Belajar tasawuf pada seri ke-15 ini mengangkat tema penting yaitu ikhlas atau ketulusan hati.
Dalam konteks tasawuf, ikhlas bukan sekadar melakukan tindakan karena dorongan kepada Allah, melainkan memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Ikhlas berasal dari kata yang menggambarkan kemurnian, seperti madu murni (al-asal al-kholis) yang tidak tercampur oleh apa pun.
Para ulama memaknai ikhlas sebagai tindakan yang dilakukan semata-mata karena Allah tanpa tercampur niat, dorongan, atau motif lain selain mencari keridhaan-Nya.
Kisah Rahib dan Pohon Keramat
Dr. Khalid mengutip kisah dari kitab Ihya Ulumuddin tentang seorang rahib yang sholeh.
Suatu hari, rahib tersebut marah karena ada sekelompok orang yang menyembah pohon keramat.
Ia membawa senjata untuk menebang pohon itu, namun setan mencoba menghalanginya dalam wujud orang tua.
Terjadilah perkelahian di mana rahib tersebut menang karena niatnya murni karena Allah.
Namun, setan kemudian membujuknya dengan tawaran dua dinar setiap malam jika ia berhenti menebang pohon tersebut.
Setelah beberapa malam menerima uang, dinar tersebut hilang, dan rahib kembali hendak menebang pohon dengan rasa marah.
Kali ini, ia dikalahkan oleh setan.
Setan menjelaskan bahwa rahib menang sebelumnya karena niatnya tulus karena Allah, namun ia kalah kali ini karena niatnya telah tercampur oleh kemarahan akibat kehilangan dinar.
Bahaya Beramal Tanpa Keikhlasan
Ikhlas adalah fondasi dasar dalam perjalanan ruhaniah menuju Allah.
Sebuah Hadis Qudsi menyebutkan bahwa seluruh manusia dalam bahaya atau celaka kecuali mereka yang beribadah, berilmu, mengamalkan ilmunya, dan yang paling utama adalah mereka yang ikhlas.
Bahkan orang yang ikhlas pun masih berada dalam “bahaya besar” karena keikhlasan adalah sesuatu yang sangat berat untuk dijaga.
Rasulullah menceritakan tiga golongan yang pertama kali diadili di hari kiamat: orang berilmu, orang kaya yang dermawan, dan pejuang yang gugur.
Ketiganya dilemparkan ke neraka karena amal mereka tidak dilakukan dengan ikhlas, melainkan ingin disebut sebagai orang alim, dermawan, atau pahlawan.
Tiga Tingkatan Ikhlas
Dalam tasawuf, terdapat tiga tingkatan keikhlasan yang harus dipahami:
- Tingkat Pertama (Awam):
Mengeluarkan pandangan dari amal sendiri. Artinya, seseorang tidak melihat amalnya sebagai sesuatu yang luar biasa atau patut dibanggakan.
Ia juga tidak mengharapkan balasan materi atau pujian, melainkan yakin bahwa Allah ridha atas upayanya melayani sesama. - Tingkat Kedua (Khusus):
Merasa malu dan khawatir di hadapan Allah.
Contohnya adalah Imam Ali Zainal Abidin yang sujud sangat lama karena khawatir amalnya tidak diterima.
Pada tingkat ini, seseorang berusaha menyempurnakan amal secara lahir dan batin karena menyadari dirinya selalu dalam pengawasan Allah.
Ia menyadari bahwa kemampuan beramal hanyalah taufik dan cahaya dari Allah, bukan karena kekuatan diri sendiri. - Tingkat Ketiga (Kekasih/Arifin):
Tingkatan para kekasih Allah yang sudah tidak lagi memperhatikan amal mereka.
Pada tahap ini, hati mereka hanya berisi Allah, sebagaimana seorang pencinta yang hanya melihat wajah kekasihnya.
Mereka tidak lagi peduli pada surga atau neraka, melainkan hanya kerinduan kepada Allah semata.
Hubungan Ikhlas dengan Tauhid dan Cara Melatihnya
Puncak dari keikhlasan adalah ketika seseorang tidak lagi melihat apa pun kecuali Allah, yang merupakan hakikat dari Tauhid yang murni.
Rasulullah berjanji bahwa siapa pun yang mengikhlaskan amalnya selama 40 hari, maka cahaya hikmah akan muncul dari hatinya dan mengalir melalui lisannya.
Untuk mengetahui apakah kita sudah ikhlas, tanyakanlah pada hati sendiri; jika amal tersebut mendatangkan ketentraman, kedamaian, dan kebahagiaan saat melihat orang lain terbantu, maka itu adalah tanda keikhlasan.
Penutup
Dr. Khalid menutup dengan ajakan untuk menyempurnakan ibadah puasa dan peduli pada sesama, terutama mereka yang kesulitan di masa pandemi.
Amal yang terangkat di sisi Allah adalah kalimat yang indah (ibadah) dan amal shaleh yang disertai kepedulian sosial.

LIVE Belajar TASAWUF bersama Ustadz Dr Khalid al-Walid, setiap Ahad Jam 19.45 – 21.00
Anda bukan sekadar menyimak, tetapi bisa interaktif pada room chat YouTube Misykat TV.
Silahkan membagikan/share video. Semoga jari-jemari Anda akan menjadi saksi mencintai Allah Swt, Rasul dan Ahlulbaitnya.
Bihaqqi Muhammad wa Aali Muhammad.
Pusat Kajian Tasawuf Misykat:
YouTube : Misykat TV
SoundCloud : SoundCloud.com/misykat-bandung
Spotify : Misykat Bandung
Web : www.misykat.net
Donasi Dakwah Digital:
Bank BRI 1141 01 000 401 56 2 an Yayasan Bahtera Cinta Almustofa
Cp WA 0812 239 14000
#DiskusiDigital #MisykatTV

