Jika Hidupmu Sumpek Buat Ngopi Saja, Ngapain Dibikin Ruwet | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
1. Mitologi Sisifus dan Hukuman yang Absurd
Dalam mitologi Yunani, terdapat kisah tentang seorang dewa bernama Sisifus, putra dari Raja Aeolus.
Sisifus digambarkan sebagai sosok yang agak nakal dan banyak melakukan kejahatan, sehingga para dewaโterutama Zeusโmenghukumnya dan memasukkannya ke dalam neraka.
Namun, di neraka pun ia masih sempat menawar dan meminta izin untuk sesekali bermain ke bumi.
Ketika merasakan kembali indahnya bumi, ia menolak untuk kembali ke neraka karena merasa bumi jauh lebih menyenangkan daripada tempat penyiksaannya.
Hal ini membuat para dewa semakin murka dan menjatuhkan hukuman yang paling menyakitkan bagi Sisifus.
Ia dihukum untuk mendorong batu raksasa ke atas puncak gunung.
Begitu batu tersebut mencapai puncak, batu itu akan menggelinding kembali ke bawah dengan sendirinya.
Sisifus harus turun lagi, mengambil batu tersebut, mendorongnya kembali ke atas, dan proses ini terus berulang tanpa henti hingga akhir zaman.
2. Absurditas Hidup Manusia (Siklus yang Terus Berulang)
Kisah Sisifus ini digunakan oleh Albert Camus untuk menggambarkan “absurditas” dari kehidupan manusia.
Hidup kita sering kali terasa mirip dengan hukuman Sisifus: kita bersusah payah mendorong beban ke atas, lalu semuanya menggelinding ke bawah, dan kita harus turun kembali untuk mendorongnya dari awal dalam siklus yang terus berputar di situ-situ saja.
Manusia sering kali merasa telah mengalami kemajuan (progres), padahal sebenarnya kita hanya menghadapi masalah-masalah yang sama yang terus lahir kembali dengan kemasan atau wajah berbeda.
Sebagai contoh, perdebatan mengenai bentuk negara Syariah sudah terjadi sejak zaman penjajahan dan awal kemerdekaan, dan hingga hari ini perdebatan yang sama masih terus diulang-ulang.
Contoh lainnya adalah pemikiran Bung Hatta yang sering dianggap masih sangat relevan saat ini.
Padahal, bisa jadi bukan pemikirannya yang luar biasa maju, melainkan diri kita sendiri yang tidak pernah “naik kelas” sejak dahulu karena belum berhasil menyelesaikan masalah-masalah mendasar tersebut.
Akibatnya, nasihat dari puluhan tahun lalu masih terus kita gunakan karena masalah kita tetap sama dari dulu.
Kita terjebak dalam siklus Sisifus, di mana masalah lama muncul kembali, diselesaikan dengan cara yang sama, lalu muncul kembali.
Menurut Camus, absurditas ini merupakan harga yang harus dibayar manusia demi indahnya menjalani hidup di bumi.
3. Perbandingan Antara Sisifus dan Prometheus
Untuk memahami solusi menghadapi absurditas ini, kita bisa membandingkan hukuman Sisifus dengan hukuman yang diterima oleh Prometheus.
Prometheus adalah seorang dewa yang juga dihukum dengan cara diikat di atas gunung.
Setiap hari, seekor burung pemangsa datang untuk merobek dan memakan perutnya hingga hancur.
Setelah burung itu pergi, organ tubuhnya yang hancur akan pulih kembali secara utuh, hanya untuk dimakan kembali oleh burung yang sama keesokan harinya secara terus-menerus.
Hukuman ini membuat Prometheus mengalami stres berat hingga ia sangat berharap bisa mati saja daripada harus menanggung siksaan yang tiada akhir tersebut.
Sebaliknya, Sisifus menghadapi hukuman absurdnya dengan cara yang sangat berbeda.
Meskipun hukumannya sangat tidak masuk akal, Sisifus justru menikmatinya.
Camus menggambarkan bahwa Sisifus tetap bisa tersenyum dan bahagia menjalani hukumannya.
Sikap Sisifus adalah menganggap remeh masalah tersebut: “Kalau hanya sekadar mengangkat batu, ya mari diangkat. Kalau jatuh, ya kita angkat lagi. Begitu saja kok dibikin repot”.
Kunci kebahagiaan Sisifus terletak pada kemampuannya untuk tidak membuat rumit keadaan yang memang sudah rumit.
4. Pertanyaan Besar: Bunuh Diri atau Secangkir Kopi?
Dari kisah Sisifus ini, Camus mengajukan sebuah pertanyaan filosofis yang sangat terkenal: “Should I kill myself or have a cup of coffee?” (Apakah aku harus bunuh diri atau minum secangkir kopi saja?).
Ketika seseorang merasa sumpek, jenuh, dan melihat hidup ini begitu absurd serta rumit, apakah ia harus mengakhiri hidupnya, ataukah ia cukup pergi minum kopi saja?.
Menghadapi keruwetan hidup, pilihan terbaik tentu saja bukan bunuh diri, melainkan menikmati hidup apa adanyaโmirip dengan ungkapan populer saat ini: “Daripada pusing dan sumpek, mari kita ngopi saja, tidak perlu dibikin rumit”.
Pesan utamanya adalah agar kita tidak mudah stres atau merasa sumpek dalam menjalani hidup yang memang sudah rumit ini.
Kalimat ini sangat bagus untuk diingat atau ditulis besar-besar di kamar sebagai pengingat saat kita merasa jenuh.
5. Tiga Respons Manusia dalam Menghadapi Absurditas
Ketika dihadapkan pada kenyataan hidup yang absurd, manusia umumnya akan merespons melalui tiga jalan:
- Putus Asa dan Bunuh Diri (Suicide):
Orang yang memilih jalan ini memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup menghadapi kenyataan.
Bagi Camus, bunuh diri adalah tindakan pengecut karena pelakunya tidak berani menerima tantangan hidup.
Oleh karena itu, jalan ini sama sekali tidak direkomendasikan karena masih banyak hal berharga yang bisa dimanfaatkan dari kehidupan kita. - Lompatan Keyakinan (Leap of Faith / Bunuh Diri Filosofis):
Respons kedua adalah mencari sandaran hidup, yang sering kali diwujudkan dengan melarikan diri ke dalam agama atau kepercayaan tertentu.
Camus menyebut tindakan ini sebagai “bunuh diri filosofis” (philosophical suicide).
Pada kondisi ini, seseorang memilih untuk berhenti berpikir kritis dan pasrah 100% tanpa mau merancang atau memikirkan hidupnya lagi.
Respons ini membunuh akal dan kecerdasan manusia, serta tidak direkomendasikan karena menolak kemampuan individu untuk mencari makna secara rasional.
Akibatnya, agama atau Tuhan sering kali dijadikan kambing hitam atas segala kegagalan atau kesulitan yang dialami. - Menerima Absurditas (Accepting Absurdity):
Respons ketigaโdan satu-satunya solusi yang validโadalah mengakui dan menerima dengan lapang dada bahwa hidup ini memang absurd.
Jika kita menolak atau melarikan diri dari kenyataan ini, kita sama saja seperti orang yang tidak berani menghadapi kehidupan, mirip dengan Prometheus yang putus asa dan ingin mati.
Sisifus memilih jalan ini: ia menyadari bahwa dirinya dihukum, tetapi ia menerima hukuman itu dan menikmatinya dengan terus menaik-turunkan batu selagi ia masih hidup.
6. Menerima dan Memaknai Hidup Sendiri
Langkah awal yang paling tepat untuk menghadapi ketidakpastian hidup adalah dengan menerimanya, tanpa perlu menyangkal atau bersusah payah mencari argumen bahwa kehidupan ini selalu berjalan dengan tertib, teratur, rapi, dan bisa kita kendalikan sepenuhnya.
Kita harus menerima kenyataan bahwa hidup ini sering kali penuh dengan hal-hal yang tidak terduga dan sulit dikendalikan.
Setelah kita bisa menerima kenyataan tersebut tanpa berusaha melarikan diri, langkah selanjutnya adalah mulai memberikan makna pada hidup kita sendiri.
Maknailah hidup sesuai dengan versi dan keinginanmu sendiri, tanpa harus terbebani dengan anggapan atau pretensi bahwa makna yang kamu buat adalah makna terbaik, paling puncak, atau paling sejati.
Cukup jalani dan maknai hidupmu sendiri dengan caramu.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







