3 Khazanah Mulla Shadra | Ngaji Filsafat
Ukuran teks:
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
Video source, Youtube Channel: Ruang OptimisSintesis Tiga Khazanah Mulla Shadra
Mulla Shadra dikenal sebagai tokoh yang berhasil menggabungkan tiga khazanah intelektual besar, yaitu: Khazanah Mashshaiyyun, Khazanah Isyraqiyun, dan Khazanah Jadaliyyun.- Khazanah Mashshaiyyun (Paripatetik): Tradisi ini menggunakan alat berupa manthiq atau logika. Cara berpikirnya secara umum bersifat deduktif atau induktif, yang sering disebut sebagai filsafat “jalan-jalan”.
- Khazanah Isyraqiyun (Iluminasi): Tradisi ini menggunakan intuisi atau direct experience (pengalaman langsung). Berbeda dengan logika yang cenderung objektif, tradisi Isyraqiyun bersifat subjektif karena merupakan hasil dari pengalaman batin individu.
- Khazanah Jadaliyyun (Dialektika): Ini adalah tradisi dialogis yang biasanya digunakan oleh para teolog (mutakallim) dalam kajian kalam dan fikih. Disebut Jadaliyyun karena di dalamnya penuh dengan perdebatan untuk mencari kebenaran.
Pentingnya Penyatuan Akal, Wahyu, dan Irfan
Selama ini, ketiga dunia tersebut sering dianggap terpisah, namun Mulla Shadra berhasil menyatukan ketiganya karena menganggap semuanya penting dan saling membutuhkan. Seseorang tidak bisa hanya berpegang pada salah satunya saja. Akal (Burhani), visi batin (Irfani), dan Wahyu (Bayani) harus berjalan beriringan.- Wahyu dan Akal: Wahyu tanpa akal tidak akan memiliki gunanya karena untuk membaca dan memahami Wahyu tetap dibutuhkan akal. Sebaliknya, akal tanpa bimbingan Wahyu akan terjebak dalam spekulasi yang berlebihan dan kehilangan dasar pijakan. Oleh karena itu, tidak perlu lagi diperdebatkan mana yang lebih utama antara Wahyu atau Akal, karena keduanya sama-sama penting.Sebagai contoh, ketika kelompok Khawarij memprotes Sayyidina Ali bin Abi Thalib karena menggunakan pikiran dalam mengambil keputusan, Ali mengambil Al-Qur’an dan berkata bahwa Al-Qur’an itu bisu dan membutuhkan manusia (akal) untuk memberikan solusi. Jika akal mati, maka sebagus apa pun Wahyu, ia tidak akan memberikan manfaat.
- Pentingnya Irfan (Visi Batin):
Meskipun Akal dan Wahyu hidup, namun jika seseorang kehilangan visi batin atau Irfan, maka keberagamannya hanya akan menjadi formalitas belaka tanpa penghayatan.
- Shalat tanpa Irfan hanyalah shalat yang tidak khusyuk.
- Puasa tanpa Irfan hanyalah puasa tanpa pengendalian diri.
- Zakat tanpa Irfan kehilangan esensi ketidakterikatan pada harta.
Dampak Ketidakseimbangan
Mulla Shadra berupaya menyatukan ketiga klaster ini karena jika hanya menitikberatkan pada salah satunya, akan muncul ketimpangan:- Jika hanya berpegang pada Wahyu saja, maka akan lahir pemahaman Islam yang skripturalis.
- Jika hanya berpegang pada Akal saja, maka akan lahir pemahaman Islam yang liberal.
- Jika hanya berpegang pada Irfan saja, maka yang lahir adalah kebatinan.
Ngaji Filsafat Bersama DR Fahrudin Faiz
SebelumnyaTolaklah Rasa Sakit, Jangan Biarkan Dia Masuk | Ngaji Filsafat
BerikutnyaApapun Kesulitan Hidupmu Jangan Khawatir | Ngaji Filsafat
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA







