Sabtu, 31 Oktober 2026
Channel Lingkar Filsafat

Jatuh Cintalah Dengan Bayanganmu Sendiri | Ngaji Filsafat

Jatuh Cintalah Dengan Bayanganmu Sendiri | Ngaji Filsafat
Ilustrasi Jatuh Cintalah Dengan Bayanganmu Sendiri | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Hakikat Jiwa: Esensi di Balik Materi

Menurut Plato, hakikat manusia terletak pada jiwanya, sementara tubuh hanyalah manifestasi atau perwujudan dari jiwa tersebut.
Tubuh sering kali tidak bisa dijadikan pedoman karena bisa menipu; misalnya, seseorang bisa saja tersenyum namun sebenarnya ia sedang merasa sinis, atau merengut bukan karena marah melainkan karena sakit gigi.
Oleh karena itu, tubuh hanyalah tanda atau gejala dari aktivitas jiwa.

Jiwa bukanlah sebuah benda yang bisa dipegang, melainkan sebuah aktivitas atau gerak yang menggerakkan dirinya sendiri, yang disebut dengan istilah auto-kyneton,.
Ibarat sebuah mobil, jiwa adalah sopir yang menyetir dirinya sendiri tanpa ada yang menyetir di baliknya.
Segala kompleksitas gerakan internal manusiaโ€”seperti rasa senang, sedih, bingung, atau peningโ€”merupakan aktivitas dari jiwa.

Dunia Ide: Kesempurnaan dalam Bayangan

Dalam teori “Ide” Plato, segala sesuatu yang bersifat fisik dan duniawi hanyalah sementara dan mudah menipu.
Hal-hal yang sejati justru bersifat non-fisik dan berada di dunia ide. Sebagai contoh, bayangan tentang sosok ideal di kepala sering kali jauh lebih sempurna daripada kenyataan fisiknya,.
Begitu pula dengan konsep abstrak seperti “Indonesia yang makmur” atau “Islam yang rahmatan lil ‘alamin“; secara gagasan atau ide, konsep-konsep tersebut jauh lebih sempurna dibandingkan praktiknya di dunia nyata.

Aktivitas internal jiwa ini terkadang terwujud dalam tubuh, namun sering kali tetap tersimpan di dalam pikiran, seperti saat seseorang memiliki konsep tentang pasangan ideal yang hanya ada dalam bayangannya sendiri.
Bagi para filosof lama dan kaum Sufi, bagian terdalam dari diri inilah yang dianggap paling hakiki dan harus dikejar.

Analogi Kereta Kuda Bersayap

Plato menggambarkan jiwa manusia seperti sebuah kereta kuda bersayap yang dikendalikan oleh seorang kusir (sais).
Kereta ini ditarik oleh dua ekor kuda dengan karakteristik yang berbeda:

  1. Kuda Hitam (Epithumia):
    Melambangkan nafsu-nafsu manusia yang rendah.
  2. Kuda Putih (Thumos):
    Melambangkan hasrat, ambisi, dan harga diri.
  3. Kusir (Logostikon):
    Melambangkan akal atau rasio yang bertugas mengarahkan kedua kuda tersebut.
  4. Sayap (Eros):
    Melambangkan cinta yang mewarnai ketiga unsur jiwa lainnya.

Pentingnya Imajinasi dalam Beragama

Simbolisme kuda bersayap ini menunjukkan bahwa dalam memahami agama dan spiritualitas, manusia tidak hanya membutuhkan akal dan wahyu, tetapi juga imajinasi.
Imajinasi membantu manusia menangkap simbol-simbol gaib seperti surga, neraka, atau peristiwa Isra Mi’raj.
Sebagai contoh, penggambaran Buraq oleh para ulama terdalam sebagai kuda bersayapโ€”bahkan terkadang berwajah manusiaโ€”merupakan hasil imajinasi untuk menggambarkan sesuatu yang luar biasa dari surga dan mampu bergerak cepat menuju langit,.

Gerak Vertikal Menuju Kebahagiaan

Jiwa manusia secara kodrati memiliki sayap karena ia seharusnya bergerak secara vertikal menuju ranah ketuhanan atau keilahian,.
Jika jiwa hanya terjebak pada hal-hal materi dan nafsu rendah, maka sayap tersebut tidak akan terpakai, dan manusia akan kehilangan jati diri sejatinya.

Kebahagiaan sejati akan tercapai apabila terdapat koordinasi yang baik antara akal (kusir), hasrat (kuda putih), dan nafsu (kuda hitam).
Ketika semua fungsi jiwa ini berjalan optimal dan diwarnai oleh cinta (Eros), maka jiwa akan mampu naik ke atas, menemukan kesejatian dirinya, dan merasakan kebahagiaan.

Hakikat Jiwa Menurut Plato

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz

Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis

BAGIKANTombol TikTok / Instagram / YouTube: teks otomatis tersalin & gambar terunduh โ€” tinggal tempel & unggah.WhatsAppXThreadsFacebookLinkedInTikTokInstagramYouTube

Saksikan Video di Bawah Ini:

Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta

Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan? Pura-Pura Tidak Mengenalnya Pura-Pura Tidak Mengenalnya Memberi Makan 100 Keluarga Memberi Makan 100 Keluarga SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA
WA Follow Us