10 October 2026

Penyimpangan Umat, Luka Batin Nabi, dan Episode Wafat

Ayat:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ

Wa mā Muḥammadun illā rasūl.

tidak turun di ruang kosong.

Ia lahir dari sebuah peristiwa yang mengguncang.

Dalam Perang Uhud, ketika tersebar kabar bahwa Rasulullah SAW telah gugur, sebagian pasukan Muslim kehilangan orientasi.
Barisan kacau. Sebagian meninggalkan medan. Sebagian yang lain seperti kehilangan alasan untuk terus bertahan.

Kabar itu ternyata tidak benar.

Tetapi justru karena tidak benar, peristiwa tersebut memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: betapa rapuhnya sebagian hubungan manusia dengan risalah ketika kehadiran fisik Rasulullah dianggap hilang.

Al-Qur’an lalu menegur dengan kalimat yang sangat keras:

أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ

“Apakah jika ia wafat atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang?”

Kata yang digunakan adalah:

inqalabtum ‘alā a‘qābikum.

Berbalik di atas tumit.

Gambarnya sangat kuat.

Seseorang telah berjalan maju, lalu tiba-tiba membalikkan seluruh tubuhnya dan kembali ke arah semula.

Al-Qur’an tidak mengatakan sekadar “kalian akan salah”.

Ia mengatakan:

kalian akan berbalik.

Seakan-akan seluruh perjalanan yang telah ditempuh bersama Rasulullah dapat dibatalkan hanya dalam beberapa saat.

Inilah tragedi iman yang paling menakutkan.

Seseorang dapat berjalan sangat jauh bersama kebenaran, tetapi tidak ada jaminan ia akan tetap berdiri di sana sampai akhir.

Ia pernah mendengar wahyu.

Ia pernah melihat mukjizat.

Ia pernah shalat di belakang Nabi.

Ia pernah berperang bersama beliau.

Ia bahkan mungkin pernah menangis ketika mendengar Al-Qur’an.

Tetapi semua itu belum tentu cukup apabila pada ujung perjalanan ia memilih berbalik.

Karena itu, kedekatan historis dengan Nabi tidak otomatis sama dengan kesetiaan kepada Nabi.

Yang menentukan bukan hanya:

seberapa dekat seseorang pernah berdiri di samping Rasulullah.

Tetapi:

ke arah mana ia berjalan setelah Rasulullah tidak lagi berada di hadapannya.

Di sinilah ayat Uhud seperti berubah menjadi peringatan yang jauh melampaui Uhud.

Ia berbicara kepada generasi setelahnya.

Ia bahkan berbicara kepada kita.

Sebab siapa pun dapat mengalami inqilāb—kemunduran, pembalikan, perubahan arah—apabila iman hanya bergantung pada figur, bukan pada kebenaran yang dibawa figur tersebut.

Dan tragedinya terasa semakin dalam ketika kita melihat betapa pendek jarak antara deklarasi Ghadir Khumm dan wafat Rasulullah SAW.

Ghadir terjadi pada 18 Dzulhijjah.

Dalam tradisi Ahlul Bait, wafat Rasulullah SAW dikenang pada 28 Safar.

Jaraknya hanya sekitar dua setengah bulan.

Sangat singkat.

Hanya beberapa puluh hari.

Namun dalam rentang waktu sesingkat itu, sejarah Islam bergerak sangat cepat.

Pesan-pesan terakhir disampaikan.

Ketegangan mulai muncul.

Rasulullah jatuh sakit.

Ekspedisi Usamah dipersiapkan.

Peristiwa Kamis terjadi.

Lalu Rasulullah wafat.

Dan sesudah itu persoalan kepemimpinan meledak.

Seakan sejarah berlari sebelum air mata sempat mengering.

Ada sebuah riwayat yang terkenal dalam literatur polemik Islam. Seorang Yahudi dikisahkan berkata kepada Imam Ali AS:

“Aneh sekali. Nabi kalian belum selesai dimakamkan, tetapi kalian sudah berselisih tentang kepemimpinan.”

Imam Ali menjawab dengan kecerdasan yang luar biasa.

Kurang lebih:

“Kalian bahkan belum kering kaki kalian setelah menyeberangi laut bersama Musa, tetapi sudah berkata kepadanya: buatkanlah untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.”

Jawaban itu bukan sekadar bantahan.

Ia adalah pembelaan terhadap martabat kenabian.

Ali tidak membela penyimpangan umat.

Ia hanya menunjukkan bahwa penyimpangan manusia bukan bukti kegagalan seorang nabi.

Musa telah membelah laut.

Mereka menyaksikan Fir’aun tenggelam.

Mereka mengalami sendiri mukjizat keselamatan.

Namun tidak lama kemudian sebagian mereka meminta dibuatkan berhala.

Apa artinya?

Melihat mukjizat tidak otomatis membuat manusia setia kepada kebenaran.

Dekat kepada nabi tidak otomatis membuat seseorang suci.

Dan hidup sezaman dengan manusia pilihan Allah bukan jaminan seseorang tidak akan berpaling.

Justru semakin tinggi cahaya yang hadir, semakin jelas pula bayangan orang-orang yang menolaknya.

Di sinilah kita memasuki sisi lain dari mazlumiyah Rasulullah SAW.

Beliau tidak hanya disakiti secara fisik.

Ada luka yang lebih dalam.

Luka batin.

Tubuh dapat berdarah lalu sembuh.

Tetapi luka karena melihat umat yang dicintai tidak memahami adab, menentang perintah, meninggalkan majelis, meninggikan suara, bahkan memikirkan hal-hal yang menyakitkan hati beliau—itulah penderitaan yang jauh lebih sunyi.

Di Tha’if, tubuh Rasulullah dilempari batu sampai darah membasahi kaki beliau.

Dalam peperangan, tubuh beliau terluka.

Gigi beliau pernah cedera.

Darah mengalir dari wajahnya.

Tetapi semua itu terlihat.

Yang jauh lebih berat adalah penderitaan yang tidak selalu tampak.

Al-Qur’an sendiri beberapa kali turun untuk membela hati Nabi.

Salah satunya terdapat dalam Surah Al-Ahzab ayat 53:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ…

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi kecuali apabila kalian diizinkan…”

Ayat ini berbicara tentang adab.

Tetapi jangan kira persoalannya kecil.

Adab adalah bentuk lahir dari kesadaran batin.

Sebagian orang memasuki rumah Nabi, makan, kemudian duduk terlalu lama. Mereka bercakap-cakap, seakan rumah Rasulullah adalah ruang sosial biasa.

Padahal rumah itu bukan rumah biasa.

Di sanalah wahyu turun.

Di sanalah keputusan-keputusan besar umat lahir.

Di sanalah Rasulullah beristirahat setelah seharian memikul beban seluruh risalah.

Namun kelembutan beliau membuatnya enggan mengusir mereka.

Al-Qur’an lalu berkata:

إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ

“Sesungguhnya yang demikian itu mengganggu Nabi, lalu Nabi malu kepada kalian, sedangkan Allah tidak malu untuk menyatakan kebenaran.”

Perhatikan.

Allah sampai mengambil alih apa yang Rasulullah segan mengucapkannya.

Nabi malu menegur.

Allah menegur untuk beliau.

Apa yang kita lihat di sini bukan sekadar aturan bertamu.

Kita sedang melihat bagaimana Allah menjaga hati Rasul-Nya.

Seakan langit berkata:

Jangan sakiti kekasih-Ku dengan ketidakpekaan kalian.

Tetapi ayat itu belum selesai.

Allah kemudian mengatakan:

وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا

“Tidak patut bagi kalian menyakiti Rasulullah dan tidak pula menikahi istri-istrinya setelah beliau selama-lamanya. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan perkara yang sangat besar di sisi Allah.”

Berhentilah sejenak di sini.

Rasulullah masih hidup.

Tetapi sudah ada wacana tentang apa yang akan terjadi terhadap istri-istrinya setelah beliau wafat.

Betapa dalam luka psikologis yang mungkin lahir dari situasi seperti itu.

Seseorang masih berada di hadapan kita, namun sebagian manusia sudah membicarakan dunia setelah kepergiannya.

Dan yang membuatnya lebih berat: orang itu adalah Rasulullah.

Manusia yang hidupnya diberikan sepenuhnya untuk umat.

Ia memikirkan keselamatan mereka.

Mendoakan mereka.

Menangisi mereka.

Tetapi sebagian umat bahkan belum belajar menjaga rasa malu di hadapan beliau.

Allah menegaskan:

إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا

“Itu perkara yang besar di sisi Allah.”

Artinya, menyakiti Nabi bukan persoalan sosial biasa.

Ia menyentuh wilayah iman.

Mazlumiyah batin Rasulullah juga muncul dalam Surah Al-Jumu‘ah.

Bayangkan adegannya.

Rasulullah SAW sedang berdiri menyampaikan khutbah.

Beliau berbicara.

Kemudian datang rombongan dagang.

Suara, keramaian, berita tentang barang dagangan menarik perhatian.

Dan sebagian besar jamaah meninggalkan Nabi.

Al-Qur’an mengabadikannya:

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا

“Apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka berhamburan menuju kepadanya dan meninggalkan engkau sedang berdiri.”

Perhatikan redaksi:

wa tarakūka qā’imā.

“Mereka meninggalkanmu dalam keadaan berdiri.”

Betapa menyayat.

Nabi sedang berdiri.

Berbicara kepada mereka.

Tetapi dagangan lebih menarik.

Dunia masuk melalui pintu masjid dan sebagian manusia meninggalkan Rasulullah di mimbar.

Ini bukan hanya kisah tentang jamaah Jumat.

Ini adalah metafora sejarah.

Betapa sering manusia meninggalkan kebenaran ketika dunia memanggil.

Betapa mudahnya khutbah kenabian kalah oleh gemerincing keuntungan.

Dan mungkin karena itulah Al-Qur’an tidak mengatakan sekadar “mereka pergi”.

Allah mengatakan:

mereka meninggalkanmu.

Seolah yang disoroti bukan langkah kaki mereka.

Melainkan luka yang ditinggalkan.

Surah An-Nur ayat 62 bahkan mengajarkan bahwa orang beriman tidak boleh meninggalkan urusan bersama Rasulullah tanpa meminta izin.

Jika pun diizinkan, Nabi diperintahkan memohonkan ampunan bagi mereka.

Mengapa?

Karena keluar dari majelis Nabi bukan perkara biasa.

Kehadiran bersama Rasulullah adalah kehormatan.

Meninggalkannya membutuhkan alasan.

Dan bahkan setelah diberi izin, manusia masih membutuhkan istighfar.

Betapa tinggi adab yang dituntut di hadapan beliau.

Surah Al-Hujurat ayat 2 bahkan lebih tegas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi…”

Lalu Allah memberi ancaman yang menggetarkan:

أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Jangan sampai gugur amal-amal kalian sementara kalian tidak menyadarinya.”

Hanya karena meninggikan suara.

Mengapa sedemikian berat?

Karena persoalannya bukan volume suara.

Persoalannya adalah posisi jiwa di hadapan Rasulullah.

Suara yang meninggi bisa menjadi simbol ego yang meninggi.

Dan di hadapan utusan Allah, ego harus tunduk.

Inilah sebabnya menyakiti orang-orang yang menjadi bagian dari jiwa Rasulullah juga tidak bisa dianggap ringan.

Beliau bersabda tentang Sayyidah Fatimah SA:

فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي فَمَنْ أَغْضَبَهَا أَغْضَبَنِي

atau dalam redaksi lain:

مَنْ آذَاهَا فَقَدْ آذَانِي

“Fatimah adalah bagian dariku. Barang siapa membuatnya marah, ia telah membuatku marah.”

Maknanya sangat jelas.

Fatimah tidak ditempatkan sebagai anak dalam pengertian biologis semata.

Beliau adalah biḍ‘atun minnī.

Bagian dari diri Rasulullah.

Maka luka Fatimah menyentuh Rasulullah.

Kesedihan Fatimah menyentuh Rasulullah.

Kemarahan Fatimah menyentuh Rasulullah.

Dalam tradisi Ahlul Bait, hadis ini dibaca dengan kesadaran sejarah yang sangat mendalam.

Sebab setelah wafat Rasulullah, kehidupan Fatimah tidak berjalan dalam ketenangan.

Ada konflik.

Ada tekanan.

Ada luka.

Dan dalam riwayat Syiah, tragedi itu bahkan sampai kepada penyerangan rumah, keguguran Muhsin, serta penderitaan fisik dan batin yang sangat berat.

Terlepas dari perbedaan penilaian historiografis antarmazhab terhadap rincian peristiwa tersebut, satu hal tidak dapat dilewati:

kedudukan Fatimah di sisi Rasulullah adalah luar biasa tinggi.

Beliau bukan sekadar putri Nabi.

Dalam tradisi Islam, beliau dikenal sebagai pemimpin perempuan penghuni surga.

Dalam tradisi Ahlul Bait, kedudukannya dipahami melampaui seluruh perempuan sesudah dan sebelum zamannya—Sayyidatu Nisā’il ‘Ālamīn.

Maka menyentuh Fatimah berarti menyentuh bagian paling sensitif dari hati Rasulullah.

Dan ketika kita memasuki hari-hari terakhir kehidupan Nabi, seluruh rangkaian itu mencapai titik yang paling memilukan.

Rasulullah SAW sedang sakit.

Tubuh yang selama puluhan tahun menanggung beban wahyu mulai melemah.

Tetapi pikiran beliau masih tertuju kepada umat.

Salah satu perintah penting beliau adalah pemberangkatan pasukan Usamah bin Zaid.

Usamah masih sangat muda.

Sekitar akhir belasan tahun.

Namun Rasulullah menunjuknya sebagai pemimpin ekspedisi.

Sebagian orang mempersoalkan usia dan kepemimpinannya.

Ada yang lambat bergerak.

Ada yang tetap tinggal di Madinah.

Dalam kondisi sakit, Rasulullah bahkan harus menegaskan kembali keputusan beliau.

Bayangkan.

Seorang Nabi yang sedang demam berat masih harus mengeluarkan tenaga untuk memastikan perintahnya ditaati.

Seakan di penghujung hidup pun beliau masih diuji bukan hanya oleh penyakit, tetapi juga oleh keengganan sebagian umat menjalankan keputusan beliau.

Lalu datanglah hari Kamis.

Hari yang kelak disebut Ibnu Abbas sebagai:

Razziyat al-Khamīs.

Tragedi Kamis.

Ibnu Abbas mengenangnya dengan air mata.

Karena pada hari itu terjadi sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi di kamar seorang Nabi.

Rasulullah SAW berkata:

ائْتُونِي أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا

“Bawakan aku sesuatu agar aku menuliskan bagi kalian sebuah catatan sehingga kalian tidak akan tersesat sesudahku untuk selama-lamanya.”

Perhatikan kalimatnya.

Lan taḍillū ba‘dahū abadā.

“Tidak akan tersesat sesudahnya selamanya.”

Apa yang lebih penting daripada ini?

Seorang Nabi berada di penghujung hidup.

Ia menawarkan satu tulisan yang menurut pernyataannya sendiri akan menjadi penjagaan dari kesesatan.

Secara logika iman, semestinya tidak ada respons selain:

“Kami dengar dan kami taat.”

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Ruangan menjadi gaduh.

Pendapat terpecah.

Sebagian menginginkan alat tulis diberikan.

Sebagian menolak.

Dalam riwayat yang sangat terkenal, muncul ucapan:

إِنَّ النَّبِيَّ غَلَبَهُ الْوَجَعُ

“Sesungguhnya Nabi telah dikuasai rasa sakit.”

Dan juga:

حَسْبُنَا كِتَابُ اللَّهِ

“Cukuplah bagi kita Kitab Allah.”

Dalam sebagian jalur periwayatan muncul kata yahjur atau pertanyaan apakah beliau sedang berbicara karena beratnya sakit.

Kalimat seperti ini, jika diarahkan kepada Rasulullah, sungguh menggetarkan.

Sebab Al-Qur’an telah mengatakan:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tidaklah ia berbicara dari hawa nafsunya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan.”

Tentu ayat tersebut memiliki konteks pembicaraan tentang otoritas penyampaian wahyu, tetapi prinsip penghormatan kepada nalar dan kesadaran Rasulullah tetap tidak bisa disepelekan.

Lebih jauh lagi, ada paradoks yang sangat tajam.

Di satu sisi dikatakan:

“Cukuplah Kitab Allah.”

Tetapi Kitab Allah sendiri memerintahkan:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

“Taatilah Allah dan taatilah Rasul.”

Maka bagaimana mungkin Al-Qur’an dijadikan alasan untuk menolak perintah Rasulullah?

Ini paradoks yang harus direnungkan.

Bukan dengan emosi.

Tetapi dengan kejujuran.

Pada akhirnya Rasulullah meminta mereka pergi.

قُومُوا عَنِّي

“Pergilah kalian dariku.”

Atau dalam redaksi lain:

دَعُونِي

“Biarkan aku.”

Tidak ada kalimat yang lebih menyedihkan daripada seorang Nabi yang sepanjang hidupnya memanggil umat untuk mendekat, tetapi di akhir hidupnya justru harus mengatakan:

“Pergilah dariku.”

Bayangkan beban batin itu.

Selama dua puluh tiga tahun beliau berkata:

“Datanglah kepada Allah.”

“Datanglah kepada kebenaran.”

“Datanglah kepada keselamatan.”

Namun di kamar beliau sendiri, menjelang wafatnya, perselisihan menjadi begitu keras sampai Nabi meminta mereka pergi.

Barangkali di sinilah kata mazlum memperoleh salah satu maknanya yang terdalam.

Bukan hanya disakiti oleh musuh.

Tetapi terluka oleh orang-orang yang mengaku sebagai umat.

Sesudah itu hari-hari terakhir berjalan semakin sunyi.

Rasulullah berada di tengah keluarga yang paling beliau cintai.

Dalam tradisi Ahlul Bait, detik-detik itu dipenuhi perpisahan yang sangat memilukan.

Beliau menatap Fatimah.

Putri yang setiap kali datang disambutnya.

Putri yang dicium tangannya.

Putri yang disebut bagian dari dirinya.

Dalam sejumlah riwayat, beliau membisikkan sesuatu yang membuat Fatimah menangis, lalu membisikkan sesuatu yang lain yang membuatnya tersenyum.

Beliau mengabarkan bahwa dirinya akan segera wafat.

Lalu menghiburnya bahwa Fatimah adalah keluarga yang pertama menyusul beliau.

Tetapi bagi kecintaan Ahlul Bait, berita ini justru terasa semakin pedih.

Mengapa Fatimah begitu cepat menyusul ayahnya?

Apa yang terjadi dalam waktu singkat setelah wafat Rasulullah?

Pertanyaan itu akan terus menghantui sejarah.

Rasulullah juga memandang Ali AS.

Sepupu.

Menantu.

Saudara spiritual.

Orang yang sejak muda berdiri di sampingnya.

Yang tidur di tempat tidurnya ketika pembunuh mengepung rumah.

Yang mengangkat pedang ketika Islam harus dipertahankan.

Yang ilmunya dikenal sebagai pintu menuju ilmu Nabi dalam tradisi Ahlul Bait.

Dalam riwayat-riwayat duka Ahlul Bait, Rasulullah mengetahui bahwa kepala Ali kelak akan terbelah di mihrab.

Beliau menatap Hasan dan Husain.

Dua cucu yang berkali-kali dicium.

Dua anak yang menaiki punggungnya ketika beliau shalat.

Dua cucu yang disebut sebagai pemimpin pemuda surga.

Namun mata kenabian melihat lebih jauh daripada mata manusia.

Hasan akan diracun.

Husain akan terbunuh di Karbala.

Tubuhnya akan rebah di tanah panas.

Keluarganya akan ditawan.

Darahnya akan menjadi salah satu luka paling besar dalam sejarah umat Muhammad.

Bayangkan apabila seorang kakek mengetahui apa yang akan terjadi pada cucu-cucunya.

Bagaimana mungkin hatinya tidak hancur?

Dalam tradisi Ahlul Bait, Rasulullah menyerahkan Hasan dan Husain kepada Ali sebagai amanah.

Maknanya dalam:

mereka bukan sekadar anak.

Mereka adalah kelanjutan rumah kenabian.

Amanah Allah.

Amanah Rasul.

Lalu datanglah hari itu.

28 Safar.

Dalam tradisi Ahlul Bait, hari itu adalah hari wafat Rasulullah SAW.

Suara wahyu terhenti.

Manusia yang menjadi pusat kehidupan Madinah tidak lagi berbicara.

Tubuh suci beliau terbujur.

Dan justru ketika keluarga Nabi berada dalam puncak duka, persoalan politik bergerak.

Di Saqifah Bani Sa‘idah, sekelompok orang berkumpul membicarakan kepemimpinan.

Kaum Anshar memiliki pertimbangan.

Kaum Muhajirin mempunyai argumentasi.

Persaingan lama Aus dan Khazraj ikut mewarnai suasana.

Perdebatan berlangsung cepat.

Keputusan politik besar lahir.

Sementara itu Ali, Fatimah, Abbas, dan keluarga Nabi menghadapi persoalan yang bagi mereka jauh lebih mendesak:

Rasulullah telah wafat.

Tubuh beliau harus dimandikan.

Dikafani.

Dishalatkan.

Dikebumikan.

Di sini sejarah seperti terbelah menjadi dua ruang.

Di satu tempat, keluarga menangisi Nabi.

Di tempat lain, orang-orang membicarakan siapa yang akan memimpin sesudah Nabi.

Kita boleh berbeda dalam membaca legitimasi politik Saqifah.

Tetapi secara manusiawi, kontras itu tetap menyakitkan.

Sang Nabi belum selesai dikuburkan.

Namun masa setelah Nabi sudah mulai diperebutkan.

Karena itu, mazlumiyah Rasulullah tidak selesai ketika ruhnya meninggalkan tubuh.

Justru setelah wafatnya, bentuk penderitaan lain dimulai.

Fatimah hidup dalam duka.

Ali masuk ke fase hidup yang sangat berat.

Dan keluarga Nabi menghadapi hari-hari yang tidak pernah sama lagi.

Ada kisah yang sangat menyentuh tentang Bilal bin Rabah.

Setelah Rasulullah wafat, Bilal tidak lagi sanggup mengumandangkan azan sebagaimana dahulu.

Setiap kalimat azan mengingatkannya kepada Nabi.

Dalam kisah yang berkembang dalam tradisi cinta kepada Ahlul Bait, Fatimah pernah meminta Bilal kembali mengumandangkan azan.

Bilal pun mengucapkannya.

Allāhu Akbar.

Kenangan terbuka.

Asyhadu an lā ilāha illallāh.

Air mata mulai mengalir.

Lalu ketika sampai pada:

Asyhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh…

Fatimah tidak sanggup.

Nama itu terlalu dekat.

Tetapi pemilik nama itu sudah tidak berada di rumah.

Duka begitu kuat sampai beliau dikisahkan jatuh pingsan.

Azan pun dihentikan.

Betapa dahsyatnya sebuah nama.

Dulu, ketika Bilal mengucapkan:

Asyhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh,

Muhammad berada di masjid.

Muhammad menjawab salam.

Muhammad berdiri menjadi imam.

