Sabtu, 31 Oktober 2026
Channel Lingkar Filsafat

Lepaskan Emosi Dalam Diri, Yang Akan Merusak Diri | Ngaji Filsafat

Lepaskan Emosi Dalam Diri, Yang Akan Merusak Diri | Ngaji Filsafat
Ilustrasi Lepaskan Emosi Dalam Diri, Yang Akan Merusak Diri | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Teori Psikologi dalam Permainan

1. Teori Psikoanalisis (Katarsis)

Dalam dunia modern, psikoanalisis memandang permainan sebagai media untuk melepaskan emosi-emosi terpendam dan mengatasi pengalaman traumatik.
Jika seseorang memiliki banyak emosi negatif yang terpendam, hal tersebut dapat merusak hidup.
Oleh karena itu, permainan menjadi saluran untuk melampiaskan hasrat tersebut agar tidak “meledak” dalam diri.
Contohnya, seseorang yang ingin meluapkan kekesalan bisa mengikuti lomba debat untuk mengkritik sepuasnya tanpa ada yang marah, atau melakukan olahraga fisik seperti sepak bola, voli, maupun bela diri sebagai bentuk pelampiasan yang menguntungkan secara psikologis,.
Melalui aktivitas fisik hingga berkeringat dan lelah, energi negatif biasanya akan tersalurkan sehingga muncul perasaan lega.

2. Teori Kognitif

Teori ini menyatakan bahwa permainan mengikuti perkembangan usia manusia.
Setiap tahapan usia memiliki jenis permainan tersendiri yang tidak boleh dilewatkan agar perkembangan seseorang menjadi normal.
Sebagai contoh, anak kecil biarlah bermain bola kecil sesuai levelnya tanpa harus dipaksa menjadi profesional sejak dini,.
Perkembangan ini juga terlihat dari hobi, seperti tontonan film yang berubah dari masa kecil ke masa dewasa.
Permainan harus disesuaikan dengan level kognitif agar perkembangan manusia berjalan normal.

3. Teori Belajar Sosial

Permainan berfungsi sebagai media untuk berinteraksi dengan orang lain dan menanamkan norma-norma sosial,.
Pada zaman dahulu, para Wali merancang permainan dan lagu anak-anak yang memiliki makna mendalam, seperti membangun kerja sama, kerukunan, dan kecermatan dalam menghadapi lawan.
Hal ini juga terlihat dalam interaksi sosial saat ini, misalnya saat mahasiswa bermain bola bersama dosen; ada aturan tidak tertulis seperti tetap menjaga adab meski sedang bersaing dalam permainan.

4. Teori Kompensasi

Hari ini, permainan sering kali bergeser menjadi sesuatu yang sangat serius, di mana unsur kesenangan tidak lagi menjadi satu-satunya tujuan,.
Permainan bertransformasi menjadi profesi atau bisnis, seperti pemain sepak bola profesional, penari, atau aktor film,.
Dalam tahap ini, orang mengejar efek lanjutan dari permainan, seperti ekonomi dan reputasi, bahkan terkadang hingga muncul fanatisme yang berlebihan.

Filsafat Permainan: Homo Ludens

Filsuf Belanda, Johan Huizinga, dalam bukunya Homo Ludens, menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang bermain.
Fenomena ini sangat terlihat di era digital saat ini, di mana masyarakat kita menjadi Society of Spectacle atau masyarakat tontonan yang sangat menyukai hiburan dan “pesta” (Homo Festivus).
Manusia cenderung menyukai hura-hura, bahkan bencana atau kecelakaan pun sering kali hanya menjadi tontonan,.

Secara eksistensial, ciri manusia yang utuh terdiri dari tiga pilar utama:

  • Homo Sapiens: Makhluk yang berpikir.
  • Homo Faber: Makhluk yang bekerja.
  • Homo Ludens: Makhluk yang bermain.

Ketiga aspek iniโ€”berpikir, bekerja, dan bermainโ€”harus ada dalam diri manusia agar hidupnya lengkap dan seimbang.
Jika seseorang hanya bermain tanpa bekerja atau berpikir, maka ia belum menjadi manusia yang utuh.

Permainan sebagai Akar Kebudayaan

Huizinga berpendapat bahwa permainan mendahului dan menjiwai kebudayaan,.
Segala produk budaya hasil cipta, rasa, dan karsa manusiaโ€”mulai dari teknologi hingga sistem kelembagaanโ€”selalu mengandung unsur permainan (ludik).
Hal ini terlihat dari adanya “aturan main” dalam segala hal, seperti aturan kuliah, aturan parkir, hingga tata cara berdoa.
Segala bentuk aktivitas budaya kita pada hakikatnya memiliki model permainan yang memiliki aturan tertentu,.
Jadi, bermain bukan berarti tidak serius, melainkan sebuah unsur mendasar yang membentuk cara kita hidup dan berbudaya.

Filosofi Homo Ludens Manusia Bermain

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz

 

Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us