Bacalah Dirimu Sampai Terlihat Hakikatnya Dirimu | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
- Pendahuluan: Mengetahui Diri Sebagai Kunci Kebahagiaan
“Man arofa nafsahu arofa robbahu” โ Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.
Menurut Imam Al-Ghazali, kunci dari kebahagiaan adalah mengenal diri sendiri.
Jika Anda sendiri masih tidak memahami siapa diri Anda dan apa yang Anda inginkan, Anda tidak akan pernah bisa benar-benar bahagia.
Sebenarnya ini adalah teori yang sangat sederhana. Sebagai analogi mudah, jika Anda tidak mengerti selera makan Anda sendiri atau tidak tahu makanan apa yang sebenarnya Anda sukai, bagaimana mungkin Anda bisa membahagiakan diri Anda sendiri?
Oleh karena itu, cara paling sederhana untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan mulai membaca diri sendiri.
Dalam bagian awal kitab Kimia-i-Sa’adah, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang mengenal dirinya adalah orang yang akan merasakan kebahagiaan sejati.
Mungkin saja selama ini Anda merasa tidak bahagia hanya karena Anda tidak benar-benar mengenali diri sendiri.
Sebagai contoh, Anda mungkin sebenarnya lebih menyukai pakaian yang tipis dan nyaman. Namun,
karena tidak mengenal diri sendiri dan melihat orang lain memakai jubah atau pakaian tebal, Anda ikut-ikutan menirunya padahal rasanya tidak enak.
Akhirnya, Anda tidak menemukan kebahagiaan di sana. Maka dari itu, kenalilah diri Anda terlebih dahulu.
- Mengapa Kita Sulit Mengenal Diri Sendiri?
Mengapa kita sering kali tidak mengenali diri kita sendiri?
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa pandangan kita terhadap diri sering kali tertutup oleh hasrat, hawa nafsu, karakter kehewanan, keinginan untuk menaklukkan orang lain, keinginan untuk menjadi idola, dan berbagai keinginan duniawi lainnya.
Sebagai contoh sederhana mengenai selera makan: Sebenarnya selera makan Anda hanyalah nasi kucing.
Namun, karena ada hasrat ingin dianggap keren dan gaul, Anda memaksakan diri memilih restoran mahal untuk makan steak atau hidangan lainnya.
Padahal, saat melihat makanan tersebut, rasanya Anda ingin muntah.
Demi gengsi agar dianggap keren, Anda terpaksa memakannya sambil menutup hidung. Makanan tersebut akhirnya terasa tidak enak karena Anda tidak jujur pada diri sendiri.
Contoh lain adalah dalam berpakaian. Mungkin Anda merasa sangat tersiksa saat memakai celana jins ketat. Namun, Anda tetap memakainya karena merasa tidak keren jika tidak menggunakannya.
Padahal, pakaian yang paling nyaman dan longgarโseperti sarungโjauh lebih enak, sejuk (isis), simpel, dan mudah digunakan. Kecenderungan jiwa Anda tidak bisa dibohongi. Oleh karena itu, kenali diri Anda sendiri.
- Dua Manfaat Mengenal Diri dan Analogi Cermin Hati
Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa mengenal diri memiliki dua manfaat utama.
Ketika Anda mampu membaca diri secara jernih, semakin dalam Anda masuk ke dalam hakikat diri manusia, maka di dasar yang paling dalam Anda akan menemukan “citra” atau gambaran Tuhan.
Hal yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah adanya roh yang ditiupkan langsung oleh Allah ke dalam diri manusia.
Roh inilah yang membawa citra atau gambaran dari Allah. Maka dari itu, ketika Anda berhasil mengenali diri sejati Anda, pada hakikatnya Anda juga sedang mengenali Allah.
Untuk mencapai tingkat ini, bersihkanlah diri Anda sebersih-bersihnya dari segala kotoran. Imam Al-Ghazali sangat terkenal dengan analoginya tentang cermin hati.
Semakin hawa nafsu menguasai diri Anda, maka akan semakin gelap pula cermin hati Anda.
Ketika Anda melakukan satu kemaksiatan, akan muncul satu titik hitam pada cermin tersebut.
Semakin sering Anda berbuat maksiat, titik hitam itu akan semakin banyak hingga cermin Anda menjadi gelap gulita.
Akibatnya, Anda tidak bisa lagi melihat ke dalam diri sendiri. Anda akhirnya tertipu oleh titik-titik hitam tersebut dan menganggap bahwa titik hitam itulah diri Anda yang sebenarnya.
Namun, jika Anda mau membersihkan dan menyingkirkan semua kotoran itu, Anda akan melihat hakikat diri Anda yang sejati, dan sekaligus mengenal Tuhan Anda.
