Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali muhammad
Ketika Orang Tua Bisa Menjadi “Durhaka” kepada Anaknya
Sering kali sebagai anak, muncul pikiran, “Ya Allah, orang tuaku kok jahat sekali, ya?”
Namun, begitu pikiran itu muncul, kita biasanya langsung beristighfar karena takut digolongkan sebagai anak yang durhaka.
Padahal, pada kenyataannya, ada sebagian orang tua yang memang bersikap tidak baik, terutama dalam hal memaksakan kehendak.
Banyak orang tua yang memaksakan ego dan cita-cita mereka yang tidak kesampaian kepada anaknya.
Sejak bayi, anak dipakaikan baju yang dianggap bagus oleh orang tua, bukan yang nyaman bagi si bayi.
Saat sekolah hingga kuliah, jurusan dan kampusnya ditentukan oleh orang tua. Bahkan urusan pekerjaan dan pasangan hidup pun sering kali diatur sepenuhnya oleh orang tua.
Akibatnya, jati diri anak nyaris tidak ada; mereka tumbuh di atas impian dan paksaan orang tua, bukan berdasarkan potensi diri mereka sendiri.
Hak Anak dan Tanggung Jawab Orang Tua
Dalam budaya kita, kita sangat akrab dengan istilah birrul walidaini (berbakti kepada orang tua) dan kisah Malin Kundang yang dikutuk karena durhaka.
Namun, apakah ada orang tua yang durhaka kepada anaknya? Kisah di zaman Khalifah Umar bin Khattab memberikan jawabannya.
Seorang anak mengadu kepada Umar tentang perlakuan buruk ayahnya.
Umar kemudian menjelaskan bahwa sebagaimana anak bisa durhaka karena tidak memenuhi kewajiban kepada orang tua, orang tua pun bisa durhaka jika tidak menunaikan hak anaknya.
Hak-hak tersebut meliputi:
- Dijaga sejak dalam kandungan.
- Diberikan nama yang baik.
- Mendapatkan pendidikan, guru, dan sekolah yang baik.
- Mengenal agama dengan benar—bukan sekadar dipaksa shalat atau puasa, tapi dipahamkan maknanya.
Jika orang tua tidak mengajarkan agama atau Al-Qur’an kepada anaknya, maka orang tua tersebut akan menanggung dosa si anak yang tidak paham tersebut. Inilah yang disebut sebagai orang tua yang durhaka.
Mendidik Sesuai Zaman
Penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa anak-anak mereka hidup di zaman yang berbeda.
Sayyidina Ali pernah berpesan agar mendidik anak sesuai zamannya, bukan zaman orang tuanya.
Misalnya, memaksakan anak menjadi PNS hanya karena dulu pekerjaan itu dianggap paling menjanjikan, padahal di zaman sekarang pilihan karier sudah sangat luas dan mungkin tidak sesuai dengan passion si anak.
Tugas orang tua bukanlah memaksa, melainkan membimbing dan memagari.
Biarkan anak menemukan potensinya agar mereka bisa menjalaninya dengan rasa syukur kepada Tuhan. Fokusnya adalah membangun kesadaran, bukan ketertekanan.
Di era digital sekarang, orang tua tidak mungkin bisa mengontrol anak secara fisik selama 24 jam karena dunia (melalui gadget) sudah masuk hingga ke dalam kamar mereka.
Maka, pola asuh yang tepat adalah membangun kedaulatan batin pada anak—mengajarkan mana yang baik dan buruk beserta konsekuensinya.
Dengan begitu, orang tua telah “menitipkan chip” berupa kesadaran di hati anak, sehingga di mana pun mereka berada, mereka akan tetap menjadi pribadi yang baik.
Menjadi Sahabat bagi Anak
Orang tua harus mampu menjadi apa saja yang dibutuhkan anak: teman, sahabat, kakak, hingga orang tua.
Jika orang tua tidak membuka ruang bagi anak untuk menceritakan kesalahannya tanpa rasa takut, anak akan mencari tempat curhat lain yang mungkin salah, seperti media sosial atau lingkungan yang buruk.
Pesan untuk Para Anak
Terlepas dari betapa sulitnya sikap orang tua, sadarilah bahwa pada dasarnya mereka ingin yang terbaik bagi kita, hanya saja mungkin caranya yang salah.
Kunci untuk menghadapi ini adalah komunikasi. Bangunlah komunikasi yang tidak hanya bersifat rasional (data dan fakta), tetapi juga menyentuh sisi emosional.
Sampaikan bahwa Anda ingin memilih jalan tertentu karena itu membuat Anda bahagia, bukan sekadar untuk berdebat.
Tetaplah berbuat baik kepada orang tua, seburuk apa pun perlakuan mereka atau bahkan jika mereka berbeda keyakinan, karena itu adalah perintah Allah.
Dengan tetap bersikap baik, Allah akan turun tangan untuk melembutkan hati mereka.
Terakhir, tunjukkanlah bahwa Anda telah dewasa dan mampu bertanggung jawab atas pilihan Anda, sehingga kepercayaan mereka pun akan tumbuh.

Sambil diresapi resapi ilmunya, boleh dong di-subscribe, like, dan share ke orang-orang terdekat kamu. Insya Allah video ini akan memberikan manfaat bagi yang menontonnya.
#CahayauntukIndonesia #HabibHuseinJafar
————————————————————————————————————————————————————————
Follow media sosial Cahaya untuk Indonesia di:
Twitter: https://twitter.com/cahayauntukindo
Instagram: https://www.instagram.com/cahayauntukindonesia
Facebook: https://www.facebook.com/cahayauntukindo

