Sabtu, 31 Oktober 2026
Channel Lingkar Filsafat

Hidup Ini Tidak Sesuai Dengan Apa Yang Kau Bayangkan | Ngaji Filsafat

Hidup Ini Tidak Sesuai Dengan Apa Yang Kau Bayangkan | Ngaji Filsafat
Ilustrasi Hidup Ini Tidak Sesuai Dengan Apa Yang Kau Bayangkan | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Perasaan absurd (feeling of absurdity)

Perasaan absurd bisa menampar wajah siapapun, kapanpun, dan di sudut jalan manapun.
Merasa absurd berarti merasa bahwa hidup ini tidak jelas arahnya, mempertanyakan untuk apa kita hidup, serta meragukan apakah keberadaan kita memiliki kegunaan atau makna di alam semesta ini.
Ketika kita mulai mempertanyakan hal-hal tersebut, kita sering kali jatuh ke dalam jurang absurditas karena jawabannya sangat sulit dan tidak jelas.
Para filosof terdahulu telah berjuang mati-matian untuk menjawab teka-teki makna hidup, namun jawaban-jawaban mereka sering kali hanya hebat di tataran teori dan buku teks saja.
Pada kenyataannya, setelah mempelajari ratusan konsep filsafat tersebut, hidup kita tetap berjalan begitu-begitu saja tanpa mengalami perubahan nyata.
Sebagai contoh sederhana, ketika kita merenungkan mengapa kita mengikuti kajian (ngaji), apa tujuannya, dan apa hasil nyata yang kita dapatkan, kita sering kali menemui jawaban yang berputar-putar dan tidak jelas.

Siklus Hidup yang Berputar dan Analogi Permainan Bola

Ketidakjelasan ini juga tercermin dalam siklus hidup manusia sehari-hari.
Orang tua bekerja keras mati-matian agar anaknya bisa kuliah. Setelah lulus dan bekerja, sang anak kembali bekerja mati-matian demi anaknya sendiri agar kelak bisa kuliah juga.
Siklus ini terus berputar dan membuat kita bertanya-tanya: lalu siapa sebenarnya yang sukses dalam rantai pengorbanan ini? Semua terasa berputar tanpa ujung yang jelas.

Menurut Albert Camus, kita tidak pernah meminta atau mengharapkan untuk dilahirkan, namun tiba-tiba kita sudah terlempar ke dalam kehidupan nyata ini.
Camus menganalogikannya seperti permainan bola: kita menendang bola ke arah selatan, tetapi bola tersebut justru jatuh ke arah timur.
Kita dapat merancang rencana hidup seindah mungkin, namun kenyataan yang terjadi sering kali berbeda jauh dari rancangan tersebut.
Jarak yang membentang antara idealitas yang kita dambakan dengan kenyataan objektif yang terjadiโ€”serta kegigihan kita untuk tetap memegang teguh idealitas tersebutโ€”itulah yang melahirkan absurditas.

Kritik Terhadap Agama dan Faktisitas Eksistensial

Ketidaksesuaian ini juga sering kali terjadi dalam ranah keagamaan.
Kita sering menyuarakan bahwa agama adalah sumber kedamaian, namun lembaran sejarah menunjukkan banyak bukti di mana agama justru menjadi pemicu konflik.
Apa yang kita harapkan dan agung-agungkan ternyata meleset dari kenyataan, dan ini adalah salah satu bentuk absurditas.

Dalam filsafat eksistensial, filsuf seperti Martin Heidegger (dalam transkrip tertulis sebagai headhaker) menyebut kondisi ini sebagai faktisitas (facticity).
Kita selalu terlempar ke dalam fakta-fakta kehidupan nyata yang sering kali tidak selaras dengan bayangan ideal kita.
Sebagai contoh, sebelum memasuki bangku kuliah, Anda mungkin membayangkan akan menjadi mahasiswa yang rajin menulis, rajin membaca, aktif tahajud di pesantren, dan menghafal Al-Qur’an sedikit demi sedikit.
Namun, setelah menjalani perkuliahan, Anda merasakan sendiri adanya jarak yang sangat lebar antara teori-teori ideal tersebut dengan kenyataan hidup yang sesungguhnya.
Camus mendefinisikan absurditas sebagai konfrontasi antara dunia yang irasional dengan kerinduan mendalam manusia akan kejelasan yang terus bergema di lubuk hatinya.