- Muhasabah (Tafakur): Menemukan Posisi dan Menjawab Pertanyaan Eksistensial
Kunci pertama untuk bahagia adalah mengenali diri. Di waktu senggang, cobalah untuk melakukan muhasabah atau tafakur (introspeksi diri). Tanyakan pada diri sendiri:
- Saya ini tipe orang yang seperti apa?
- Apa yang saya sukai dan apa yang tidak saya sukai?
- Apa saja cita-cita dan keinginan saya?
Setelah itu, periksalah keinginan-keinginan tersebut: apakah sifatnya positif atau negatif?
Jika negatif, mengapa bisa demikian? Dari mana sumbernya, dan akan mengarah ke mana akhirnya? Proses inilah yang dinamakan sebagai muhasabah.
Mengenal posisi diri juga sangat penting. Dalam peperangan, seorang prajurit harus memahami posisinya agar tidak salah langkah.
Di dalam rumah pun demikian; Anda harus sadar apakah posisi Anda sebagai anak, bapak, ibu, atau adik.
Jika Anda seorang anak tetapi bertingkah laku seolah-olah sebagai bapak, tentu akan kacau jadinya.
Begitu pula dalam hubungan sosial: Anda harus memperjelas apakah posisi Anda adalah sebagai teman, sahabat, pacar, atau musuh, agar Anda bisa menyikapinya dengan tepat.
Hal ini sejalan dengan pesan klasik dari Socrates: “Know thyself” (Kenalilah dirimu sendiri).
Cobalah ajukan beberapa pertanyaan eksistensial berikut pada diri sendiri (misalnya nanti malam sebagai pekerjaan rumah):
- Siapa aku?
- Dari mana aku datang?
Mengapa aku tiba-tiba ada di dunia ini? Apakah ini hanya kebetulan, atau Allah sedang memberikan misi khusus kepadaku sehingga aku dilahirkan di tempat tertentu (seperti Jogja, Sumatera, atau Jawa Timur)?
Misi apa yang Allah titipkan kepadaku di bumi ini? - Ke mana aku akan pergi?
- Apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini?
- Di mana kebahagiaanku dapat ditemukan?
- Tiga Aktor di Dalam Diri Manusia
Imam Al-Ghazali juga mengingatkan kita untuk berhati-hati terhadap tiga aktor atau variabel yang ada di dalam diri manusia.
Jika Anda salah mengatur dosisnya, kehidupan Anda akan menjadi kacau. Ketiga unsur tersebut adalah:
1. Unsur Hewan (Kehewanan)
Unsur ini sangat penting bagi manusia. Jika Anda sama sekali tidak memiliki unsur kehewanan, Anda tidak akan memiliki ambisi, tidak mempunyai cita-cita, serta menjadi pribadi yang pasif dan tidak kreatif.
Bahkan, Anda mungkin tidak akan memiliki keturunan karena tidak adanya nafsu. Namun, dosis dan cara penyalurannya harus diatur dengan benar.
Jika dibiarkan liar tanpa aturan, Anda akan menjadi hewan sungguhanโbukan lagi manusia yang memiliki unsur kehewanan, melaikan hewan yang kebetulan memiliki unsur kemanusiaan.
2. Unsur Setan
Kita juga perlu belajar dari karakter setan, terutama dalam hal kecerdikan dan kepintarannya. Setan adalah makhluk yang sangat cerdas; mereka pandai merayu, berdiplomasi, dan tidak mudah dibohongi. Menaklukkan manusia yang dibekali akal membutuhkan kecerdasan yang luar biasa, dan setan sering kali sukses melakukannya (bahkan terkadang sebelum setan berbuat apa-apa, manusianya sudah terjerumus sendiri). Unsur kecerdasan dan kelihaian ini penting untuk dipelajari agar kita tidak mudah tertipu.
3. Unsur Malaikat
Di dalam diri kita juga terdapat potensi malaikat, yaitu kecenderungan untuk pasrah, tunduk, dan patuh total 100% kepada Allah tanpa bantahan, serta selalu berkarakter baik. Namun, jika manusia hanya memiliki unsur malaikat murni tanpa adanya unsur hewan dan setan, ia tidak akan menjadi sosok yang manusiawi.
Kesimpulan: Menjaga Keseimbangan Diri (*Mix*)
Pada hakikatnya, manusia adalah perpaduan (mix) dari ketiga unsur tersebut: hewan, setan, dan malaikat. Jalan hidup yang benar bukanlah dengan membuang ketiga unsur ini, atau hanya memilih salah satu di antaranya. Tugas kita sebagai manusia adalah mengontrol dan menyeimbangkan ketiganya sesuai dengan dosis dan takarannya masing-masing agar tidak berlebihan.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







