Jangan Biarkan Dirimu Hilang Ditekan Kerumunan | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Delapan Karakter Sufi yang Meneladani Para Nabi
Dalam kitab Rosa’il, dijelaskan bahwa seorang sufi sejati memiliki delapan karakter utama yang meneladani para nabi. Karakter-karakter ini merupakan perwujudan dari husnul khuluq (akhlak yang baik).
Berikut adalah kedelapan ciri tersebut:
1. Murah Hati (Meneladani Nabi Ibrahim a.s.)
Ciri sufi yang pertama adalah memiliki sifat pemurah atau murah hati. Nabi Ibrahim terkenal sangat pemurah; beliau bahkan dikisahkan tidak pernah mau makan malam sendirian.
Jika tidak ada teman di rumahnya, beliau akan keluar untuk mencari tetangga atau orang lain agar bisa makan bersama.
Seorang sufi memiliki kemurahan hati yang luar biasa karena mereka sudah tidak lagi terikat dengan urusan duniawi.
Jangankan diminta, bahkan saat tidak diminta pun mereka akan membagikan hartanya kepada siapa saja yang membutuhkan.
2. Ridha (Meneladani Nabi Ismail a.s.)
Sufi itu selalu ridha, rela, dan menerima apa pun ketetapan Allah atas dirinya tanpa pernah mengeluh.
Hal ini berbeda dengan manusia pada umumnya yang mudah mengeluh dalam segala situasiโbaik saat diberi hujan maupun panas.
Sifat ini meneladani Nabi Ismail yang rela memberikan jiwanya saat Nabi Ibrahim menerima wahyu untuk menyembelihnya.
Beliau menerima perintah tersebut dengan ikhlas tanpa mendebat ayahnya.
Karakter ini mengajarkan kita untuk ikhlas menerima apa pun takdir yang menimpa kita tanpa banyak protes.
3. Sabar (Meneladani Nabi Yakub a.s.)
Karakter ketiga adalah sabar, yang dicontohkan dari kisah keteguhan Nabi Yakub.
Beliau yang awalnya merupakan seorang kaya raya harus jatuh miskin, kehilangan semua anak serta istrinya, hingga menderita penyakit parah yang mengeluarkan bau luar biasa sampai harus diasingkan dari masyarakat.
Namun, beliau tetap sabar, tidak mengeluh, dan menerima seluruh ujian tersebut dengan lapang dada.
4. Berkomunikasi dengan Bahasa Isyarat/Simbol (Meneladani Nabi Zakaria a.s.)
Seorang sufi yang telah mencapai tingkat makrifat memiliki banyak rahasia spiritual yang tidak bisa disampaikan begitu saja secara vulgar kepada masyarakat awam agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau bahaya (seperti yang terjadi pada Al-Hallaj).
Oleh karena itu, mereka harus mahir berkomunikasi menggunakan bahasa simbol atau kode.
Kemampuan ini dipelajari dari Nabi Zakaria. Ketika beliau berdoa meminta anak di usia 90-an tahun dan istrinya pun sudah sangat tua, Allah mengabulkan doanya.
Sebagai tandanya, beliau tidak bisa berbicara biasa dengan masyarakatnya selama beberapa waktu dan harus berkomunikasi menggunakan kode atau rumus (ila romza). Bahasa simbolik ini sangat penting untuk menyampaikan rahasia ketuhanan yang mendalam agar tidak disalahpahami.
5. Melakukan Uzlah (Meneladani Nabi Muda)
Sufi diajarkan untuk tidak terlalu larut atau terlibat secara berlebihan dalam kerumunan masyarakat umum melalui tradisi uzlah.
Ada asumsi filosofis bahwa jika seseorang selalu berada di dalam kerumunan, ia akan kehilangan jati dirinya sendiri.
Dengan mengambil jarak sejenak dari dunia, kita bisa melakukan refleksi, muhasabah, dan melihat hakikat dunia secara lebih kritis dan objektif.
Analologinya seperti melihat ketampanan atau kecantikan; wajah seseorang tidak akan terlihat jelas jika jaraknya terlalu dekat (menempel) atau terlalu jauh.
Sifat menjaga jarak suci ini diteladani dari seorang nabi muda yang juga wafat di usia muda.
6. Sederhana (Meneladani Nabi Musa a.s.)
Sufi memiliki kecenderungan gaya hidup yang sangat sederhana, yang disimbolkan dengan penggunaan jubah wol kasar pada zaman dahulu. Sifat ini meneladani Nabi Musa.
Meskipun beliau tumbuh besar di istana sebagai anak angkat Firaun dan bisa saja hidup mewah layaknya seorang pangeran, beliau justru memilih jalan hidup yang bersahaja dan sederhana.
7. Mengembara (Meneladani Nabi Isa a.s.)
Seorang sufi harus menjadi pengembara agar memiliki wawasan yang luas dan tidak berpikiran sempit.
Nabi Isa dikisahkan selalu mengembara bersama murid-muridnya ke berbagai tempat.
Perjalanan (rihlah) ini penting agar kita bisa melihat dunia luar, memahami berbagai macam karakter manusia, dan menyebarkan manfaat ke area yang lebih luas.
Tradisi ini juga diikuti oleh para ulama zaman dahulu yang rela berjalan kaki berbulan-bulan hanya demi mencari satu hadis (rihlah ilmiah).
8. Rendah Hati (Meneladani Nabi Muhammad SAW)
Karakter terakhir yang sangat penting adalah sifat rendah hati (tawadhu) yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW.
Beliau tidak pernah sombong atau meninggikan diri, bahkan sempat melarang umatnya memanggilnya dengan sebutan “Sayyid” secara berlebihan sebagai bentuk ketawadhuannya.
Dalam Islam, ketawadhuan diajarkan secara kontekstual.
Contohnya, saat menjadi tamu kita disuruh bersikap pasrah dan penurut layaknya jenazah (ad-doif kal mayit).
Sebaliknya, jika kita bertindak sebagai tuan rumah, kita diajarkan untuk memuliakan tamu layaknya seorang raja.
Hal ini menunjukkan bahwa penerapan nasihat kebaikan harus selalu dilihat berdasarkan konteksnya.
Delapan kualitas spiritual di atas menjadi bahan muhasabah atau refleksi diri bagi kita semua untuk melihat sejauh mana karakter-karakter mulia tersebut telah ada di dalam diri kita.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Bongkar Habis Sistem Pemerintahan Iran: Wajah Negara Iran: Islam, Syiah, dan Demokrasi.
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







