Carilah Akar-akar Ini Maka Dirimu Semakin Cerdas Secara Spiritual
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Membangun Kecerdasan Spiritual dari Akarnya
Membangun kecerdasan spiritual harus dimulai dari akarnya secara perlahan.
Kecerdasan spiritual pada dasarnya adalah potensi dalam diri kita; jika tidak digunakan, maka potensi tersebut tidak akan berguna dan bahkan bisa mati.
Langkah awal untuk mengaktifkannya adalah melalui kemauan dan kesungguhan untuk berefleksi, merenungi hidup, serta memikirkan maknanya.
Tanpa adanya niat dan kesungguhan untuk menyisihkan waktu dalam bermuhasabah, melakukan tadabur, atau tafakur, maka kecerdasan spiritual seseorang akan macet.
Mengejar Momen Pencerahan (Enlightenment)
Ketika kita menjalani hidup secara serius, kita akan menemui momen-momen pencerahan atau momen “Wow”.
Pencerahan ini adalah saat-saat di mana kita menyadari hakikat hidup yang sebenarnya, misalnya menyadari bahwa diri kita hanyalah manusia yang lemah.
Momen seperti ini sangat penting karena membuat proses belajar dan membaca menjadi terasa asyik dan menyenangkan.
Sebaliknya, tanpa pencerahan, belajar akan terasa sulit dan membosankan.
Oleh karena itu, kejarlah momen “Eureka” atau pencerahan tersebut karena itulah yang mengantarkan kita pada pemahaman spiritual yang mendalam.
Kesadaran Ketuhanan
Akar ketiga dari kecerdasan spiritual adalah kesadaran akan hubungan kita dengan Tuhan.
Banyak peristiwa dalam hidup yang sulit kita maknai, seperti mengapa kerja keras tidak selalu membuahkan kesuksesan, kecuali jika kita menghubungkannya dengan Tuhan.
Dengan melibatkan Tuhan dalam setiap peristiwa, kita akan terhindar dari sifat sombong saat mendapatkan anugerah dan tidak akan mudah putus asa saat menghadapi kesulitan.
Orang yang kurang cerdas secara spiritual cenderung hanya mengandalkan perhitungan dirinya sendiri dan lupa bahwa ada peran Tuhan di dalamnya.
Pengalaman dan Kebiasaan Pikiran (Habit of Mind)
Kecerdasan spiritual juga mengakar pada pengalaman yang kemudian membentuk kepekaan atau kebiasaan pikiran (habit of mind).
Pengalaman spiritual ini bisa dimulai sejak kecil, seperti dibiasakan untuk beribadah oleh orang tua, yang lama-kelamaan membentuk karakter baik yang mengakar kuat dalam diri.
Selain pengalaman biasa, terdapat dua jenis pengalaman luar biasa yang bisa menumbuhkan kecerdasan spiritual:
- Pengetahuan Intuitif:
Pemahaman yang muncul tiba-tiba tanpa proses belajar biasa (sering disebut sebagai ilmu Laduni). - Pengalaman Traumatik:
Peristiwa yang awalnya menyakitkan, seperti patah hati atau kegagalan, namun membawa dampak positif karena membuat seseorang tersadar akan kekuasaan Tuhan dan kembali ke jalur spiritualitas.
Interaksi dan Kepedulian Sosial
Terakhir, kecerdasan spiritual tercermin dalam interaksi kita dengan sesama.
Seseorang yang cerdas secara spiritual akan merasakan kenikmatan dalam bersedekah, keasyikan dalam berkorban, serta keindahan dalam berbagi.
Sebaliknya, sikap egois dan kurangnya kepedulian terhadap sesama merupakan indikasi kurangnya kecerdasan spiritual.
Sebagai penutup, untuk meningkatkan kecerdasan spiritual, kita harus terus mencari momen-momen pencerahan, menyadari keterhubungan kita dengan Tuhan, memupuk pengalaman spiritual menjadi kebiasaan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Mengejar momen-momen inilah yang menjadi kunci utama agar kita menjadi lebih cerdas secara spiritual.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







