tengah keramaian.

Ini adalah kaidah penting dalam ilmu hadis: keterbatasan riwayat tidak boleh diubah menjadi keterbatasan sabda Nabi.

Di sinilah persoalan besar dalam historiografi Islam mulai tampak.

Hadis pertama berbicara tentang para khalifah yang mendapat petunjuk.

Hadis kedua menyebut jumlah mereka: dua belas orang.

Namun riwayat-riwayat yang sampai kepada kita tidak memuat penjelasan lengkap mengenai identitas mereka.

Pertanyaannya, mengapa kita begitu yakin bahwa Khulafaur Rasyidin hanya empat orang, sementara Rasulullah SAW tidak pernah membatasi jumlahnya dalam hadis tersebut?
Dan mengapa hadis tentang dua belas khalifah sering dipisahkan dari hadis Khulafaur Rasyidin, padahal keduanya berbicara tentang kepemimpinan umat setelah Rasulullah SAW?

Jika dua hadis ini dibaca secara terpisah, kita akan kesulitan memahami maksud Rasulullah SAW. Namun apabila keduanya dibaca secara utuh, sebuah pertanyaan yang sangat wajar muncul: apakah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk itu adalah dua belas khalifah yang disebutkan Nabi?

Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika kita mengingat Hadis Tsaqalain.

Rasulullah SAW meninggalkan dua pusaka yang tidak akan pernah berpisah hingga menemuinya di telaga, yaitu Al-Qur’an dan Ahlul Bait. Beliau menegaskan bahwa siapa yang berpegang teguh kepada keduanya tidak akan tersesat.

Kini kita memiliki tiga hadis besar yang saling bertemu pada satu titik:

  • – Rasulullah memerintahkan mengikuti sunnah para Khulafaur Rasyidin.
  • – Rasulullah mengabarkan jumlah mereka ada dua belas, semuanya dari Quraisy.
  • – Rasulullah memerintahkan umat berpegang kepada Al-Qur’an dan Ahlul Bait agar tidak tersesat.

Ketiganya berbicara tentang satu tema yang sama: kepemimpinan, penjagaan agama, dan kesinambungan petunjuk setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Dalam perspektif Ahlul Bait, ketiga hadis ini saling menjelaskan, bukan saling bertentangan.
Dua belas khalifah itu dipahami sebagai dua belas Imam Ahlul Bait: Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain, kemudian sembilan Imam dari keturunan Imam Husain hingga Imam Muhammad al-Mahdi a.s.

Menariknya, jumlahnya tepat dua belas. Seluruhnya berasal dari Quraisy, bahkan dari Bani Hasyim. Seluruhnya dikenal karena ilmu, ketakwaan, dan kedekatannya dengan Rasulullah SAW.
Sebagian besar justru hidup di bawah tekanan para penguasa. Mereka bukan pendiri dinasti politik, melainkan pewaris ilmu dan hidayah Nabi.

Sebaliknya, apabila hadis dua belas khalifah dipaksakan kepada para penguasa Bani Umayyah atau Abbasiyah, para ulama menghadapi kesulitan besar.
Jumlahnya tidak pernah benar-benar sesuai, sementara karakter sebagian penguasanya bertolak belakang dengan sifat rāsyid dan mahdī yang disebut Rasulullah SAW.

Karena itu, persoalan ini bukan sekadar perdebatan sejarah, melainkan persoalan metodologi. Apakah kita memulai dari realitas politik, lalu memaksa hadis agar menyesuaikannya?
Ataukah kita memulai dari sabda Rasulullah SAW, kemudian membiarkan hadis menjelaskan sejarah?

Di sinilah letak perbedaan antara kekuasaan politik dan kepemimpinan ilahi. Rasulullah SAW tidak mengatakan bahwa dua belas khalifah itu harus menguasai singgasana pemerintahan.
Yang beliau tegaskan adalah bahwa melalui merekalah agama akan tetap tegak dan petunjuk akan terus hidup.

Maka pertanyaan yang semestinya diajukan bukanlah, “Siapa yang pernah berkuasa?“, melainkan, “Siapa yang paling memenuhi seluruh ciri yang disebutkan Rasulullah SAW?”

Seorang pencari kebenaran tidak memulai dari kesimpulan yang telah diwariskan. Ia memulai dari seluruh sabda Rasulullah SAW, menghimpunnya, memadukannya, lalu membiarkan hadis-hadis itu saling menjelaskan.

Dan mungkin, di situlah kita akan menemukan bahwa jalan menuju kebenaran bukanlah memilih satu hadis dan meninggalkan yang lain, melainkan menyatukan seluruh cahaya yang ditinggalkan Rasulullah SAW.

Siapakah khulafaur

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/16FUTSVdxNu/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us