Pencarian Makna dan Keterbatasan Manusia

Dunia ini tidak berjalan serapi dan seteratur apa yang kita pikirkan.
Manusia memiliki kecenderungan untuk menjelaskan dunia secara mutlak, pasti, dan rapi, sehingga kita sering kali terjebak dalam perdebatan sengit demi mempertahankan konsep atau teori tertentu.
Padahal, kenyataan hidup sesungguhnya tidak sesederhana teori-teori yang ditulis oleh para filsuf.

Banyak mahasiswa yang mengaku sedang melakukan “pencarian makna hidup”.
Namun, jika ditanya secara mendalam mengenai apa sebenarnya yang mereka cari, bagaimana cara mencarinya, dan apa ukuran nyata bahwa pencarian itu telah berhasil, mereka akan kebingungan karena kenyataannya tidak semudah itu.
Bahkan filsuf seperti Renรฉ Descartes (dalam transkrip tertulis sebagai Rene dekat) yang menyerukan metode keraguan ekstrem untuk mencari kebenaran paling pasti, pada kenyataannya tetap bisa hidup dengan nyaman dan tertawa-tawa.
Hal ini menunjukkan bahwa keraguan absolut tersebut tidak sepenuhnya fungsional atau operatif dalam kehidupan praktis sehari-hari.

Secara etimologis, kata absurd berasal dari bahasa Latin absurdus (dalam transkrip tertulis absodus) yang berarti tuli atau bodoh.
Ini menggambarkan benturan antara keinginan kuat manusia untuk menemukan nilai dan makna hakiki dalam hidup, melawan kenyataan objektif bahwa tidak ada manusia yang bisa menemukan makna mutlak tersebut.
Ketidakmungkinan ini bukan disebabkan oleh kecacatan logika, melainkan karena keterbatasan manusia (human impossible).
Manusia adalah makhluk yang terbatas, sehingga secara manusiawi tidak akan pernah bisa menjangkau dan menemukan hal-hal yang tidak terbatas, mutlak, atau bersifat ultimate.

Aliran Absurdisme dan Menjalani Hidup Lebih Santai

Benturan inilah yang kemudian melahirkan absurdisme, sebuah aliran filsafat yang menyatakan bahwa upaya manusia untuk menemukan makna hidup yang mutlak dan puncak pasti akan menemui kegagalan.
Di atas kertas, konsep-konsep tentang makna hidup terdengar sangat rapi dan canggih. Namun, ketika dihadapkan dengan realitas kehidupan, kita akan selalu menemukan pengecualian demi pengecualian karena dunia ini tidak dapat diramalkan.

Kembali ke analogi permainan bola: arah datang dan perginya bola tidak dapat diprediksi secara pasti.
Sebagai contoh, tidak ada jaminan mutlak bahwa klub besar seperti Barcelona pasti akan menang melawan klub lokal seperti PSS Sleman jika takdir menghendaki sebaliknya.
Hidup ini memang penuh dengan ketidakpastian dan pengecualian.
Oleh karena itu, kita tidak perlu kaget, galau, atau terlalu cemas ketika apa yang kita jago-jagokan atau rencanakan ternyata berakhir dengan kekalahan atau meleset dari harapan.
Dengan menyadari bahwa hidup ini memang memiliki sisi absurd, kita bisa menjalani keseharian kita dengan lebih tenang dan santai.

Mengenal Konsep Absurditas Hidup

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz

 

Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Faisal Assegaf: "Pro Palestina aja gak cukup, tapi harus juga Anti Zi0n!s, seperti Iran".

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us