Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Sudah bersyukur belum hari ini? Syukur ini nggak cukup dengan diucapkan oleh lidah lho, tapi juga perlu dilakukan oleh hati dan anggota tubuh.
Makna Syukur Secara Bahasa dan Agama
Kita akan berbicara tentang syukur. Secara bahasa, makna syukur berkisar pada pujian atas kebaikan, atau menampakkan sesuatu hingga terlihat gemuk atau subur.
Ibarat tumbuhan yang tumbuh subur walau hanya dengan sedikit air, atau binatang yang terlihat gemuk walau hanya dengan sedikit umpan.
Dalam konteks agama, syukur dilakukan dengan tiga hal: hati, lidah, dan anggota tubuh.
- Syukur dengan Hati:
Adalah merasakan sukacita yang mendalam atas apa pun yang diterima, betapa pun kecilnya nikmat tersebut.
Bahkan, syukur dengan hati berarti tetap bisa menerima keadaan yang sedih dan menganggapnya sebagai sesuatu yang banyak, sebagaimana tumbuhan dan binatang yang tetap tumbuh meski asupannya sedikit. - Syukur dengan Lidah:
Adalah mengucapkan kalimat-kalimat yang mengandung pengakuan akan kebaikan Allah.
Utamanya adalah mengucap “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah).
Kita harus menyadari bahwa nikmat apa pun yang kita rasakan—meskipun datangnya melalui perantara manusia—pada hakikatnya berasal dari Allah.
Sebab, tidak ada seorang pun yang dapat memberi kebaikan kecuali atas izin dan anugerah-Nya.
Perlu dicatat bahwa pujian yang tulus hanya wajar diberikan jika subjek yang dipuji melakukan kebaikan secara sadar, tanpa paksaan, dan atas pilihannya sendiri, sebagaimana Allah saat memberikan anugerah-Nya. - Syukur dengan Anggota Tubuh:
Tercermin dalam amal perbuatan yang memiliki dua bentuk utama:- Menggunakan sesuatu sesuai tujuan penciptaannya:
Allah tidak menciptakan sesuatu tanpa tujuan. Manusia pun saat memberi sesuatu mengharapkan pemberiannya digunakan pada tempatnya.
Sebagai contoh, Allah menciptakan laut agar manusia bisa berlayar serta mengambil ikan dan mutiara di dalamnya.
Mensyukuri laut berarti dengan membuat kapal untuk berlayar dan memancing.
Contoh sederhana lainnya: menggunakan topi di kepala, bukan untuk menggosok sepatu.
Mensyukuri barang yang rusak adalah dengan memperbaikinya agar kembali berfungsi sesuai tujuannya. Pakaian yang sudah sempit hendaknya diberikan kepada orang lain agar tetap bisa dipakai. - Menampakkan apa yang terpendam:
Syukur berarti mengolah dan menampakkan ke permukaan apa yang tersembunyi, seperti mengolah kekayaan perut bumi.
- Menggunakan sesuatu sesuai tujuan penciptaannya:
Syukur vs Kufur
Kata “syukur” yang berarti “penampakan” berlawanan dengan kata “kufur” yang berarti “penutupan”.
Seseorang yang bersikap kikir sesungguhnya sedang melakukan kekufuran karena ia menutup-nutupi apa yang dimilikinya, baik melalui ucapan maupun perbuatan.
Dalam hal ini, Allah berfirman: “Lainsakartum la azidannakum wala in kafartum Inna adzabi lasyadid” (Jika kamu bersyukur, pasti akan Ku-tambah nikmat-Ku untukmu; dan jika kamu kufur/kikir, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih).
Menampakkan nikmat Tuhan bisa dilakukan dengan cara memberi, setidaknya sebagian kecil dari apa yang kita miliki kepada pihak lain.
Hakikat dan Teladan Bersyukur
Kita tidak harus selalu “melihat ke bawah” atau membandingkan diri dengan orang yang lebih buruk baru bisa bersyukur.
Sesedikit apa pun yang kita rasakan seharusnya sudah cukup menjadi “jangkar” untuk bersyukur.
Nasihat “lihatlah ke bawah” biasanya ditujukan kepada mereka yang belum menyadari nikmat Allah agar mereka tersadar.
Seorang Sufi pernah ditanya tentang makna syukur.
Jika kebanyakan orang menjawab bahwa syukur adalah memuji Allah saat mendapat nikmat dan bersabar saat tidak mendapatkannya, sang Sufi memiliki pandangan yang lebih tinggi: “Bagi kami, jika kami mendapat nikmat, kami mendahulukan orang lain di atas diri kami. Dan bila kami terkena musibah, kami tetap bersyukur karena tidak sedetik pun kami luput dari nikmat Allah”.
Segala yang bersumber dari Allah adalah baik.
Anas bin Malik menceritakan bahwa saat turun ayat, “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)” (QS. At-Takathur: 8), seorang yang sangat miskin bertanya kepada Nabi SAW apakah ia juga memiliki nikmat yang akan dipertanggungjawabkan.
Nabi menjawab: “Iya, naungan rumput (tempat berteduh) dan air sejuk yang engkau minum, itu semua adalah nikmat”.
Demikianlah, tidak ada seorang pun dalam keadaan apa pun yang luput dari nikmat Allah.
Setiap jengkal tanah, setiap embusan udara, dan setiap tetes hujan adalah nikmat yang perlu disyukuri.
Betapa pun kerasnya kita berusaha bersyukur, pujian kita tidak akan pernah bisa mencapai puncak keagungan-Nya.
Subhanaka la nuhshi tsana’an ‘alaika, Anta kama atsnaita ‘ala nafsik. Falakal hamdu hatta tardha, walakal hamdu ba’dar ridha.
(Maha Suci Engkau, kami tidak mampu menghitung pujian untuk-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.
Bagi-Mu segala puji hingga Engkau ridha, dan bagi-Mu segala puji setelah keridhaan).

Bersama KH M. Quraish Shihab
Sambil diresapi resapi ilmunya, boleh dong di-subscribe, like, dan share ke orang-orang terdekat kamu. Insya Allah video ini akan memberikan manfaat bagi yang menontonnya.
#CahayauntukIndonesia
————————————————————————————————————————————————————————
Follow media sosial Cahaya untuk Indonesia di:
Twitter: https://twitter.com/cahayauntukindo
Instagram: https://www.instagram.com/cahayauntukindonesia
Facebook: https://www.facebook.com/cahayauntukindo