Sekarang nama yang sama bergema di Madinah, tetapi tubuh Rasulullah telah berada di dalam tanah.

Inilah salah satu hakikat kematian yang paling menyakitkan.

Nama tetap tinggal.

Tetapi tubuh pergi.

Dikisahkan Fatimah meratap dalam makna yang kurang lebih demikian:

Namamu masih disebut di mimbar-mimbar,

sementara jasadmu telah berada di dalam kubur.

Kalimat sederhana.

Tetapi ia mampu merobek hati.

Sebab seluruh dunia Islam setelah itu terus menyebut:

Muhammad Rasulullah.

Tetapi Fatimah mengetahui sesuatu yang tidak dirasakan orang lain.

Ia mengetahui bagaimana rumah terasa ketika ayahnya tidak lagi membuka pintu.

Ia mengetahui bagaimana Madinah berubah ketika suara Rasulullah tidak lagi terdengar.

Dan duka itu tidak berhenti pada satu generasi.

Bagi para nabi terdahulu, penderitaan mereka secara lahiriah selesai ketika mereka wafat.

Tetapi mazlumiyah Rasulullah seperti melanjutkan dirinya melalui Ahlul Bait.

Luka Fatimah menjadi luka Rasulullah.

Kesendirian Ali menjadi kelanjutan dukanya.

Racun Hasan menjadi bagian dari tragedi rumah Nabi.

Darah Husain di Karbala menjadi salah satu jeritan paling panjang dari mazlumiyah Muhammad SAW.

Karena Husain bukan orang asing.

Ia adalah cucu yang pernah dipeluk Nabi.

Tubuh yang kelak terpotong di Karbala adalah tubuh yang dahulu pernah dinaikkan ke pundak Rasulullah.

Bibir yang kelak kering kehausan adalah bibir yang pernah dicium Nabi.

Karena itu, Karbala tidak dapat dilepaskan dari Madinah.

Dan Madinah tidak dapat dilepaskan dari hari-hari terakhir Rasulullah.

Semua itu berada dalam satu garis luka.

Mazlumiyah Nabi bahkan dapat dibaca dalam bentuk lain sampai hari ini.

Namanya disebut setiap hari.

Tetapi sejarahnya sering kali dipelajari secara selektif.

Kelahirannya dirayakan.

Tetapi wafatnya tidak selalu dikenang.

Shalawat dibaca.

Tetapi pesan-pesan terakhirnya tidak selalu dicari.

Orang berbondong-bondong datang ke Madinah.

Tetapi ekspresi cinta di sekitar makam beliau sering dibatasi sedemikian rupa sehingga ziarah berubah menjadi pertemuan yang terlalu cepat dengan manusia yang paling ingin kita dekati.

Di sinilah kita perlu bertanya kepada diri sendiri.

Apakah mencintai Nabi cukup dengan mengucapkan namanya?

Apakah cukup dengan memperbanyak shalawat?

Apakah cukup dengan menghadiri maulid?

Semua itu indah.

Tetapi cinta yang matang menuntut sesuatu yang lebih dalam:

keinginan mengenal penderitaannya.

Keinginan memahami pesan terakhirnya.

Keinginan mengetahui siapa yang dicintainya.

Keinginan menjaga orang-orang yang disebutnya sebagai bagian dari dirinya.

Dan keberanian untuk membaca sejarah tanpa takut menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan cerita yang selama ini kita dengar.

Sebab cinta yang takut kepada fakta bukan cinta.

Ia hanya kenyamanan.

Rasulullah SAW tidak membutuhkan pembelaan emosional yang buta.

Beliau membutuhkan umat yang berani mencari kebenaran sebagaimana beliau mengajarkannya.

Barangkali karena itulah merenungkan wafat Rasulullah bukan sekadar ritual duka.

Ia adalah muhasabah sejarah.

Kita sedang bertanya:

Apakah kita benar-benar umat beliau?

Ataukah kita hanya mewarisi namanya?

Apakah kita mengikuti risalahnya?

Ataukah kita hanya hidup dalam kebiasaan yang mengatasnamakan beliau?

Apakah jika Rasulullah datang hari ini dan meminta sesuatu yang mengguncang kepentingan kita, kita akan mengatakan:

“Sami‘nā wa aṭa‘nā” — kami dengar dan kami taat?

Ataukah kita akan mencari alasan?

Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan masa lalu.

Sebab tragedi sejarah selalu memiliki kemungkinan untuk berulang dalam bentuk baru.

Dulu orang meninggalkan Nabi demi perdagangan.

Hari ini kita dapat meninggalkan ajarannya demi keuntungan.

Dulu orang meninggikan suara di hadapan Nabi.

Hari ini kita dapat meninggikan ego di atas sabdanya.

Dulu ada yang berselisih di kamar Nabi.

Hari ini kita dapat berselisih atas nama beliau sambil melupakan akhlaknya.

Dulu ada orang yang begitu dekat secara fisik tetapi tidak selalu tunduk sepenuhnya.

Hari ini kita pun dapat sangat sering menyebut namanya tetapi tetap jauh dari jiwanya.

Karena itu, Safar tidak boleh berhenti menjadi tanggal.

Ia harus menjadi cermin.

Cermin untuk melihat kembali hubungan kita dengan Rasulullah.

Bukan hanya Rasulullah sebagai tokoh sejarah.

Tetapi Rasulullah sebagai jalan menuju Allah.

Sebagai pembawa rahmat.

Sebagai manusia yang sepanjang hidupnya memikirkan umat bahkan ketika umat sering kali melukai hatinya.

Dan mungkin inilah yang paling menggetarkan.

Di penghujung hidupnya, manusia yang telah dilempari batu, diperangi, dihina, ditinggalkan di mimbar, diperdebatkan di kamar sakitnya, dan kelak keluarganya akan mengalami penderitaan besar—masih memikirkan keselamatan umatnya.

Ia tidak menutup hidup dengan dendam.

Ia menutupnya dengan risalah.

Dengan amanah.

Dengan kekhawatiran agar manusia tidak tersesat setelahnya.

Maka ketika kita mengucapkan:

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa Āli Muḥammad,

jangan biarkan ia hanya menjadi gerakan bibir.

Biarkan ia turun ke hati.

Sebab mungkin kita tidak akan pernah mampu membayar seluruh cinta Rasulullah kepada umatnya.

Tetapi setidaknya kita dapat berhenti menjadi umat yang melupakannya.

Kita dapat mengenal dukanya.

Menjaga kehormatan keluarganya.

Mempelajari pesan-pesannya.

Dan menolak mengulangi kesalahan mereka yang pernah berada sangat dekat dengan cahaya, tetapi kemudian berpaling darinya.

Karena mazlumiyah Rasulullah bukan hanya tentang apa yang orang lain lakukan kepada beliau dahulu.

Pertanyaan terbesarnya adalah:

apa yang kita lakukan kepada Rasulullah hari ini?

Apakah beliau hidup dalam cara kita berpikir?

Dalam pilihan moral kita?

Dalam keberanian kita membela kebenaran?

Dalam cinta kita kepada Ahlul Baitnya?

Ataukah beliau hanya tinggal sebagai nama yang disebut di mimbar, sementara risalahnya perlahan kita kuburkan di dalam kehidupan?

Jika pertanyaan itu membuat dada terasa sesak, barangkali itulah fungsi duka.

Bukan membuat kita tenggelam dalam kesedihan.

Tetapi membangunkan sesuatu yang selama ini tertidur.

Sebab cinta kepada Rasulullah seharusnya tidak hanya membuat mata kita basah.

Ia harus membuat hidup kita berubah.

Dan setiap kali Safar datang, mungkin kita perlu berdiri sejenak di hadapan sejarah dan berkata:

Yā Rasūlallāh, kami terlambat mengenal dukamu.

Tetapi semoga kami tidak terlambat untuk kembali kepada risalahmu.

Nabi yg mazlum3

Hasyim ArsalAlhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19n3r3eW1y/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us