Jatuh Cintalah Dengan Bayanganmu Sendiri | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Hakikat Jiwa: Esensi di Balik Materi
Menurut Plato, hakikat manusia terletak pada jiwanya, sementara tubuh hanyalah manifestasi atau perwujudan dari jiwa tersebut.
Tubuh sering kali tidak bisa dijadikan pedoman karena bisa menipu; misalnya, seseorang bisa saja tersenyum namun sebenarnya ia sedang merasa sinis, atau merengut bukan karena marah melainkan karena sakit gigi.
Oleh karena itu, tubuh hanyalah tanda atau gejala dari aktivitas jiwa.
Jiwa bukanlah sebuah benda yang bisa dipegang, melainkan sebuah aktivitas atau gerak yang menggerakkan dirinya sendiri, yang disebut dengan istilah auto-kyneton,.
Ibarat sebuah mobil, jiwa adalah sopir yang menyetir dirinya sendiri tanpa ada yang menyetir di baliknya.
Segala kompleksitas gerakan internal manusiaโseperti rasa senang, sedih, bingung, atau peningโmerupakan aktivitas dari jiwa.
Dunia Ide: Kesempurnaan dalam Bayangan
Dalam teori “Ide” Plato, segala sesuatu yang bersifat fisik dan duniawi hanyalah sementara dan mudah menipu.
Hal-hal yang sejati justru bersifat non-fisik dan berada di dunia ide. Sebagai contoh, bayangan tentang sosok ideal di kepala sering kali jauh lebih sempurna daripada kenyataan fisiknya,.
Begitu pula dengan konsep abstrak seperti “Indonesia yang makmur” atau “Islam yang rahmatan lil ‘alamin“; secara gagasan atau ide, konsep-konsep tersebut jauh lebih sempurna dibandingkan praktiknya di dunia nyata.
Aktivitas internal jiwa ini terkadang terwujud dalam tubuh, namun sering kali tetap tersimpan di dalam pikiran, seperti saat seseorang memiliki konsep tentang pasangan ideal yang hanya ada dalam bayangannya sendiri.
Bagi para filosof lama dan kaum Sufi, bagian terdalam dari diri inilah yang dianggap paling hakiki dan harus dikejar.
Analogi Kereta Kuda Bersayap
Plato menggambarkan jiwa manusia seperti sebuah kereta kuda bersayap yang dikendalikan oleh seorang kusir (sais).
Kereta ini ditarik oleh dua ekor kuda dengan karakteristik yang berbeda:
- Kuda Hitam (Epithumia):
Melambangkan nafsu-nafsu manusia yang rendah. - Kuda Putih (Thumos):
Melambangkan hasrat, ambisi, dan harga diri. - Kusir (Logostikon):
Melambangkan akal atau rasio yang bertugas mengarahkan kedua kuda tersebut. - Sayap (Eros):
Melambangkan cinta yang mewarnai ketiga unsur jiwa lainnya.
Pentingnya Imajinasi dalam Beragama
Simbolisme kuda bersayap ini menunjukkan bahwa dalam memahami agama dan spiritualitas, manusia tidak hanya membutuhkan akal dan wahyu, tetapi juga imajinasi.
Imajinasi membantu manusia menangkap simbol-simbol gaib seperti surga, neraka, atau peristiwa Isra Mi’raj.
Sebagai contoh, penggambaran Buraq oleh para ulama terdalam sebagai kuda bersayapโbahkan terkadang berwajah manusiaโmerupakan hasil imajinasi untuk menggambarkan sesuatu yang luar biasa dari surga dan mampu bergerak cepat menuju langit,.
Gerak Vertikal Menuju Kebahagiaan
Jiwa manusia secara kodrati memiliki sayap karena ia seharusnya bergerak secara vertikal menuju ranah ketuhanan atau keilahian,.
Jika jiwa hanya terjebak pada hal-hal materi dan nafsu rendah, maka sayap tersebut tidak akan terpakai, dan manusia akan kehilangan jati diri sejatinya.
Kebahagiaan sejati akan tercapai apabila terdapat koordinasi yang baik antara akal (kusir), hasrat (kuda putih), dan nafsu (kuda hitam).
Ketika semua fungsi jiwa ini berjalan optimal dan diwarnai oleh cinta (Eros), maka jiwa akan mampu naik ke atas, menemukan kesejatian dirinya, dan merasakan kebahagiaan.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







