Jika Dirimu Tidak Ingin Jadi Budak, Kontrollah Keinginanmu | Ngaji Filsafat
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Mengontrol Keinginan untuk Mencapai Kebahagiaan
Manusia secara fitrah akan merasa bahagia ketika keinginannya tercapai.
Oleh karena itu, kunci kebahagiaan terletak pada bagaimana kita mengelola keinginan tersebut.
Penting bagi kita untuk merancang keinginan yang berada dalam kendali kita dan bukan sesuatu yang di luar jangkauan, karena menginginkan sesuatu yang mustahil hanya akan berujung pada kekecewaan dan tekanan batin.
Sebagai contoh, jika seseorang sudah berada di semester akhir dan terancam drop out, tidak perlu memaksakan diri untuk mengejar predikat cum laude yang sudah jelas tidak mungkin tercapai; lebih baik fokus pada tujuan yang realistis, yaitu lulus.
Begitu juga dalam hal ibadah atau cita-cita lainnya, jangan menetapkan target yang jauh di luar kemampuan saat ini karena hal itu hanya akan memicu stres.
Prinsip “You Are Nothing in Relation to Me”
Untuk menjaga kesehatan mental dan menghindari stres, kita perlu memiliki benteng pertahanan ketika melihat sesuatu yang menarik namun berada di luar jangkauan kita.
Gunakan kalimat: “You are nothing in relation to me” (Kamu tidak ada hubungannya dengan aku).
Ketika melihat orang lain belanja barang mewah di mal atau melihat pasangan yang serasi sementara kita masih sendiri, sadarilah bahwa mereka memiliki dunianya sendiri dan kita memiliki dunia kita sendiri.
Dengan mengakui bahwa kita berada di “frekuensi” yang berbeda, kita akan merasa lebih nyaman, merdeka, dan tidak membuang energi untuk rasa iri atau marah yang sia-sia.
Definisi Kebebasan Sejati
Kebebasan sejati adalah ketika seseorang menginginkan apa yang berada dalam kontrolnya sendiri.
Sebaliknya, jika Anda menginginkan sesuatu yang dikendalikan oleh orang lainโseperti jabatan, harta, atau pasangan yang belum waktunyaโmaka secara tidak langsung Anda telah menjadi “budak” dari orang yang mengontrol hal tersebut.
Kebebasan ini juga mencakup penerimaan terhadap takdir. Menginginkan hal-hal yang di luar kuasa Allah, seperti menyesali kelahiran kita sebagai anak orang biasa dan bukan anak presiden, hanya akan membuat kita tidak bebas.
Agama pun mengajarkan untuk bertindak sesuai kemampuan; jika tidak kuat shalat berdiri, maka duduklah, tanpa perlu iri pada mereka yang mampu berdiri.
Kebebasan Pikiran vs. Realitas Tubuh
Satu-satunya ranah di mana manusia bisa bebas murni adalah dalam pikiran (in mind). Di dalam pikiran, Anda bebas membayangkan apa saja tanpa ada sanksi hukum atau halangan.
Namun, ketika keinginan tersebut hendak diwujudkan dalam realitas fisik atau sehari-hari (in body), barulah muncul berbagai batasan, mulai dari aturan sosial, ketersediaan uang, hingga hukum yang berlaku.
Oleh karena itu, rumus untuk menghindari kekecewaan adalah dengan mengatur keinginan agar selaras dengan kondisi nyata.
Meskipun kita bebas berpikir apa pun, dalam mewujudkannya kita akan bertemu dengan banyak hambatan karena corak hidup ini bersifat fatalistik atau sudah ada jalurnya sendiri.
Dengan membatasi keinginan pada apa yang bisa kita kontrol, kita akan menemukan kebebasan dan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang Optimis
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Indonesia Harus Segera Merapat Ke Iran Jika Tidak Ingin Ketinggalan Kereta
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN







